Tingkatkan Kekayaan Intelektual, Dosen Harus Rajin Meneliti
11/10/2017
article thumbnail

Untuk meningkatkan jumlah kekayaan intelektual (KI), para dosen di perguruan tinggi se-Indonesia harus rajin meneliti. Pasalnya, KI menjadi kunci ketahanan ekonomi sebuah negara maju maupun negera yan [ ... ]


Tingkatkan Daya Saing Bangsa
11/10/2017
article thumbnail

© Mahasiswa Harus Miliki Modal IntelektualGUNA meningkatkan daya saing bangsa, mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) harus miliki modal intelektual, baik itu yang dapat dilihat maupun yang tida [ ... ]


Artikel Lainnya

Mahasiswa Harus Tangkal Paham Radikalisme dan Intoleransi

Mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) diminta agar menangkal paham radikalisme dan intoleransi yang belakangan ini kian merongrong kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu, mahasiswa harus memperkuat diri dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Sebab, Pancasila merupakan identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Demikian sari pendapat Dir.Intelkam Polda NTT, Kombes Pol. Agus Priyanto, S.IK dan Pembantu Rektor Bidang Akademik, Prof.Dr.Simon Sabon Ola,M.Hum ketika tampil sebagai narasumber pada seminar Operasi Bina Waspada tahun 2017 dengan tema ‘Peran Pemuda dalam Menangkal Paham Radikal dan Anti-Pancasila Guna Memelihara Kemanan dan Ketertiban di Wilayah NTT’ di Aula Undana Penfui, Jumat (11/8).

Kombes Pol. Agus Priyanto dalam meterinya memaparkan intoleransi merupakan sikap yang tidak menghargai praktek atau pandangan orang lain, termasuk perbedaan agama dan kepercayaan. Radikalisme, kata dia, merupakan aliran yang menginginkan perubahan di bidang sosial, politik agama dengan cara kekerasasan. Dari kegiatan intoleransi dan radikalisme, maka muncul yang disebut dengan terorisme. “Terorisme adalah adanya kelompok yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban secara masal,” paparnya. Faktor yang mempengaruhi adanya radikalisme hingga munculnya terorisme adalah lemahnya pemahaman tentang ideologi Pancasila, pemahaman agama yang sempit, “Semua mengklaim agama paling benar, sehingga negara ini mengggunakan ideologi agama tertentu, juga kurangnya dialog antar umat beragama,” paparnya.

“Ada juga dendam politik sehingga seseorang atau kelompok menjadikan agama sebagai motivasi mebenarkan tindakan dan adanya paham anti barat. Tidak semua yang disuguhkan negara barat itu salah, karena kita harus memilah manfaatnya untuk kita, bukan menggunakan semua yang disuguhkan bagi bangsa Indonesia,” ujarnya. Ia menyayangkan, ada organisasi masyarakat (ormas) yang menolak adanya Pancasila. Padahal, Pancasila telah ditetapkan sebagai Dasar Negara dan tidak bisa diganti. “Padahal pada pendiri bangsa ini telah menetapkan Pansila yang didalamnya memberikan kesepmatan kepada masyarakat agar beribadah menurut keyakinannya masing-masing dan seterusnya. Jadi Pancasila tidak bisa diganti dengan ideologi agama apa pun,” tegasnya.

Meskipun NTT merupakan daerah yang kondusif. Namun, Kombes Pol. Agus mengajak agar mahasiswa bisa mendukung pihak kepolisian menangkal paham intoleransi dan radikalisme. “Kita harus waspada adanya infiltrasi oleh kelompok radikal di NTT karena NTT pun sangat rentan terhadap radikalisme dan terorisme. Oleh karena itu, mahasiswa harus memegang teguh dan mengamalkan Pancasila dalam setiap aspek kehidupan,” katanya. Ia pun memaparkan banyak hal terkait gerakan kelompok-kelompok intoleran dan radilkal serta tugas-tugas pihak kepolisian dalam menangkal paham intoleransi, radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Sementara, Prof. Simon Ola dalam paparan materinya mengatakan, saat ini manusia telah masuk dalam arus modernisasi dan globalisasi. Dampaknya, terjadi pada perilaku hedonis (bersenang-senang), gaya hidupnya instan. Menurutnya, kecepatan perubahan itu telah menghentikan budaya masyarakat sebelumnya. Pasalnya, salah satu budaya masyarakat kita yang mengutamakan kohesi sosial, kini semakin memudar. “Apalagi dengan penggunaan handphone beragam aplikasi, maka orang akan lebih berinteraksi dengan handphone masing-masing, tanpa meperdulikan orang disekitarnya,” sebutnya. Tak hanya itu, Guru Besar Bahasa ini menambahkan, pergeseran nilai dan persepsi tentang hidup serta disoerientasi masa depan pun kian terasa.

“Jadi masyarakat khsusnya generasi muda kita akan merasa apatis terhadap pentinganya orientasi masa depan, sehingga jika ada pihak yang menawarkan sesuatu, misalnya membayar dengan harga mahal untuk menciptakan konflik atau melakukan pengeboman, maka hal itu bisa dilakukan tanpa menilai dampak buruk yang akan terjadi di kemudian hari,” papar Prof. Simon. Ia pun menyayangkan adamnya dikotomi dalam sebuah kelompok maupun luar kelompok, misalnya terdapat prasangka sosial (antipati) dan stereotip (ego). “Dimana kelompok suku, bahasa bahkan agama tertentu akan merasa suku, bahasa, maupun agamanya paling benar dari yang dianut orang lain,” sebutnya.

Oleh karena itu, tak jarang terjadi tindakan intoleran, radikalisme hingga terorisme. Tindakan radikalisme, menurutnya, terdapati sisi baik, jika berkaitan dengan perubahan seseorang kearah yang lebih baik, jika sebelumnya seseorang atau kelompok melakukan hal yang salah. Namun, jika radikalisme itu dilakukan secara paksa, maka hal itu tidak dibernarkan. “Misalnya, memaksa semua perempuan harus menggunting rambut, maka hal tersebut akan bertolak belakang dengan kebiasaan yang telah lama dianut,” katanya. Radikalisme yang berkaitan dengan nilai-nilai universal, seperti kejujuran, kebaikan, kesederhanaan, keadilan, kesejahteraan akan sangat lebih baik, ketimbang bertindak radikal utuk menciptakan konflik dan kekerasan. Oleh karena itu, ia meminta agar mahasiswa Undana jangan berhenti berpikir dan berdoa, jika ingin menjauhkan diri dari adanya doktrin-doktrin radikal. Upaya yang dilakukan Undana, katanya, mata kuliah Pancasila hingga kini masih tetap diajarkan kepada mahasiswa Undana. Menariknya, tanggal 12 Agustus ini, mahasiswa dan salah satu dosen akan ke Bogor untuk melakukan kegiatan bertajuk Pancasila bersama Pak Presiden Jokowi. Di akhir materinya, Prof. Simon berharap agar mahasiswa Undana bisa membangkitkan kecintaan terhadap Pancasila, sehingga NKRI bisa tetap eksis pada masa mendatang.

Turut hadir pada kesempatan tersebut Wadir Binmas Polda NTT, Drs. Dominikus Yampormase, MH, Kasub Ditbinmas Polda NTT, AKBP Joseph Mandagi, S.IK dan sejumlah staf polisi di Polda NTT serta sekitar 1000 mahasiswa baru Undana. [rfl/ovan/ds]