logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Kemlu Adakan Sosialisasi IAID di Undana

  • Tingkatkan Mutu Pendidikan

Kantor Urusan Internasional (IRO) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universiras Nusa Cendana (Undana) bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengadakan sosialisasi capaian Indonesia Africa Insfrastructure Dialogue (IAID) 2019. Acara tersebut berlangsung di ruang aula lantai tiga Undana Penfui, Selasa, (5/11/2019), dengan menghadirkan 16 orang tim dari Kemlu, mahasiswa dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) serta Prodi Ekonomi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Undana dan sejumlah peserta dari luar. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D. Turut hadir pada kesempatan itu Plt.Dekan FEB, Ir.I Wayan Mudita,M.Sc.,Ph.D, Dekan Faperta, Dr. Damianus Adar,M.Ec, Dekan FKM, Dr. Apris Adu serta sejumlah pejabat dari Kemlu.

Dalam sambutannya, Rektor, Prof. Fred Benu mengatakan, hingga saat ini Undana memiliki kerjasama yang sudah dijejaki di Australia dan New Zheland, sedangkan salah satu negara yang juga tidak kalah menariknta serta memiliki potensi kerjasama yakni negara Afrika. “Negara selatan seperti Afrika memiliki iklim yang sama seperti di NTT, sehingga punya potensi yang sangat baik untuk pengembangan berikutnya. Sangat banyak, dan didukung pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, maka peluang ini perlu digunakan secara baik,” katanya.

Rektor, Prof. Fred Benu mengatakan, di Australia sendiri sudah 20 orang  yang telah dikirim untuk belajar selama dua bulan di sana. Setelah itu mereka akan kembali sebagai pelaku usaha di bidang pariwisata, dan kemungkinan tahun depan kita akan kirim lagi. Jadi ini merupakan kerjasama Undana dengan Pemprov NTT dan Australia dalam proses perkuliahan sistem dua semester kuliah di Undana yang dibiayai Pemprov NTT, lalu dua semester lagi di Australia dan dibiayai oleh Pemerintah Australia.

“Jadi forum ini tentu sangat membantu masyarakat yang ingin mengenyam Pendidikan, namun terkendala karena biaya, sehingga melalui IAID ini, diharapkan dapat berjalan dengan negara Afrika bisa mengirim mahasiswa untuk studi disana,” ungkapnya.

Sekretaris Ditjen Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Rossy Verona di sela-sela acara sosialisasi tersebut mengungkapkan, acara sosialisasi tersebut dipandang penting karena sesuai arahan Presiden RI mengenai pentingnya upaya membuka akses pasar ke negara-negara mitra dagang non-tradisional.

Satu hal yang sangat penting, kata Rossy, Kemlu dalam menjalankan diplomasi ekonomi telah berhasil menyelenggarakan IAID di Nusa Dua Bali pada tanggal 20-21 Agustus 2019 silam. “Jadi sosialisasi atau kuliah umum ini untuk menindaklanjuti keberhasilan Kemlu mengenai capaian-capaian dari IAID 2019. Selain itu untuk membumikan diplomasi ekonomi Indonesia, menyebarluaskan informasi tentang capaian serta melakukan diskusi terkait strategi penetrasi pasar non-tradisional di Kawasan Asia Pasifik dan Afrika. Indonesia adalah negara besar harus ditunjukkan secara ekonomi kita  harus hadir. Itukan nama baik Indonesia dalam hal mitra pembangunan harus meningkat,” ungkapnya.

Menurutnya, Kemlu telah menyusun beberapa langkah strategis, salah satunya soal penguatan pasar domestik. Langkah selanjutnya yang dijalankan dalam diplomasi ekonomi adalah menguatkan pasar tradisional negara tujuan Afrika dan terobosan pasar non-tradisional. “Jadi diplomasi akan terus bekerja untuk memperkokoh kerjasama ekonomi yang strategis dan saling menguntungkan dengan pasar tradisonal Indonesia. Dan langkah terobosan juga akan dilakukan untuk menembus pasar non-tradisional lebih banyak lagi untuk membantu promosi produk unggulan sesuai standar perdagangan internasional,” katanya.

Indonesia, katanya, telah menembus pasar Afrika melalui penyelenggaraan forum Indonesia-Afrika 2018 dan dialog IAID. Berdasarkan hal tersebut, BUMN dan Swasta Indonesia akan terus melanjutkan kerjasama dengan Afrika, terutama dibidang perdagangan barang dan jasa serta investasi, termasuk pembangunan infrastruktur dan kontruksi di Kawasan Afrika. Promosi ke Afrika akan dilakukan secara sinergis dan sejalan dengan perbaikan iklim usaha diivestasi di dalam negeri sehingga memberikan hasil yang konkrit. Sehingga kedepan NTT pun bisa menjadi bagian diplomasi ekonomi Indonesia di luar negeri. “Jadi Kemlu siap membantu memfasilitasi Pemprov dalam hal penetrasi pasar dan promosi produk unggulan NTT kepada target market melalui berbagai pameran perdagangan melalui perwakilan Indonesia di seluruh Indonesia. Pasar di Kawasan Afrika Pasifik sangat potensial dan terbuka bagi produk unggulan NTT.

Begitu juga di Undana, dalam jangka panjang, Pusat keunggulan (Center of Excellence) Semi Ringkai Kepulauan dan Lahan Kering Kepulauan perlu dipromosi. Dengan pusat keuanggulan tersebut, kata Rossy Verona, Undana  bisa berkompetisi dengan universitas di luar negeri untuk bersaing. Kami melihat Undana memiliki peluang untuk bisa diangkat di Kawasan Afrika Pasifik, sehingga lebih populer dikenal ditingkat dunia, karena memiliki penciri seperti itu pas dengan lahan kering  yang ada di Afrika, sehingga Undana bisa terangkat namanya agar semakin dikenal di tingkat internasional guna tingkatkan mutu pendidikan,” katanya.

Kepala Subdirektorat Afrika IV, Yosi Iskandar menjelaskan capaian IAID merupakan rangkaian dari diplomasi ekonomi pertama kali dilakukan tahun 2018 melalui Indonesia Afrika Forum itu terlihat dibidang infrastructure mencapai di 10 negara itu, ada 5 negara yang sudah berjalan, sehingga kedepannya dan sesuai dengan banyaknya permintaan di Afrika untuk pembangunan infrastruktur, sehingga Indonesia lebih fokus untuk infrastruktur pada tahun 2019 dengan menyelenggarakan Indonesia-Afrika Infrastructure. “Jadi capaian dari IAID cukup meningkat jika dibandingkan sebelumnya. Untuk IAID, jumlah negaranya meningkat drastis yakni dari total 54 negara di Afrika, yang hadir ada 53 negara. Hampir semua negara di Afrika hadir. Dari sisi jumlah peserta,  juga meningkat dari sebelumnya yaitu 550 menjadi 770, itu dari Indonesia maupun di Afrika,” katanya.

Seperti disaksikan media ini, acara sosialisasi tersebut dipandu oleh Rolan Fangidae, terlihat sesi tanya jawab berjalan aktif, baik disampaikan mahasiswa maupun dari dosen kedua fakultas yang hadir. Materi paparan terkait kerja sama di Kawasan Afrika sangat memberikan pencerahan dan penambahan informasi serta pengetahuan kepada kami sebagai mahasiswa, kata mahasiswa semester V FEB, Nelci Pani, Anastasia Baba dan Melantika Aplugi. Sosialisasi IAID diakhiri dengan quiz dari tim Kemlu. [ds]

Comments are closed.