Leoneto Madeira Doktor ke Dua Undana
15/08/2017
article thumbnail

Dr.Leoneto Madeira Martins, S.Sos.,MAP resmi menjadi orang ke dua yang menyandang gelar doktor yang diluluskan Universitas Nusa Cendana (Undana). Setelah mengikuti ujian terbuka Program Doktor Bidang  [ ... ]


Anggaran Minim, Riset Dosen Menurun
14/08/2017
article thumbnail

Minimnya anggaran untuk riset dan penelitian menjadi alasan utama masih sedikitnya produk penelitian yang dihasilkan para dosen Universitas Nusa Cendana (Undana). Selain itu, tahun 2016 lalu, status L [ ... ]


Artikel Lainnya

Kampus Harus Bersuara dan Melawan Radikalisme dan Intoleransi

KAPOLDA NTT, Irjen Pol Agung Sabar Santoso meminta agar kampus dalam hal ini Civitas Akademika Universitas Nusa Cendana (Undana) harus bersuara dan melawan segala bentuk kegiatan intoleransi dan kelompok intoleransi yang ada di NTT, khususnya dan Indonesia umumnya. Permintaan tersebut disampaikan Kapolda di sela-sela saat acara silahturahmi dan buka puasa bersama dengan Rektor, Prof.Fred Benu bersama jajaran pimpinan universitas, fakultas, lembaga, pascasarjana, biro di lingkungan Undana, Rabu (21/6) lalu di ruang Teater lantai tiga Undana Penfui.

“Jadi radikalisme dan intoleransi menjadi ancaman serius bagi NKRI. Maraknya kultur intoleransi terus mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Masyarakat NTT, terutama di kampus jangan sampai terpancing. Kita mesti menjaga keberagaman di daerah ini. Kita masih merasa bangga, karena di kampus masih menjunjung tinggi sikap toleransi antar umat beragama. Sikap ini perlu dipertahankan oleh warga kampus Undana, agar keberlangsungan hidup umat beragama dapat saling menghargai dan memilihara hak dan kewajiban masing-masing. Secara khusus, saya meminta agar organisasi kemahasiswaan yang berada di dalam kampus Undana harus menciptakan kader-kader yang mempunyai tanggungjawab terhadap bangsa dan negara. Tugas dan tanggungjawab pimpinan Undana yang adalah dosen, agar supaya melahirkan para sarjana baru sebagai pemimpin bangsa masa depan yang peduli dalam usaha bersama merawat persaudaraan, persatuan dan kesatuan,” kata Kapolda, Sabar Santoso.

Kapolda, Agung Sabar Santoso pada kesempatan itu memberikan apresiasi yang tinggi kepada Rektor, jajaran pimpinan, dosen dan mahasiswa, karena baru pertama kali dapat melakukan acara silahturahmi dengan civitas akademika Undana sejak menjabat sebagai Kapolda NTT. Menurutnya, acara silahturahmi ini merupakan momentum yang baik untuk mempercakapkan kebhinekaan pada masyarakat terutama mahasiswa.

“Bangsa ini mempunyai ini mempunyai keanekaragaman dengan perbedaan, tetapi itulah yang menjadi kekuatan kita. Selain pentingnya toleransi, ia juga menghimbau kepada mahasiwa, terutama untuk tidak mendekati narkoba, karena narkoba adalah strategi untuk melemahkan generasi bangsa Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan, kebhinekaan merupakan pra syarat bagi bangunan eksistensi negara. Sementara bagi yang prural, kata dia, kebhinekaan harus terus dijaga karena bangsa Indonesia terbangun karena keragaman tersebut. Kalau ini kemudian dirusak, maka eksistensi bangsa ini menjadi terganggu. Oleh karena itu, semua kelompok harus menghargai kelompok yang lain, baik kelompok ideologi, agama, suku, kebudayaan harus menghargai satu sama lain.

Undana sebagai Kampus Pancasila

Sebelumnya, Rektor Undana, Prof. Fred Benu dalam kata pengatarnya mengatakan, kampus Undana saat ini dikenal sebagai kampus Pancasila. Undana dikenal sebagai kampus Pancasila, karena pada tanggal 13 Mei 2017, dibawah koordinasi Wakil Rektor III, Prof.Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum telah mendeklarasikan kesetiaan kepada Pancila bersama semua kampus yang ada di NTT. Selain deklarasi kesetiaan pada Pancasila, lanjut dia, juga mengangkat sumpah dan janji untuk setia kepada Pancasila.

Pancasila yang lahir dari bumi NTT, kata Benu, diyakini sebagai milik pusaka masyarakat NTT yang merupakan bagian dari NKRI, sehingga Undana wajib berada pada garda terdepan untuk mengawal Pancasila demi menekkan keutuhan NKRI. “Kami semua berjani dalam deklarasi untuk menjujung tinggi kesetiaan kepada Pancasila, UUD ’45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Tidak boleh ada yang merasakan bahwa dialah yang paling berhak dalam bumi yang besar ini, demikian dalam rumah NTT dan rumah kampus Undana ini bahwa dia saja yang anak kandung dan yang lain hanya sekedar menumpang di rumah ini, kenyataannya masih ada saudara kita lain ada yang mayoritas dan minoritas,” ungkapnya.

Di kampus Undana, kata Rektor Fred Benu, juga selalu menekankan pentingnya sikap menjunjung tinggi pluralisme. Sebab kebhinekaan Indonesia sedang digugat melalui perbedaan pendapat berdasarkan sudut pandang masing-masing anak bangsa. Acara silahturahmi diakhiri dengan makan malam bersama. [ds]

Add comment

Komentar anda sangat penting, oleh karena itu periksa komentar dengan seksama sebelum mengirimkan. Pertahankan toleransi antar suku, ras dan agama.


Security code
Refresh