Leoneto Madeira Doktor ke Dua Undana
15/08/2017
article thumbnail

Dr.Leoneto Madeira Martins, S.Sos.,MAP resmi menjadi orang ke dua yang menyandang gelar doktor yang diluluskan Universitas Nusa Cendana (Undana). Setelah mengikuti ujian terbuka Program Doktor Bidang  [ ... ]


Anggaran Minim, Riset Dosen Menurun
14/08/2017
article thumbnail

Minimnya anggaran untuk riset dan penelitian menjadi alasan utama masih sedikitnya produk penelitian yang dihasilkan para dosen Universitas Nusa Cendana (Undana). Selain itu, tahun 2016 lalu, status L [ ... ]


Artikel Lainnya

Lemhanas Studi Stretegis Dalam Negeri di Undana

  • Menjaring Aspirasi Untuk Atasi Persoalan Daerah

GUNA menjaring aspirasi masyarakat dan para stakeholders di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengatasi berbagai persoalan yang tengah meilit masyarakat NTT, diantaranya kemiskinan, pengangguran, human trafficking (perdagangan manusia), maka Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) Republik Indonesia melakukan studi strategis di Kota Kupang sejak tanggal 16 sampai 20 Juli 2017. Selain itu, rombongan Lemhanas melakukan dialog dengan Rektor Undana, Prof.Dr.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D bersama jajaran pimpinan universitas, fakultas, lembaga, pascasarjana untuk mendengar langsung aspirasi dari masyarakat kampus Undana didampingi ketua tim, Prof.Dr. Sudaryono.

Dalam sambutannya Prof. Sudaryono, mengajak Undana agar menjelaskan program strategis Undana serta aspirasi civitas akademika Undana agar menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan di tingkat pusat dalam rangka mengatasi berbagai persoalan, baik di bidang sosial, politik, keamanan, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. “Kehadiran Lemhanas di sini untuk mendengar aspirasi serta mengetahui masalah yang dihadapi Undana maupun NTT karena para anggota Lemhanas ini merupakan calon-calon pemimpin masa depan Indonesia, sehingga masalah tersebut akan dijadikan acuan dalam menyusun kebijakan,” papar Prof. Sudaryono ketika menyampaikan sambutannyan di ruang teater gedung rektorat Undana, Kamis (20/7).

Salah satu isu yang terjadi dalam bidang pendidikan adalah kemiskinan. Oleh karena itu, ia meminta Undana agar menjelaskan kontibusi yang pernah dilakukan untuk kemiskinan bahkan kemajuan daerah dan bangsa Indonesia. “Mengapa orang miskin sulit berkesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak. Seolah-olah pendidikan diperuntukan bagi orang-orang kaya. Dimana kontribusi Undana untuk hal ini?” Tanya Prof. Sudaryono. Ia menambahkan, dunia pendidikan telah mengabaikan kesempatan bagi anak-anak miskin untuk mendapat layanan pendidikan. “Orang miskin memiliki kesempatan yang lebih kecil dari orang kaya. Padahal, mereka itu penyandang struktural,” tegasnya.

Dalam menanggapi hal itu, Rektor Undana, Prof Fred Benu mengemukakan Undana memiliki visi ‘Universitas Berwawasan Global’ pada 2025. Bertolak dari visi tersebut, fokus Undana tahun 2016-2020 adalah menjadi pusat keunggulan global (Centre of Exellence) pengembangan kawasan lahan kering kepulauan. Untuk mewujudkan itu, papar Prof. Benu, Undana pun terus menggalakan berbagai kerjasama maupun konsorsium internasional. Salah satunya adalah adanya konsorsium tiga negara, Indonesia, Australia dan Timor Leste. Konsorsium sekaligus kerjasama tiga negara tersebut melibatkan beberapa universitas di negara tersebut.

Setiap universitas yang terlibat telah mentukan keunggulannya, dimana Undana memilih lahan kering kepulauan. Dengan ditetapkan Undana sebagai pusat lahan kering kepulauan, ia mengajak semua masyarakat dunia datang dan belajar tentang masalah pertanian, peternakan, pendidikan, kesehatan, sosial maupun politik masyarakat lahan kering kepulauan di Undana. Undana, jelasnya, saat ini tengah bergerak pada fase peningkatan kualitas berkelanjutan dan pengutan otonomi daerah yang berlangsung tahun 2016 hingga 2020. Fase ketiga tahun 2021-2025 adalah peningkatan daya saing global berbasis keunggulan lokal. Sementara fase pertama telah dilewati tahun 2011-2015 yaitu transrormasi dan konsolidasi. Terkait dengan kontribusi Undana untuk memberikan kesempatan belajar bagi semua, kata Prof. Benu, Undana telah melakukan penerimaan mahasiswa baru tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain.

“Hal ini dapat terlihat saat pendaftaran mahasiswa baru, mahasiswa boleh mengisi data secara jujur terkait dengan penghasilan orangtua dan calon mahasiswa bebas memilih masuk kategori uang kuliah tunggalyang mana, karena nanti panitia akan melakukan verifikasi, apakah calon mahasiswa itu sudah jujur mengisi data atau tidak,” paparnya. Tak hanya itu, ia pun mengungkapkan hampir 80 persen lulusan Undana telah menduduki jabatan birokrasi di NTT. “Ini menjadi bukti Undana memiliki kontribusi nyata terharap pembangunan di NTT,” tandasnya. Dalam memberi kontribusi bagi bangsa, salah satunya adalah Undana masih mengajarkan mata kuliah pancasila dalam kurikulumnya. Ini agar generasi bangsa memiliki karakter dan jiwa kebangsaan Indonesia.

Ia menjelaskan, kini Undana tengah bergerak maju dengan telah ditetapkannya sebagai Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU), dimana Undana akan lebih mandiri mengelola Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), selain rupiah murni dari APBN dan dana hibah. Kendati demikian, kata Benu, Undana tidak berorientasi keuntungan semata, namun Undana lebih leluasa menciptakan keuntungan sendiri. Dalam kaitan dengan peran pemerintah, Prof. Benu mengatakan, Undana juga telah terlibat guna mengusulkan kepada pemerintah agar menyetujui adanya Rancangan Undanga-Undang (RUU) Percepatan Pembangunan Daerah Kepulauan. Ia mengatakan, andai saja, RUU tersebut telah disahkan jadi UU, maka dampak positifnya adalah dua persen dari total Dana Alokasi Khusus (DAU) harus dianggarkan kepada tujuh derah kepulauan yang ada di Indonesia, salah satunya adalah NTT.

Terkait dengan maraknya trafficking di NTT yang melibatkan perempuan, Prof. Mien Ratoe Oedjoe menjelaskan, Undana telah berkontribusi dalam memberikan ide, gagasan maupun solusi kepada pemerintah pusat melalui penelitian. Dimana, kata dia, beberapa mahasiswa yang melakukan penelitian didorong agar mengangkat judul tentang trafficking maupun kekeransan terhadap perempuan dan anak. “Dari hasil penelitian tersebut telah dikumpulkan dan dikirim kepada pemerintah pusat melalui kementerian terkait untuk bersama-sama mengatasi trafficking maupun kekerasan terhadap perempuan dan anak,” pungkas Ketua Lemlit Undana itu.

Sementara, beberapa rombongan Lemhanas yang berkunjung ke Undana, antara lain Laksda TNI (Purn) Robert Mangindaan, Brigjen TNI (Purn) A. R. Wetik, M.Sc, Prof. Dr. Fashbir Noor Sidin, SE, Kolonel Caj, Drs. I Wayan Mertadana, M. Sc, Sukino, SE, Dr. Rahmawati, SE, MM, Kolonel Inf. Haryanto, S.IP, M,Tr (Han), Kolonel Laut, Bambang Eko Palgunandi, ST, MAP, Kolonel Ros Vichet, Kolonel Arm, Rosdianto, S.Sos, Kolonel, Firman Dahlan, S.Ip, Kolonel Inf, R. Agus Abdurrauf, S.Ip, M.Tr, Kolonel Mar, Yuliandar Tuwahkarya Diandikari, Kolonl Pnb, Amrizal Mansur, M.Si, Marma TNI, Indrianto Wibowo Leksono, M.Si., Kombes Pol, Amur Chandra Juli Buana, SH, Kombes Pol Tjahyono Prawoto, SH,MH, Kombes Pol, Drs. Sungkono, Kombes Pol, Arif Pujianto, SH, Kombes Pol, Apriastini Bakti Bugiansari Kamin, SIK, Michael Gregorius Nainggolan, SH, MH, DEA, Budi Salim, ST, Firdaus Dewilmar, SH, M.Hum, Daden Sukendar, S.Pd.I, M.Ag, Rudy Chandra, SE, DR. Suherman dan Riza Permana. Hadir pada kesempatan tersebut beberapa dekan serta dosen di lingkungan Undana. [rfl/ovan/ds]