Tingkatkan Kekayaan Intelektual, Dosen Harus Rajin Meneliti
11/10/2017
article thumbnail

Untuk meningkatkan jumlah kekayaan intelektual (KI), para dosen di perguruan tinggi se-Indonesia harus rajin meneliti. Pasalnya, KI menjadi kunci ketahanan ekonomi sebuah negara maju maupun negera yan [ ... ]


Tingkatkan Daya Saing Bangsa
11/10/2017
article thumbnail

© Mahasiswa Harus Miliki Modal IntelektualGUNA meningkatkan daya saing bangsa, mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) harus miliki modal intelektual, baik itu yang dapat dilihat maupun yang tida [ ... ]


Artikel Lainnya

Tingkatkan Kekayaan Intelektual, Dosen Harus Rajin Meneliti

Untuk meningkatkan jumlah kekayaan intelektual (KI), para dosen di perguruan tinggi se-Indonesia harus rajin meneliti. Pasalnya, KI menjadi kunci ketahanan ekonomi sebuah negara maju maupun negera yang tengah beregerak maju. Hal ini disampaikan Direktur Pengelolaan Intelektual Kemenristekdikti, Dr. Sudjaga ketika memberikan materi tentang ‘Pentingnya Kekayaan Intelektual Bagi Institusi Adademik dan Akademisi’ pada Sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan di Lingkungan Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi di Ruang Aula Lantai Tiga Rektorat Undana Penfui, Selasa (10/10).

Ia memaparkan, Indonesia yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) berada pada posisi 16 dari negara-negara yagn tergabung dalam G-20. Selain memiliki SDA, alasan utama sumber daya KI menjadi kunci ketahanan ekonomi suatu negara maju, karena perputaran perekonomian dunia dikuasai asset harta benda bergerak tak berwujud (intangible assets) dengan total 70 persen,sedangkan harta benda berwujud (tangible assets) sebesar 30 persen. Dr. Sudjaga mengatakan, terdapat 12 faktor penentu daya saing global, dan dua diantaranya yang berhubungan dengan dosen adalah pendidikan tinggi dan pelatihan dan juga inovasi.

Dikatakan, indeks persaingan global Indonesia berada pada peringkat 41. Sementara ranking sub pilar inovasi berada pada urutan 31, sub-pilar kapasitas inovasi berada pada urutan 31, sub-pilar belanja teknologi tinggi pemerintah berada pada urutan 12, dan sub-pilar paten internasional berada pada urutan 99. Kendati demikian, ia mengatakan, Indonesia cukup inovatif, namun inovasinya masih dibeli di luar negeri. Ia menjelaskan, terdapat delapan hak intelektual, yakni hak cipta, merek, indikasi geografis, disain industri, tata letak sirkit terpadu, rahasia dagang, perlindungan varietas tanaman dan paten. Terkait dengan paten, ia mengatakan, kekayaan intelektual dunia didominasi oleh Asia.

Namun demikian, para dosen harus terus meningkatkan paten. Terdapat beberapa program paten, diantaranya adalah penguatan sentra kekayaan intelektual sebanyak 20, pelatihan menulis draft paten sebanyak 400, yang saat ini telah melakukan pendaftaran paten dan meraih kekayaan intelektual yaitu sebanyak 20, dan yang masih menunggu sebanyak 250 orang, fasilitas konsultasi dengan pemeriksa paten sebanyak 100. Ia memaparkan, paten merupakan perlindungan terhadap olah pikir manusia yang berkaitan dengan inovasi, invensi dan teknologi. Paten dikelompokkan menjadi paten sederhana dan paten biasa, dimana paten biasa akan melindungi invensi atas suatu produk, alat, atau proses yang memenuhi kebaruan, langkah inventif dan dapat diterapkan dalam industri. Perlindungan paten sendiri diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 13 tentang Perlindungan Paten.

Sementara Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph. D dalam sambutannya menyambut baik kehadiran tim dari Kemenristekdikti untuk melakukan sosialisasi. Ia juga mendorong para dosen untuk terus melakukan penelitian. Untuk itu, kata dia, para dosen harus berani mengajukan proposal penelitian untuk diseleksi dan selanjutnya mendapat kesempatan meneliti. Dalam rangka mendorong para dosen untuk melakukan penelitian, Undana juga terus melakukan pelatihan terkait dengan penelitian yang melibatkan beberapa uiversitas di Kota Kupang maupun NTT. Sejauh ini, katanya, kerjasama tersebut berjalan baik, dimana para dosen dari berabagai universitas membangun pemahaman yang sama tentang penelitian. Ia juga mengingatkan para dosen agar tak hanya melakukan penelitian tetapi mampu memahami regulasi yang berkaitan dengan penelitian agar penelitian bisa berjalan dengan baik. Hadir pada kesempatan tersebut perwakilan dosen dari beberapa universitas di Kota Kupang, diantaranya Universitas Widya Mandira Kupang, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Universituas Muhammadiyah Kupang dan lainnya. [rfl/ds]

Add comment

Komentar anda sangat penting, oleh karena itu periksa komentar dengan seksama sebelum mengirimkan. Pertahankan toleransi antar suku, ras dan agama.


Security code
Refresh