Lemhanas Studi Stretegis Dalam Negeri di Undana
24/07/2017
article thumbnail

Menjaring Aspirasi Untuk Atasi Persoalan DaerahGUNA menjaring aspirasi masyarakat dan para stakeholders di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengatasi berbagai persoalan yang tengah meilit masy [ ... ]


Tingkatkan Persatuan dan Persaudaraan
24/07/2017
article thumbnail

Mahasiswa PPG Undana Ikut Halal BihalalDalam rangka meningkatkan persatuan dan mempererat persaudaraan, maka sebanyak 72 mahasiswa Program Profesi Guru (PPG) Universitas Nusa Cendana (Undana) angaktan [ ... ]


Artikel Lainnya

Kunjungi Undana dan Beri Kuliah Umum

Akhir Mei lalu, DUTA Besar Uni Eropa (UE), Vincent GUÉREND melakukan kunjungan kerja di Universitas Nusa Cendana (Undana) sekaligus memberikan kuliah umum kepada mahasiswa dan dosen Undana di ruang teater lantai tiga Undana Penfui. Pada kesempatan tersebut, ia menjelaskan, UE merupakan sebuah organisasi antar pemerintah yang terdiri dari 28 negara eropa dengan sekitar 507,4 juta warga yang tinggal di batas wilayah. UE memiliki tiga lembaga utama yaitu: Pertama, Parlemen Eropa, yang mewakili negara UE dan dipilih langsung oleh UE. Kedua, Dewan UE, yang mewakili masing-masing negara anggota dan Ketiga, Komisi Eropa, yang berupaya menegakkan kepentingan UE secara keseluruhan.

Dubes Vincent Guerend mengatakan, Indonesia didorong agar meningkatkan hubugan bilateral dengan UE, khsusnya pada era kepemimpinan Joko Widodo. “Sejak Presiden Jokowi mendapat kunjungan Wakil Presiden Uni Eropa, Federica Mogherini tahun lalu, Indonesia dan UE membahas beberapa isu, termasuk perdagangan dan ekonomi,” ujarnya. Selain itu, Presiden juga mengunjungi Parlemen Eropa Martin Schulz di Brussels, Belgia, juga bertemu tiga presiden Uni Eropa. Perjanjian kerjasama dalam berbagai bidang yang telah disepakati antara Indonesia dan UE tahun 2016 lalu, terdiri dari bidang perdagangan, perubahan iklim, lingkungan, energi, pemerintahan yang baik, pariwisata, pendidikan, sains dan teknologi, serta upaya melawan korupsi, terorisme dan kelompok kejahatan.

Vincent Guerend mengatakan, Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang berupaya menegakan hukum tentang kehutanan, tata kelola dan perdagangan forest law enforcement, governance and trade (FLEGT). Perjanjian kemitraan dan kerjasama (The Partnership and Cooperation Agreement/PCA), juga membuka kesempatan dialogpolitik, keamanan, perdagangan, investasi dan ekonomi sebaik mungkin dalam Penguatan hubungan orang-orang dengan masyarakat melalui program mobilitas, pendidikan dan pertukaran budaya.

Ia menjelaskan, dampak dari Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) atau perjanjian kerjasama ekonomi yang komprehensif, maka kini ada beberapa perusahaan UE yang beroperasi di Indonesia yang memiliki 1,1 juta pekerja di dalamnya. Ia menambahkan, ada sebanyak 9.000 mahasiswa Indonesia yang studi di Eropa. Turis Indonesia di Eropa sebanyak 150 ribu hingga 200 ribu setiap tahun. Dan, turis dari Eropa di Indonesia 1.200.000. “Meski demikian dengan negosiasi melalui CEPA, Indonesia mungkin akan kehilangan sebanyak 20% dari ekspornya ke uni eropa, dan sejumlah besar investasi langsung ke negara lain,” katanya. Ia menambahkan, Indonesia dan UE tela melakukan beberapa dialog, antara lain dialog politik tahunan, hak asasi manusia, keamanan sejak tahun 2016 dan kemaritiman sejak 2017.

Peran delegasi UE, jelasnya, menyajikan dan menjelaskan kebijakan UE, menganalisa dan melaporkan kebijakan dan perkembangan di Indonesia, embangun kemitraan dengan pemerintah, mempromosikan demokrasi, pemerintahan yang baik dan menghargai Hak Asasi Manusia (HAM), memfasilitasi aturan perdagangan dan investasi; mengkoordinasikan dan mendukung negara-negara anggota member di Indonesia; menjalanka program dan tugas pengembangan yang substantive; membangun kesadaran dan meningkatkan pemahaman tentang UE dan mempromosikan hubungan setiap negara.

Upaya kerjasama dengan Indonesia, antara lain, dalam bidang pendidikan adanya dukungan anggaran, pengembangan kapasitas; fokus pada standar reformasi, kualitas dan layanan minimum; operubahan iklim, kehutanan dan lingkungan; bantuan dana kesehtan global, khsusnya penyakit HIV/AIDS, malaria dan TB; proyek dukungan perdagangan; menopang reformasi peradilan serta manajemen keuangan publik.

Ia menjelaskan, di NTT, UE memiliki wilayah di Flores Timur, Sumba, daratan Timor, Sabu dan Rote. “Program nasional di NTT, antara lain kemitraan analitis dan pengembangan kapasitas sebanyak 20 juta Euro Program pengembangan kapasitas standar pelayanan minimal, sebesar 37,3 juta Euro secara nasional; dukungan Uni Eropa terhadap reformasi peradilan di indonesia sebesar 10 juta Euro secara nasional,” jelasnya. Proyek lain di NTT, yakni konsumsi dan produksi tekstil dan tenunan tangan berkelanjutan, pariwisata yang dikelola oleh masyarakat, permodalan kreatif untuk mempercepat pariwisata dan, pemberdayaan ekonomi yang kuat bagi perempuan muda untuk pengembangan rantai nilai ternak inklusif, membangun aliansi lokal untuk proses pengelolaan keuangan publik inklusif yang terbuka yang partisipatif, meningkatkan efisiensi, transparansi dan akuntabilitas di pasaran.

Dalam bidang pendidikan, UE juga memberi kesempatan kepada generasi NTT yang ingin melanjutkan studi di negara-negara UE. Saat ini tersedia beasiswa dan juga universitas negara yang dituju. “Beasiswa yang ditawarkan adalah program Erasmus Mundus Joindt Master Degree (EMJMD), program ini diselenggarakan oleh sebuah konsorsium berbagai negara yang menghasilkan gelar sarjana bersamaan maupun ganda,” jelasnya. “Kedua, program EMJD adalah program doktoral yang diselemnggarakan oleh sebuah konsorsium berbagai negara yang menghasilkan gelar doktoral bersamaan maupun ganda. Dan ketiga, program scholar (dosen) untuk akademisi yang ingin melakukan penelitian dan kegiatan ilmiah di lemaga-lembaga yag turut serta dalam EMJMD untukm ukuran waktu maksimal tiga bulan,” katanya.

Sementara Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik L.Benu M.Si.,Ph.D dalam pengantarnya menyambut baik kehadiran Duta Besar UE untuk Indonesia, Vincent GUÉREND di Undana, kehadiran Kedubes UE di Undana merupakan pertama kalinya. Ia mengatakan, kehadiran tersebut semakin membuka adanya kerjasama dalam bidang pendidikan, terutama dalam pertukaran tenaga pengajar maupun mahasiswa. Ia juga berhrap, kehadiran Kedubes tersebut bisa membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen Undana untuk mencari informasi tentang kesempatan beasiswa kuliah di negara-negara UE. Ia menambahkan, adanya upaya yang telah dilakukan UE di Indonesia, khsusnya di NTT, bisa mensejahterakan amsyarakat. Ia pun berharap agar peran UE, tak hanya fokus pada politik dan pemerintahan, tetapi pada masalah ekonomi dan pendidikan.

Pada kesempatan tersebut, Rektor, Prof. Fred Benu menjelaskan, Undana saat ini telah beralih status menjadi Badan Layanan Umum. Karena itu, Undana tak banyak berharap kepada anggaran pemerintah pusat. Namun, katanya, Undana akan lebih beruya meningkatkan pendapatan sendiri, serta pada saat yang sama, Undana pun meningkatkan pelayanan kepada mahasiswa. Ia menjelaskan, untuk mewujudkan visi Undana menjadi universitas berwawasan global, maka kini Undana menetapkan lahan kering kepulauan sebagai pusat keunggulan. Benu menjelaskan satu-satunya lahan kering kepulauan di dunia hanya ada di NTT. Dengan jumlah mahasiswa yang diperkirakan tahun ini akan menjadi 30 ribu lebih, maka Undana harus bisa mewujudkan visi tersebut dengan memanfaatkan pusat keunggulan yang ada. Ia mengatakan, universitas-universitas asal tiga negara, yaitu Indonesia, Australia dan Timor Leste telah melakukan kerjasama dalam konsorsium 3rd Trilateral University Roundtable Meeting (TURM) guna memberi kontribusi dan mendorong percepatan pembangunan, tidak saja bagi universitas masing-masing, namun bagi percepatan pembangunan di tiga negara tersebut. Karena itu, ia berharap agar kehadiran Dubes UE menjadi momentum yang penting untuk meningkatkan mutu pendidikan guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Turut hadir pada saat itu, beberapa delegasi UE, Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Dr. I Wayan Mudita, Dekan Fakultas Kedokteran Hewan, Dr. drh. Maxs U.E. Sanam, Dekan Fakultas Hukum, Jhon Nome, SH., MH., Dekan Fakultas Sains dan Teknik, Drs. Leo Sianturi, M.Si dan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Dra. Engelina Nabuasa, M.Si. [refl/ovan/ds]

Add comment

Komentar anda sangat penting, oleh karena itu periksa komentar dengan seksama sebelum mengirimkan. Pertahankan toleransi antar suku, ras dan agama.


Security code
Refresh