PaKu Undana Gelar Aksi Tolak Angket KPK
19/09/2017
article thumbnail

MENYIKAPI persoalan yang dirasakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhir-akhir ini, Pusat Anti Korupsi (PaKU) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar aksi tolak hak angket Dewan Perwakilan Raky [ ... ]


MPR RI Lakukan Kajian Pendidikan dan Kebudayaan
15/09/2017
article thumbnail

Makalah Dosen Undana akan DibukukanDalam rangka melakukan kajian terhadap masalah pendidikan dan kebudayaan di Indonesia, khsusnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Lembaga Pengkajian MPR RI bekerja [ ... ]


Artikel Lainnya

Indonesia Perlu Industri Hijau

  • Mencegah Kerusakan Lingkungan

GUNA menjaga keberlangsungan serta mencegah kerusakan lingkungan, maka Indonesia memerlukan Industri hijau. Penerapan standar industri hijau di setiap industri diyakini mampu menjaga keberlangsungan lingkungan hidup, mencegah kerusakan lingkungan hidup yang dapat merugikan masyarkat. Demikian sari pendapat dari tiga narasumber, yakni Direktur Perdagangan, Perdindustrian, Investasi dan Kekayaan Intelektual Kemenlu, Tri Purna Jaya, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Lingkungan Hidup, Untung Supadi dan Perwakilan Unedo Country Leader, Haris Fadilah ketika menjadi pembicara pada Seminar dan Jaring Masukan Daerah tentang “Peningkatan Potensi Kerjasama Indonesia-Unedo Melalui Industri Hijau” yang digelar di ruang teater lantai tiga Gedung Rektorat Undana, Senin (22/5).

Tri Purnajaya dalam materinya tentang Kerjasama Indonesia-Unido melalui industri hijau mengatakan sejak Indonesia menjadi anggota Unedo pada 21 Januari 1980, hingga saat ini, UNEDO tercatat telah melaksanakan lebih dari 90 proyek kerjasama Indonesia dengan nilai lebih dari USD 95 juta. Ia menjelaskan, program Unedo Country untuk Indonesia pada tahun 2016-2020 terdiri dari 13 proyek kerjasama bernilai USD 40 juta, diantaranya mengurangi kemiskinan, memnyediakan energi listrik untuk masyarakat menengah ke bawah, meningkatkan lingkungan dan produksi yang bersih, hubungan dan pengembangan industri yang berkelanjutan.

Ia mengatakan, menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), maka Indonesia, khsusnya NTT perlu mengidentifikasi keunggulan atau komuditas utama, mengidentifikasi potensi kerjasama dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan (pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan asosiasi pengusaha). Selanjutnya, katanya, mengidentifikasi pengembagnan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu dan Kawasan Industri Bolik yang berwawasan Lingkungan. “Indonesia dapat mengoptimalkan berbagai skema kerjasama internasional serta keahlian Unedo dalam membuka potensi ekonomi daerah,” katanya.

Kepala Pusat Studi Penelitian dan Pengambangan (Litbang) Industri Hijau dan Lingkungan Hidup, Lintong Sopandi Hutahaean dalam materinya tentang Program Industri Hijau Kerjasama Indonesia-Unedo memaparkan berdasarkan perjanjian paris (Paris Agreemen), pemimpin-pemimpin dunia, termasuk Indonesia telah menyepakati untuk menjaga ambang batas kenaikan suhu bumi dibawah 2°C dan berupaya menekan higga 1,5°C. Sementara komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca pada 20130 adalah 29 persen dengan upaya sendiri, sementara 41 persen degnan bantuan asing.

Berdasarkan Pasal 77-83 Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian mengatakan industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas menggunakan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu meyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Sementara Perwakilan Unedo Country Leader, Haris Fadilah dalam materinya tentang Pelaksanaan Industri Hijau mengungkapkan industri hijau perlu dilakukan agar tidak terjadi kerusakan lingkungan dimana industrit tersebut beroperasi. Ia mengatakan, bila industri yang telah lama berdiri, namun belum menggunakan prinsip hijau, maka perlu dikembangkan menjadi industri hijau yang ramah lingkungan. Sementara, bagi industri yang baru dibangun agar menggunakan prinsip hijau. Hal ini agar dapat mewujudkan penerapan industri hijau dan tidak merusak lingkungan serta merugikan masyarakat. Alasan pentingnya industri hijau, katanya, perusahaan industri akan mampu meningkatkan daya saing dan berkontribusi pada pengembangan berkelanjutan.

“Misalnya, sebuah perusahaan hanya menggunakan teknologi rendah karbon, menghemat bahan baku; bahan penolong, energy dan air, penggunaan energy alternating, penggunaan kemasan yang dapat didaur ulang dan ekonomis, meminimalisasi limbah dan rendahnya emisi CO2, maupun menurunkan biaya operasional,” bebernya. Ia menambahkan, saat ini telah ada 19 standar industri hijau, diantaranaya industri ubin keramik, semen Portland,, tekstil pencelupan, pencapan dan penyempurnaan, industri pupuk tunggal hara makro primer, pengelolahan susu bubuk, karet remah, pengasapan karet, gula Kristal putih, penyamakan kulit, pengawetan kulit, kaca lembaran, kemasan dari kaca, barang lainnya dari kaca, kaca pengaman diperkeras, kaca pengaman dilapisi, baja batangan, baja lembaran dan oleochemicals.

Sementara Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M. Hum dalam sambutannya menyambut baik kehadiran para narasumber untuk melakukan seminar dan kerjasama. Ia mengaku, secara semantik, kata hijau dipahami sebagai sebuah harapan ditengah kegelisahan dan kecemasan. Karena itu, katanya, dengan adanya industri hijau diharapakan agar menjadi fokus dalam pembangunan di era global. Ia menambahkan, pembangunan sebuah industri seyogyanya tidak mengabaikan aspek keselamatan lingkungan. Karena bila lingkugnan tidak dijga, maka dampak kerusakan lingkungan akan dirasakan masyarakat sekitar.

Ia mengungkapkan, dengan adanya pusat keunggulan lahan kering Undana, maka Undana terus membuka diri meningkatkan kerjasama dengan lembaga-lembaga pemerintah maupun non pemerintah agar penggunaan teknologi ramah lingkungan bisa diterapkan di pusat lahan kering Undana. Untuk diketahui, seminar tersebut dilaksanakan atas kerjasama Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indinesia, Unedo dengan Undana. [refl/ovan/ds]