Pesan Perjuangan 3 Pahlawan Nasional Warnai Upacara Bendera 10 November di Undana
10/11/2017
article thumbnail

Jumat 10 November 2017 pukul 07.30, Universitas Nusa Cendana (Undana) memperingati 10 November sebagai hari pahlawan nasional yang ke-72 melalui upacara bendera yang dipimpin langsung oleh Rektor, Pro [ ... ]


Bahas Pembangunan Daerah Tertinggal
01/11/2017
article thumbnail

Bappenas Gelar Seminar Akhir EKPDBadan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia menggelar seminar akhir Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) “Pembangunan Daerah Tertingga [ ... ]


Artikel Lainnya

Pesan Perjuangan 3 Pahlawan Nasional Warnai Upacara Bendera 10 November di Undana

Jumat 10 November 2017 pukul 07.30, Universitas Nusa Cendana (Undana) memperingati 10 November sebagai hari pahlawan nasional yang ke-72 melalui upacara bendera yang dipimpin langsung oleh Rektor, Prof.Ir.Fredrik L. Benu,M.Si.,Ph.D, dengan dihadiri para dosen, pegawai dan mahasiswa penerima beasiswa. Acara tersebut, berlangsung di halaman depan gedung rektorat Undana Penfui. Dalam sambutannya, Rektor, Prof. Fred L. Benu mengatakan, minimal dalam dua tahun terakhir ini, seluruh peringatan hari-hari besar nasional, kita selalu lakukan dengan cara upacara bendera bersama tidak saja di Undana, tetapi di seluruh instansi pemerintah yang ada di negeri ini. Itu tidak lain karena kita merasa bahwa kita perlu kembali memupuk jiwa nasionalisme karakter kebangsaan kita, seiring dengan semakin dirasakan turunnya kesadaran nasionalisme kita. Oleh karena itu, kata Fred Benu, pemerintah pusat menganjurkan agar hari-hari besar nasional tersebut dirayakan dengan upcara bersama, tidak lain karena kita ingin kembali meningkatkan kesadaran nasionalisme kita, rasa keindonesiaan kita. Walaupun kegiatan seperti ini dulunya sering kita lakukan, tetapi pada saat itu kita merasa ini hanya suatu rutinitas serimonial belaka.

“Jadi tanpa kita sadari bahwa kegiatan-kegiatan seperti ini sebenarnya turut menderminasi jiwa nasionalisme kita, jiwa kepahlawanan kita, untuk tetap mempertahankan eksistensi bangsa dan negara ini berjalan lebih jauh lagi membangun kesejahteraan bersama,” katanya. Oleh karena itu, katanya, di tahun 2017 ini, paling tidak sudah enam kali Undana melakukan upacara bendera. Mudah-mudahan ini membawa rasa nasionalisme yang kuat dalam diri kita masing-masing, khususnya bagi generasi muda seluruh mahasiswa Undana yang akan meneruskan pembangunan bangsa dan negara ini. Diakhir sambutannya, Rektor Prof. Fred L.Benu membacakan himbauan Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansa, yang intinya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk terus berjuang, bekerja, berkarya menjadi pahlawan bagi diri sendiri, bagi lingkungan, bagi masyarakat maupun pahlawan bagi negeri ini. Hal yang menarik dalam upacara berdera 10 November kemarin di Undana adalah tiga mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Kristin Salan Manek, Hildegardis Damian dan Debby Panggabean diberikan peran membacakan pesan-pesan perjuangan tiga Pahlawan Nasional, Pembukaan UUD,1945 dan pembacaan Doa.

Pesan-pesan perjuangan tiga pahlawan nasional yaitu, Pertama, Pesan Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang “Untuk keamanan dan kesentausaan jiwa, kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan tidak akan terperosok hidupnya, dan tidak akan takut menghadapi cobaan hidup, karena Tuhan akan selalu menuntun dan melimpahkan anugerah yang tidak ternilai harganya” [Disampaikan pada saat Nyi Ageng Serang mendengarkan keluhan keprihatinan para pengikut/rakyat, akibat perlakuan kaum penjajah].Kedua, Pesan Pahlawan Nasional Jenderal Sudirman “Tempat saya yang terbaik adalah ditengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan. Met of zonder, Pemerintah TNI akan berjuang terus” [Disampaikan pada jam-jam terakhir sebelum jatuhnya Yogyakarta dan Jenderal Sudirman dalam keadaan sakit, ketika menjawab pernyataan Presiden yang menasihatinya supaya tetap tinggal di kota untuk dirawat sakitnya].Ketiga, Pesan Pahlawan Nasional, Prof.Moh.Yamin,SH “Cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong, tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul pada akar sejarah bangsa kita sendiri” [Disampaikan pada Kongres II di Jakarta tanggal 27-28 Oktober 1928 yang dihadiri oleh berbagai perkumpulan pemuda dan pelajar, dimana ia menjabat sebagai sekretaris]