Lemhanas Studi Stretegis Dalam Negeri di Undana
24/07/2017
article thumbnail

Menjaring Aspirasi Untuk Atasi Persoalan DaerahGUNA menjaring aspirasi masyarakat dan para stakeholders di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengatasi berbagai persoalan yang tengah meilit masy [ ... ]


Tingkatkan Persatuan dan Persaudaraan
24/07/2017
article thumbnail

Mahasiswa PPG Undana Ikut Halal BihalalDalam rangka meningkatkan persatuan dan mempererat persaudaraan, maka sebanyak 72 mahasiswa Program Profesi Guru (PPG) Universitas Nusa Cendana (Undana) angaktan [ ... ]


Artikel Lainnya

Tegakkan Supremasi Hukum di Indonesia

DALAM rangka menegakkan supremasi hukum di Indonesia serta, khsusnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur, maka Komisi Kejaksaan Republik Indonesia melakukan acara Focus Group Discussion dan Penandandatanganan Nota Kesepahaman Antar Komisi Kejaksaan Republik Indonesia dengan Fakultas Hukum Undana di lantai tiga Aston Hotel, Jumat (6/5). Penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tersebut dilakukan oleh kedua pimpinan lembaga, yakni Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph. D dan Sekretaris Komisi Kejaksaan Republik Indonesia, Dr. Barita L.H Simanjuntak, SH, MH.

Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D dalam sambutannya turut mengapresiasi kerjasama tersebut. Menurutnya, dalam setiap minggu Undana diminta pihak kejaksaan untuk menyediakan tenaga ahli. Karena itu, dalam rangka menghadapi status Undana yang baru, yakni Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK BLU), maka semua kerjasama tersebut harus saling menguntungkan. “Pemerintah pusat tidak mau tertawan dengan keterbatasan budget (keuangan, red) sehigga Undana harus mandiri,” katanya. Karena itu, melalui kerjasama tersebut Rektor, Fred Benu memberi sinyal agar bisa menjadi sumber pendapatan bagi Undana melalui Fakultas Hukum.

Kunjungi Undana dan Beri Kuliah Umum

Akhir Mei lalu, DUTA Besar Uni Eropa (UE), Vincent GUÉREND melakukan kunjungan kerja di Universitas Nusa Cendana (Undana) sekaligus memberikan kuliah umum kepada mahasiswa dan dosen Undana di ruang teater lantai tiga Undana Penfui. Pada kesempatan tersebut, ia menjelaskan, UE merupakan sebuah organisasi antar pemerintah yang terdiri dari 28 negara eropa dengan sekitar 507,4 juta warga yang tinggal di batas wilayah. UE memiliki tiga lembaga utama yaitu: Pertama, Parlemen Eropa, yang mewakili negara UE dan dipilih langsung oleh UE. Kedua, Dewan UE, yang mewakili masing-masing negara anggota dan Ketiga, Komisi Eropa, yang berupaya menegakkan kepentingan UE secara keseluruhan.

Dubes Vincent Guerend mengatakan, Indonesia didorong agar meningkatkan hubugan bilateral dengan UE, khsusnya pada era kepemimpinan Joko Widodo. “Sejak Presiden Jokowi mendapat kunjungan Wakil Presiden Uni Eropa, Federica Mogherini tahun lalu, Indonesia dan UE membahas beberapa isu, termasuk perdagangan dan ekonomi,” ujarnya. Selain itu, Presiden juga mengunjungi Parlemen Eropa Martin Schulz di Brussels, Belgia, juga bertemu tiga presiden Uni Eropa. Perjanjian kerjasama dalam berbagai bidang yang telah disepakati antara Indonesia dan UE tahun 2016 lalu, terdiri dari bidang perdagangan, perubahan iklim, lingkungan, energi, pemerintahan yang baik, pariwisata, pendidikan, sains dan teknologi, serta upaya melawan korupsi, terorisme dan kelompok kejahatan.

Setia Terhadap Empat Pilar Kebangsaan

  • Undana Gelar Aneka Lomba

DALAM rangka menunjukkan loyalitas dan kesetiaan terhadap empat pilar kebangsaan; Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar aneka lomba, seperti lomba paduan suara, pidato dan menghafal Pancasila, UUD 195, Proklamasi dan Pancasila untuk pertama kalinya di kampus Undana. Pernyataan tersebut disampaikan Rektor, Prof. Fred Benu, ketika membuka kegiatan tersebut di aula lantai tiga gedung rektorat Undana, akhir Mei lalu.

Ia mengaku, pada bulan lalu, Kemenpolhukam dan Kemenristekdikti memanggil semua Rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se- Indonesia dan menyampaikan bahwa kampus harus menjadi garda terdepan dalam mengawal perjalanan bangsa ini. Karena itu, upaya segelintir kelompok yang mempertanyakan dan menggugat pancasila mesti dibendung. Untuk menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai pancasila, Undana, lanjutnya, masih memberikan mata kuliah Pendidikan Pancasila atau Kewarganegaraan keapda mahasiswa.

Keragaman dan Perbedaan Perlu Ditegakkan

  • Undana Meriahkan Hari Lahir Pancasila dengan Pelepasan Balon Udara

PRESIDEN Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo (Jokowi) menegaskan kepada seluruh komponen bangsa dan negara Indonesia agar menegakkan persatuan, meski berada di tengah keberagaman dan perbedaan. “Harus diingat bahwa kodrat bangsa Indonesia adalah keberagaman. Takdir Tuhan untuk kita adalah keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke adalah keberagaman. Dari Miangas sampai Rote adalah juga keberagaman. Berbagai etnis, bahasa, adat istiadat, agama kepercayaan dan golongan bersatu padu membentuk Indonesia. Itulah ke-bhinneka tunggal ika-an kita,” demikian ditegaskan Presiden Jokowi dalam pidato tertulis yang dibacakan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph.D pada upacara Peringatan Hari Lahirnya Pancasila di pelataran gedung rektorat Undana Penfui, Kamis (31/5), yang dihadiri unsur pimpinan, dosen, pegawai serta mahasiswa Undana.

Presiden Jokowi mengatakan peringatan hari lahir Pancasila tahun 2017 merupakan yang pertama sejak kemerdekaan Indonesia. “Upacara ini meneguhkan komitmen kita agar lebih mendalami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Rektor Titipkan Empat Pilar di Pundak Mahasiswa

  • Saat Melantik Pengurus BEM-BLM Undana

REKTOR Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph. D menitipkan empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, NKRI dan Bhineka Tungal Ika di pundak mahasiswa. Hal ini menyusul adanya dugaan bahwa sejumlah mahasiswa di Indonesia kini turut mendukung upaya penolakan terhadap empat pilar bangsa tersebut.

“Mahasiswa di NTT harus berdiri di garda paling depan, jika ada yang mencoba mempertanyakan bahkan menggugat kehadiran Pancasila dan tiga pilar lainnya. Apalagi beberapa waktu lalu sekitar ribuan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) mendeklarasikan menolak eksistensi Pancasila” kata Benu ketika memberi sambutan pada acara Pelantikan Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Undana 2017 di ruang aula lantai tiga gedung rektorat Undana, Penfui, Jumat (26/5).

Ia menegaskan, Pancasila dilahirkan di Ende, NTT sehingga Pancasila sesungguhnya adalah milik pusaka orang NTT. Karena itu, mahasiswa harus menjaganya bila ada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab mencoba menggugat dasar negara tersebut. Ia menjelaskan, hari-hari ini kampus menjadi sorotan, karena banyak mahasiswa yang kini tidak setia terhadap empat pilar bangsa dan negara. Untuk itu, katanaya, Undana akan tetap mengajarkan mata kuliah Pancasila dan lebih menekankan pada 46 butir-butir Pancasila.

Tanamkan Budaya Anti Korupsi Kepada Mahasiswa

  • PAKU Undana Gelar Seminar Nasional

Dalam upaya menanamkan budaya anti korupsi kepada mahasiswa, khsusnya mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana), Pusat Anti Korupsi (Paku) Undana menggelar seminar nasional bertajuk “Peran Mahasiswa dalam Pemberantasan Korupsi” di ruang aula lantai tiga Undana, Selasa (23/5). Seminar yang dipandu Ketua PAKU, Bill Nope, SH., LLM tersebut menghadirkan tiga pembicara yakni, Deputi Informasi Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Harry Budiarto, Aktivis Anti Korupsi pada Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR), Paul Sinlaeloe dan Direktur Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia, Gabriel Goa.

Deputi Informasi Data, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Harry Budiarto dalam materinya tentang Pemberantasan Korupsi di Indonesia dan Peran Mahasiswa mengatakan upaya pemberantasan korupsi yang diberikan kepada KPK tidak semata-mata merupakan tugas KPK, namun lembaga-lembaga lain seperti Kepolisian Republik Indonesia, Kejaksaan, Pengadilan Tipikor bahkan masyarakat dan mahasiswa.

Indonesia Perlu Industri Hijau

  • Mencegah Kerusakan Lingkungan

GUNA menjaga keberlangsungan serta mencegah kerusakan lingkungan, maka Indonesia memerlukan Industri hijau. Penerapan standar industri hijau di setiap industri diyakini mampu menjaga keberlangsungan lingkungan hidup, mencegah kerusakan lingkungan hidup yang dapat merugikan masyarkat. Demikian sari pendapat dari tiga narasumber, yakni Direktur Perdagangan, Perdindustrian, Investasi dan Kekayaan Intelektual Kemenlu, Tri Purna Jaya, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Lingkungan Hidup, Untung Supadi dan Perwakilan Unedo Country Leader, Haris Fadilah ketika menjadi pembicara pada Seminar dan Jaring Masukan Daerah tentang “Peningkatan Potensi Kerjasama Indonesia-Unedo Melalui Industri Hijau” yang digelar di ruang teater lantai tiga Gedung Rektorat Undana, Senin (22/5).

Tri Purnajaya dalam materinya tentang Kerjasama Indonesia-Unido melalui industri hijau mengatakan sejak Indonesia menjadi anggota Unedo pada 21 Januari 1980, hingga saat ini, UNEDO tercatat telah melaksanakan lebih dari 90 proyek kerjasama Indonesia dengan nilai lebih dari USD 95 juta. Ia menjelaskan, program Unedo Country untuk Indonesia pada tahun 2016-2020 terdiri dari 13 proyek kerjasama bernilai USD 40 juta, diantaranya mengurangi kemiskinan, memnyediakan energi listrik untuk masyarakat menengah ke bawah, meningkatkan lingkungan dan produksi yang bersih, hubungan dan pengembangan industri yang berkelanjutan.

Kementan-Undana Jalin Kerjasama

BADAN Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Pertanian (Kementan) RI dan Universitas Nusa Cendana (Undana) sepakat menjalin kerjasama di bidang pertanian, khsusnya pengembangan teknologi dan inovasi terhadap tanaman pangan, seperti sorgum, jeruk maupun biopestisida agar dikembangkan secara massal. Kerjasama tersebut ditandai dengan pendandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) oleh kedua belah pihak masing-masing diwakuli Dr. Muhammad Sahin (Kepala Badan Litbang Kementan RI) dan Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D.

Pada kesempatan tersebut Dr. Muhammad Sahin mengatakan penandatanganan MoU dilakukan kedua pihak karena pengembangan pangan tidak saja dilakukan di lahan basah, tetapi di area lahan kering seperti NTT. Pengembangan pangan tidak saja dilakukan terhadap tanaman padi, tetapi pangan lainnya seperti sorgum,

jeruk dan lainnya kerena menurutnya pangan tak boleh dibeda-bedakan. “Jadi bagi saya tidak ada pangan alternatif. Jika kita mengatakan pangan alternatif, maka ada pangan yang paling superior dan ada yang tidak, padahal semuanya bisa dikonsumsi,” katanya. Untuk itu, ia mengaku sebelumnuya telah ke Flores Timur guna memantau lokasi pengembangan sorgum. “Di Flores Timur, dari 1.000 hektar yang disediakan, sudah sekitar 772 hektar sorgum telah dibudidayakan,” katanya.

Page 3 of 8