PaKu Undana Gelar Aksi Tolak Angket KPK
19/09/2017
article thumbnail

MENYIKAPI persoalan yang dirasakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhir-akhir ini, Pusat Anti Korupsi (PaKU) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar aksi tolak hak angket Dewan Perwakilan Raky [ ... ]


MPR RI Lakukan Kajian Pendidikan dan Kebudayaan
15/09/2017
article thumbnail

Makalah Dosen Undana akan DibukukanDalam rangka melakukan kajian terhadap masalah pendidikan dan kebudayaan di Indonesia, khsusnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Lembaga Pengkajian MPR RI bekerja [ ... ]


Artikel Lainnya

Empat Dosen Undana Siap Bersaing

© Dalam Pemilihan Rektor Undana Periode 2017-2021


Tanggal 22 Agustus kemarin, Senat Universitas Nusa Cendana (Undana), secara resmi menetapkan empat orang dosen Undana menjadi bakal calon (Balon) Rektor Undana yang telah siap bersaing. Empat balon tersebut adalah Dr.Melkisedek N.B.C. Neolaka,M.Si, Prof.Ir.Fredrik L. Benu,M.Si (Petahana), Dr.Drs.Pius Bumi Kellen,MM dan Dr.Arnold Manu.

Hal itu disampaikan Ketua Panitia Pemilihan Rektor Undana, Prof.Dr.Simon Sabon Ola,M.Hum, kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (23/8/2017 sore. Menurut Simon Ola, penetapan balon rektor Undana sudah sesuai dengan Permenristekdikti Nomor 19 Tahun 2017 yang menjelaskan bahwa balon harus minimal empat orang saat pendaftaran, dan apabila sampai batas waktu pendaftaran belum mencapai empat orang, maka pendaftaran akan diperpanjang. Tapi apabila sudah mencukupi empat orang, maka tidak diperpanjang. “Jadi dalam rapat senat tersebut, telah diverifikasi secara ketat dan lolos secara administrasi dan kualifikasi lainnya, sehingga senat memutuskan keempat balon Rektor Undana semuanya sudah lolos,” katanya.

Buka Peluang Kerjasama dengan Tiga Universitas

  • Guru Besar dan Dosen Undana ‘Refreshing’ Akademik ke Malaysia

Guna membuka peluang kerjasama dengan beberapa universitas di Kawasan ASEAN, lima guru besar dan delapan orang dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) melakukan ‘refreshing’ akademik ke Malaysia sejak 2-9 Agustus 2017 lalu. Guru besar dan dosen yang berkunjung ke negeri Jiran, yaitu Prof. Mien Ratoe Oedjoe, Prof. Jublin Bale Terik, Prof. Henderina Beli, Prof. Jimmy Pello, Prof. Herianus Lalel, Dr. Dodi Darmakusuma, Dr. Antonius Ola, Dr. Jefry Bale, Dr. Lince Mukkun, Dr. Agnes Simamora, dr. Heru Tjahjono, dr. Bobby Koamesah dan drh. Diana Wuri.

Kepala IRO Undana, Prof. Ir. Herianus Lalel kepada media ini, Senin (21/8) menjelaskan tiga universitas yang mereka kunjungi, yakni Iniversiti Putra Malaysia (UPM), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Universiti Sultan Zainal Abidin (UnisZA). Pertemuan yang dilakukan dengan para pimpinan tiga universitas tersebut telah menghasilkan beberapa kesepatan. Berdasarkan laporan perjalanan ke Malaysia, Prof. Heri menyebut, ada delapan kesepakatan yang telah dihasilkan, yaitu: Pertama, didorong untuk melakukan aktivitas ‘Staff Mobiliti’. Dosen Undana yunior dapat mengikuti magang atau pun aktivitas lainnya untuk peningkatan kapasitasnya di UPM, UKM dan UnisZA, demikian juga sebaliknya. Kedua, ‘Student Mobility’ antara Undana dengan UPM, UKM, UnisZA sangat didukung. Mahasiswa Undana dapat mengikuti magang atau pun ‘Credit Transfer di UPM, UKM dan UnisZA.

Menristekdikti: Gotong-royong Bangun Pendidikan

MESKIPUN pencapaian bangsa Indonesia ditandai dengan menurunnya angka kemiskinan, tingkat pengangguran, meningkatnya peluang dan akses terhadap fisik pendidikan, kesehatan dan lainnya. Namun, dibalik pencapaian tersebut, terdapat beragam problem yang menjadi tantangan baik di tingkat lokal, regional maupun global. Karena itu, salah satu cara yang harus dilakukan untuk membangun pendidikan, khsusnya pendidikan tingi adalah dengan cara gotong-royong.

“Mari kita bersama-sama membangun bangsa ini, bergotong-royong, bahu-membahu, bersinergi dan saling melengkapi mewujudkan Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur,” ungkap Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Prof. Mohamad Nasir, Ph.D dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D pada upacara memperingati Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-72 di Lapangan Bola Kampus Undana, Penfui, Kamis (17/8) pagi.

Mahasiswa-Dosen Undana Kenakan Busana Adat

  • Pada Upacara Memperingati Proklamasi RI ke-72

UPACARA bendera detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-72 di Universitas Nusa Cendana (Undana) bisa dibilang unik dan membanggakan. Betapa tidak, sepanjang berdirinya Undana sejak tahun 1962, baru pertama kali diikuti sebanyak 7.376 mahasiswa baru, pegawai maupun dosen di lingkungan Undana dengan mengenakan busana adat dari berbagai etnis di seluruh Indonesia mengikuti upacara bendera. Upacara bendera detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-71 berlangsung meriah, dipimpin langsung oleh Rektor Undana, Prof.Ir. Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D, berlangsung di Lapangan Bola Kampus Undana, Penfui, Kamis (17/8) pagi.

Prof. Fred Benu mengatakan, upacara bendera dengan busana adat ini sengaja ditampilkan, agar menunjukan bahwa bangsa Indonesia ini bisa eksis selama 72 tahun karena adanya keberagaman suku dan budaya. “Kami sengaja hadir dengan pakaian adat memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 tahun, karena kami ingin tunjukkan bahwa bangsa ini bisa berjalan hingga 72 tahun, bahkan bisa lebih dari 1.000 tahun, hanya kalau kita bisa saling menghargai adanya perbedaan diantara kita,” imbuhnya.

Leoneto Madeira Doktor ke Dua Undana

Dr.Leoneto Madeira Martins, S.Sos.,MAP resmi menjadi orang ke dua yang menyandang gelar doktor yang diluluskan Universitas Nusa Cendana (Undana). Setelah mengikuti ujian terbuka Program Doktor Bidang Ilmu Administrasi Publik Program Pascasarjana (PPs) Undana. Promosi Doktor, Selasa (15/8) di Aula Undana, akhirya Leoneto dinyatakan lulus dengan Predikat sangat memuaskan. Sebelumnya, Dr. Acry Deo Datus, MA berhasil mencatatkan namanya sebagai Doktor jebolan perdana Undana tanggal 15 Desember 2016 lalu.

Sidang promosi doktor yang dipimpin Rektor Undana, Prof.Ir. Fredrik L. Benu, M.Si.,Ph.D itu dihadiri dewan penguji, perwakilan guru besar Undana, Universitas Charles Darwin, Universitas Brawijaya Malang dan Universitas 17Agustus maupun penguji dari tim promotor Undana. Hadir juga sekitar 200 orang dosen, mahasiswa dan keluarga doktor Leoneto menyaksikan langsung ujian promosi doktor tersebut. Hadir pula Dekan Fakultas Perikanan, Dr. Lintje Ratoe Oedjoe, Dekan Fakultas Peternakan, Ir. Gustaf Oematan, Dekan FKM, Dra.Engelina Nabuasa, M.Si, Ketua LPM Undana, Dr.Umbu Lily Pekuwali, SH.,M.Hum serta para mahasiswa program PPs Undana.

Anggaran Minim, Riset Dosen Menurun

Minimnya anggaran untuk riset dan penelitian menjadi alasan utama masih sedikitnya produk penelitian yang dihasilkan para dosen Universitas Nusa Cendana (Undana). Selain itu, tahun 2016 lalu, status Lembaga Penelitian (Lemlit) Undana turun status dari Utama menjadi Madya, karena kurangnya hasil penelitian dosen yang dipublikasikan melalui jurnal nasional maupun internasional, ungkap Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D saat menyampaikan materi di Workshop Metodologi Penelitian dan Review Proposal Tahun 2017 di ruang lantai dua Lembaga Penelitian Undana Penfui, Senin (14/8).

“Jadi keterlibatan para dosen Undana dalam penelitian dalam kurun waktu 2017 ini minim berdasarkan proposal yang disetujui untuk didanai dan dosen yang terlibat penelitian turun, disebabkan minimnya anggaran penelitian,” katanya.

Prof. Fred Benu menambahkan, penguatan penelitian merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh perguruan tinggi untuk menggeser kecenderungan kebijakan peningkatan akses ke peningkatan mutu. Pelaksanaan penelitian harus bermutu dan dapat diukur, karena penelitian itu adalah jantung perguruan tinggi.

Menwa Diminta Jadi Teladan Bagi Mahasiswa Undana

Resimen Mahasiswa (Menwa) Mahadana Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ada di Universitas Nusa Cendana (Undana) diminta agar menjadi teladan bagi mahasiswa Undana soal keteraturan, kedisiplinan dan cinta tanah air. Permintaan tersebut disampaikan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Prof.Dr.Simon S.Ola.,M.Hum ketika bertindak sebagai inspektur upacara pada penutupan kegiatan Pendidikan Dasar Milititer Resimen Mahasiswa Mahadana NTT yang digelar di lantai tiga Aula Undana, Senin (14/8).

Prof. Simon mengatakan, saat ini bangsa-bangsa didunia tengah mengalami kemajuan globalisasi, termasuk bangsa Indonesia. “Jika kita tidak bergerak cepat, maka kita akan kalah dengan perkembangan globalisasi yang kian pesat,” ujarnya. Menurut Prof. Simon, jika kita lamban menghadapi globalisasi, maka globalisasi akan seperti pedang bermata dua yang siap menghimpit dan menyusahkan setiap komponen bangsa. Oleh karena itu, ia meminta agar mahasiswa tetap mempertahankan sikap teratur, disiplin dan cinta tanah air.

Mahasiswa Harus Tangkal Paham Radikalisme dan Intoleransi

Mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) diminta agar menangkal paham radikalisme dan intoleransi yang belakangan ini kian merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu, mahasiswa harus memperkuat diri dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Sebab, Pancasila merupakan identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Demikian sari pendapat Dir.Intelkam Polda NTT, Kombes Pol. Agus Priyanto, S.IK dan Pembantu Rektor Bidang Akademik, Prof.Dr.Simon Sabon Ola,M.Hum ketika tampil sebagai narasumber pada seminar Operasi Bina Waspada tahun 2017 dengan tema ‘Peran Pemuda dalam Menangkal Paham Radikal dan Anti-Pancasila Guna Memelihara Kemanan dan Ketertiban di Wilayah NTT’ di Aula Undana Penfui, Jumat (11/8).

Kombes Pol. Agus Priyanto dalam meterinya memaparkan intoleransi merupakan sikap yang tidak menghargai praktek atau pandangan orang lain, termasuk perbedaan agama dan kepercayaan. Radikalisme, kata dia, merupakan aliran yang menginginkan perubahan di bidang sosial, politik agama dengan cara kekerasasan. Dari kegiatan intoleransi dan radikalisme, maka muncul yang disebut dengan terorisme. “Terorisme adalah adanya kelompok yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban secara masal,” paparnya. Faktor yang mempengaruhi adanya radikalisme hingga munculnya terorisme adalah lemahnya pemahaman tentang ideologi Pancasila, pemahaman agama yang sempit, “Semua mengklaim agama paling benar, sehingga negara ini mengggunakan ideologi agama tertentu, juga kurangnya dialog antar umat beragama,” paparnya.

Page 2 of 10