Sejarah Singkat

Universitas Nusa Cendana yang disingkat Undana, adalah  satu-satunya universitas negeri di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berdiri pada tanggal 1 September 1962. Hingga saat ini dan seterusnya berkiprah demi bangsa dan tanah air tercinta  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Undana didirikan oleh Pemerintah Pusat, karena ada dorongan kebutuhan dari tokoh masyarakat dan para pendahulu bangsa di NTT saat itu.

Sejak berdiri sampai dengan sekarang, Undana telah dinakhodai oleh sembilan Rektor yakni :

  1. Mohamad Salim,SH (1962-1967),
  2. Letkol Elias Tari lebih tenar dengan panggilan El Tari (1967-1968)
  3. Prof. Mr.Soetan Mohamad Sjah (1968-1976),
  4. Drs. Urias Bait (1976-1977),
  5. Prof. Frans E.Likadja, SH (1978-1987),
  6. Prof.Dr. Mozes R.Toelihere,M.Sc (1988-1996),
  7. Prof.Dr. August Benu, MS (1996-2005),
  8. Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App.Sc.Ph.D (2005-2013) dan
  9. Prof. Ir. Fredrik Lukas Benu, M.Si.,Ph.D (2013-2017)

Prof. Fred Benu ditetapkan menjadi Rektor Undana periode 2013-2017 menggantikan Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App.Sc.Ph.D pada tanggal 3 Desember 2013. Dengan penetapan ini, berarti Prof. Fredrik Lukas Benu menjadi alumni ketiga yang berhasil menjabat pucuk pimpinan tertinggi yang hingga saat ini masih menjadi satu-satunya universitas negeri di NTT.

Prof. Fred Benu dilantik menjadi Rektor Undana periode 2013-2017 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA di Aula lantai tiga kantor rektorat Undana Penfui. Prof. Fred Benu merupakan rektor ke-9 sejak Undana didirikan pada tahun 1962. Sebelum terpilih menjadi Rektor Undana, ia menjabat sebagai Komisaris Independen Bank NTT, dan juga mantan Ketua Lembaga Penelitian Undana.

Dalam perkembangannya, Undana terus bertumbuh dan hingga saat ini Undana telah melakukan wisuda ke-92 (1 September 2014), telah menghasilkan 45.998 alumni yang menyebar di berbagai kawasan di Indonesia terutama di NTT sendiri dan mengisi lowongan birokrasi hingga 87 persen bahkan mendominasi berbagai eselon di tingkat Provinsi dan di 22 kabupaten/kota di NTT. Namun kiprah Undana di bidang riset masih terbatas karena terbatas dana riset maupun dana pengembangan hasil. Nampaknya riset akan berakhir sebagian besar dalam bentuk laporan penelitian atau publikasi ilmiah dan jarang bermuara pada produk-produk intelektual yang bernilai ekonomi maupun pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara mendalam agar ikut secara lebih signifikan mengangkat bangsa Indonesia ke level yang lebih tinggi dari sisi kemajuan ipteks.