Pesan Perjuangan 3 Pahlawan Nasional Warnai Upacara Bendera 10 November di Undana
10/11/2017
article thumbnail

Jumat 10 November 2017 pukul 07.30, Universitas Nusa Cendana (Undana) memperingati 10 November sebagai hari pahlawan nasional yang ke-72 melalui upacara bendera yang dipimpin langsung oleh Rektor, Pro [ ... ]


Bahas Pembangunan Daerah Tertinggal
01/11/2017
article thumbnail

Bappenas Gelar Seminar Akhir EKPDBadan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia menggelar seminar akhir Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) “Pembangunan Daerah Tertingga [ ... ]


Artikel Lainnya

Mahasiswa Harus Jadi Garda Terdepan Gelorakan Pancasila

Mahasiswa harus menjadi garda paling depan dalam menggelorakan nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pasalnya, kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini dirongrong oleh gerakan intoleransi dan radikalisme. Hal tersebut disampaikan Kapolda NTT, Irjen Pol. Drs. Agung Sabar Santoso, SH, MH ketika menyampaikan materi pada kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tingkat Universitas Nusa Cendana (Undana) Tahun 2017 di Aula Undana Penfui, Kamis (3/8).

Di hadapan 7.544 mahasiswa baru Undana, Kapolda, Agus Santoso menjelaskan banyak hal terkait kondisi bangsa Indonesia. Diantaranya adalah tentang radikalisme yang kian marak di Indonesia. Ia mengemukakan, sejak berdirinya bangsa, para fouding fathers (pendiri bangsa), telah menetapkan Pancasila sebagai Dasar Negara, Falsafah, Ideologi serta pandangan hidup bangsa Indonesia. Selain Pancasila, terdapat tiga pilar lainnya yaitu Undang-Undang 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Karena itu, jika ada dari antara mahasiswa maupun masyarakat yang tidak mengakui adanya empat pilar tersebut, maka sebaiknya ia hidup di luar bangsa Indonesia,” tegasnya.

Faktor penyebab seseorang menjadi radikal, yaitu: Pertama, faktor latar belakang yakni krisis identitas, perasaan di diskriminasi dan ketiadaan ruang diskusi. Kedua, faktor pemicu yakni, adanya kebijakan barat yang tidak memihak kepada bangsa Indonesia, adanya mitos jihad dan hasrat aktivisme, bahwa ketika melakukan kejahatan, maka mendapat keselamatan diakhirat. Ada juga sikap intoleran dan kehadiran pemimpin agama yang menyuarakan kekerasan atau radikalisme. Ketiga adalah faktor kesempatan, dimana seseorang bertemu dengan orang-orang seideologi atau sepemikiran di tempat-tempat tertutup atau di tempat ibadah, melalui medos, institusi akademik (sekolah dan kampus), maupun di dalam penjara.

Ia menjelaskan, dampaak yang ditimbulkan dari aksi terorisme bermacam-macam, mulai dari penculikan, pembunuhan hingga peperangan. “Di negara-negara barat atau Timur Tengah, kita menyaksikan banyak terjadi peperangan. Hal ini tentu mengancam keamanan negara dan eksistensi negara,” sebut Kapolda Sulawesi Tenggara tahun 2015 itu. Padahal, ungkapnya, negara membutuhkan keamanan dan perdamaian agar generasi bangsa bisa bebas mengenyam pendidikan, seperti para mahasiswa. Di NTT, belum terjadi situasi adanya gangguan kelompok radikal. Namnu, tegasnya, bukan berarti pihak kepolisian, masyarakat, pemerintah baik eksekutif, legislatif dan yudikatif hanya tinggal diam. “Kita harus tetap waspada mencegah timbulnya kelompok radikalisme, karena pola perekrutan penyebar ideologI radikal mulai dari tahap diskusi pengajian, khotbah, menonton video bertema radikal atau jihad radikal, memfokuskan diri dengan paham radikal, berikrar setia terhadap kelompok radikal kemudian melakukan teror berdasarkan keyakinan diri terhadap paham radikal,” tandasnya.

Ia mengatakan, terdapat beberapa organisasi radikal di Indonesia, yang diidentifikasi tidak mengakui Pancasila. “Salah satunya adalah Hisbut Tahrir Indonesia (HTI), dan kini pemerintah telah membubarkan organisasi tersebut karena tidak mengakui Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” bebernya. Kendati demikian, katanya, masih ada beberapa organisasi pendukung gerakan radikal Islamic State of Iraq and Syiriah (ISIS), diantaranya adalah Majelis Mujahidin Indonesia Timur, Mujahidin Indonesia Barat, Ring Banten, Jamaah Ansharut Tauhid, Pendukung dan Pembela Daulah Islam, Jemaah Ansari Daulah, Ma’had Ansyarullah dan lainnya.

Oleh karena itu, ia meminta agar mahasiswa dapat memainkan perannya dalam menangkal radikalisme. Peran mahasiswa, jelas Kapolda, Agung Sabar Santoso adalah: Pertama, mahasiswa harus menjadi agen atau pionir dalam mencegah radikalisme. Kedua, mahasiswa dituntut memiliki imunitas dan daya tangkal yang kuat dari pengaruh radikalisme. Ketiga, tanamkan jiwa patriotisme dan kecintaan terhadap NKRI. Keempat, perkaya wawasan dan pemahaman keagamaan yang moderat dan toleran. Kelima, membangun jejaring dengan kumunitas yang damai dengan perbanyak diskusi seminar dan worksop. Keenam, menjadi pelopor dalam memerangi silak intoleransi yang dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa seperti aliansi kebhinekaan untuk kebangsaan NTT yang terdiri dari Brigade Meo, Anshor, Pecalang NTT dan lainnya.

Ia menambahkan, kemajemukan bangsa Indonesia harus dijaga dan dipelihara sebagai modal sosial dan sumber kekayaan bangsa. Bhineka Tunggal Ika, katanya, sebagai doktrin dan kesempatan nasional harus dipertahankan demi kelangsungan hidup bangsa Indonesia dalam menghadapi dinamika perubahan global. Ia juga mengingatkan bahwa menjadi dan mempertahankan NKRI adalah tanggungjawab semua komponen bangsa termasuk mahasiswa. Ia juga tetap meminta mahsiswa agar menjadi garda terdepan dalam menyebarkan pemahaman tentang pentingnya Pancasila dan Kebhinekaan.

Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D pada kesempatan itu meminta agar mahasiswa baru Undana harus mengikuti semua aturan yang diberlakukan di Undana agar dapat menciptakan kegiatan akademik dan non akademik yang aman dan kondusif. Untuk menghindari mahasiswa terjerumus dalam kelompok radikalisme, Undana hingga kini masih menerapkan Mata Kuliah Pancasila. “Walaupun kebanyakan kampus di Indonesia telah menghapus Mata Kuliah Pancasila, tetapi di Undana masih diterapkan, dan, kini kurikulumnya tengah disusun Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Prof.Dr. Simon Sabon Ola,”katanya.

Ia mengatakan, sebagai Perguruan Tinggi Negeri, Undana tidak mendidik mahasiswa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi semata, karena mahasiswa akan merasa bahwa mereka adalah warga global. Sebaliknya, Undana mendidik mahasiswa agar memiliki karakter nasional bangsa Indonesia, agar mahasiswa tetap merasa dan mencintai bangsa Indonesia. Ia meminta mahasiwa tidak terjerumus dalam organisasi-organisasi radikal yang kini tengah masuk ke Indonesia, khsusnuya NTT.

“Jika kedapatan mahasiswa menjadi bagian dari organisasi radikal, maka saya akan mengeluarkan dari kampus. Tidak hanya radikal, tetapi kedapatan tidak disiplin, seperti narkoba, merokok dan ugal-ugalan dengan knalpot racing dan berboncengan tiga, akan saya tindak tegas, yaitu dikeluarkan dari kampus,” tegasnya. Rektor Prof. Fred berang dengan adanya beberapa mahasiswa yang pernah melakukan konfoi menggunakan klalpot racing di kampus, maupun bertindak di kampus seperti Undana merupakan negara sendiri. “Sepertinya negara dalam negara. Masak mahasiswa ketika ditilang lari ke kampus dan seoalah mendapat perlindungan. Karena itu, Senat Undana mulai mengeluarkan edaran untuk hal ini,” tandasnya.

Ia meminta mahsiswa baru agar bisa meninggalkan kebiasaan lama sewatu masih menjadi pelajar di Sekolah Menengah Atas. “Ini kita buat agar bisa memastikan mahasiswa Undana bebas dari ajaran radikalisme,” imbuhnya. Ia mengaku, telah mengajak para Wakil rektor, dosen, pegawai, dan mahasiswa untuk berikrar setia terhadap empat pilar bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1954, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. “Itu perintah Presiden Jokowi melalui Menteristekdikti, sehingga kegiatannya telah kami lakukan dan laporkan kepada Menristekdikti,”kata Benu. Turut hadir pada kesempatan itu para Wakil Rektor, Dekan, Para Perwira Polda NTT, Kepala Biro dan para Pembantu Dekan. [rfl/ovan/ds]

Add comment

Komentar anda sangat penting, oleh karena itu periksa komentar dengan seksama sebelum mengirimkan. Pertahankan toleransi antar suku, ras dan agama.


Security code
Refresh