Lemhanas Studi Stretegis Dalam Negeri di Undana
24/07/2017
article thumbnail

Menjaring Aspirasi Untuk Atasi Persoalan DaerahGUNA menjaring aspirasi masyarakat dan para stakeholders di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengatasi berbagai persoalan yang tengah meilit masy [ ... ]


Tingkatkan Persatuan dan Persaudaraan
24/07/2017
article thumbnail

Mahasiswa PPG Undana Ikut Halal BihalalDalam rangka meningkatkan persatuan dan mempererat persaudaraan, maka sebanyak 72 mahasiswa Program Profesi Guru (PPG) Universitas Nusa Cendana (Undana) angaktan [ ... ]


Artikel Lainnya

Kementan-Undana Jalin Kerjasama

BADAN Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Pertanian (Kementan) RI dan Universitas Nusa Cendana (Undana) sepakat menjalin kerjasama di bidang pertanian, khsusnya pengembangan teknologi dan inovasi terhadap tanaman pangan, seperti sorgum, jeruk maupun biopestisida agar dikembangkan secara massal. Kerjasama tersebut ditandai dengan pendandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) oleh kedua belah pihak masing-masing diwakuli Dr. Muhammad Sahin (Kepala Badan Litbang Kementan RI) dan Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D.

Pada kesempatan tersebut Dr. Muhammad Sahin mengatakan penandatanganan MoU dilakukan kedua pihak karena pengembangan pangan tidak saja dilakukan di lahan basah, tetapi di area lahan kering seperti NTT. Pengembangan pangan tidak saja dilakukan terhadap tanaman padi, tetapi pangan lainnya seperti sorgum,

jeruk dan lainnya kerena menurutnya pangan tak boleh dibeda-bedakan. “Jadi bagi saya tidak ada pangan alternatif. Jika kita mengatakan pangan alternatif, maka ada pangan yang paling superior dan ada yang tidak, padahal semuanya bisa dikonsumsi,” katanya. Untuk itu, ia mengaku sebelumnuya telah ke Flores Timur guna memantau lokasi pengembangan sorgum. “Di Flores Timur, dari 1.000 hektar yang disediakan, sudah sekitar 772 hektar sorgum telah dibudidayakan,” katanya.

Menurutnya, pangan lokal yang menjadi keunggulan daerah harus dikembangkan dan dihasilkan dalam jumlah yang banyak. Ia berencana, menjadikan Flores Timur sebagai sentra penghasil sorgum. “Jadi dengan inovasi teknologi maka sorgum akan dioleh menjadi gula cair. Dan itu akan menjadi ole-ole khas Flores Timur bagi siapa saja yang akan berkunjung ke sana,” ujarnya. Karen itu, ia telah menetapkan salah satu desa di Flores Timur sebagai desa industri sorgum. Ia berharap agar pangan-pangan lokal lainnya bisa dikembangkan dan dihasilkan dalam jumlah banyak dengan teknologi dan inovasi serta Sumber Daya Manusia yang dimiliki.

Pada kesempatan itu, Ia menyentil NTT yang dulu dikenal sebagai gudang ternak di Indonesia. Namun, katanya, kini basis ternak itu mulai bergeser ke Indonesia bagian barat. “Jadi pengembangan ternak ini juga soal biomasa yang cukup, seperti ketersediaan air yang memadai,” katanya. Tidak heran bila hewan ternak di NTT mengalami penurunan kualitas dan juga jumlah. Ia mendukung upaya Undana untuk mengembangkan pertanian dan peternakan, salah satu di bidang peternakan misalnya, mengawinsilangkan sapi dengan banten di salah satu balai konservasi. Hal ini katanya, untuk menembalikan kualitas sapi yang lebih baik.

Rektor Undana, Prof. Fred Benu dalam penjelasannya mengatakan, Undana memiliki lahan sebesar 100 hektar. Kini Undana memiliki 24 profesor, 2043 doktor dan sisanya magister. Undana tahun ini akan meningkatkan jumlah mahasiwa menajdi 30 orang. Untuk itu, Undana telah menetapkan Laboratorium Lapangan Terpadu Lahan Kering Kepulauan (LLTLKK) sebagai centre of excellence (pusat unggulan). Ia berharap keunggulan komparatif yang dimiliki Undana bisa menjadi keunggulan kompetitif. Ia mengatakan, kehadiran LLTLKK juga hendak menunjukkan bahwa untuk menhgasilkan pangan tidak selamanya melalui lahan basah, tetapi lahan kering pun bisa menghasilkan pangan.

Meski demikian, Benu mengakui, Undana belum menetapkan desa industri untuk mengembangkan pangan tertentu untuk dikembangkan. Kedepan dengan bantuan Kementan RI, ia berharap hal tersebut bisa terwujud. Pendirian LLTLKK pun, lanjutnya, telah menjadikan Undana ditetapkan sebagai universitas dengan status Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU). Lahan kering kepulauan, lanjut dia, menjadi pusat keunggulan karena hanya ada di NTT, maupun NTB dan sebagian Maluku Selatan.

Karena itu Undana kemudian mengangkat lahan kering kepulauan sebagai pusat keunggulan. Ia berharap pusat keunggulan tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan pangan lokal yang ada di NTT guna bisa menghasilkan dalam mendukung upaya pemerintah dalam penyediaan pangan bagi masyarakat. Usai penandatanganan MoU Rektor, Prof. Fred Benu mengajak rombongan Kementan RI untuk meninjau LLTLKK satu maupun LLTLKK dua yang ada di dalam lahan Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan Undana.

Turut hadir Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. David B.W Pandie, MS, Wakil Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan, Prof. Drs. Mangadas Lumban Gaol, Ph.D, Dekan FKH, Dr. drh. Maxs U. E Sanam, Dekan Fapet Ir. Gustaf Oematan,M.Si, para Pembatu Dekan, dan dosen lainnya. Sementara rombongan dari Kementan RI yang hadir pada saat itu adalah Kepala Balai Besar Litbang Pasca Panen, Prof. Dr. Rinfaheri, Kepala Pusat Litbang Peternakan, Dr Adin Supriyati, Kepala Pusat Litbang Tanaman Pangan, Dr. Andiko Noto Susanto, Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Andi Nur Alam Syah, S.TP., MP dan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Balitbang dan NTT, Ir Amin Pohan. [refl/ovan/ds]