logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

08:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

Universitas Riset Dalam Bidang Lahan Kering Kepulauan

FST Undana Gelar Kuliah Umum

  • Artificial intelligence Akan Jadi Ekonomi Dunia.

Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar kuliah umum dengan tema “Peran Teknologi di Era Digital dalam Kegiatan Industri Hulu Migas”. Dua narasumber yang dihadirkan dalam kuliah umum itu adalah Staf Ahli Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kominfo) Bidang Hukum, Prof. Dr. Drs. Henri Subiakto, S.H., M.Si dan Senior Manajer SKKMigas Jawa, Bali Nusrta, Budy Arianto. Kulah umum tersebut dibuka Dekan FST, Drs. Hery Leo Sianturi, M.Si. Dalam kesempatan itu, pihaknya memberikan apresiasi kepada manajener SKKMigas Jawa,Bali dan Nusra serta dua orang narasumber yang berkenan hadir memberikan kuliah umum kepada mahasiswa FST Undana. Karena itu, ia berharap agar mahasiswa yang mengikuti kuliah umum supaya dapat mengikuti dengan baik momen ini karena sangat bermanfaat bagi kelangsungan perkuliahannya di kampus ini.

Dalam paparan materi yang disampaikan Prof. Henri mengatakan, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang disetor ke kas negara oleh Kominfo dalam setahun mencapai Rp 23 triliun. Ia mengatakan, ekonomi berbasis alam pada masa lalu akan digantikan dengan teknologi digital. Saat ini, kata dia, pada tahun 2007, jumlah pengguna internet sebannyak 20 juta lebih, dan pada tahun 2017 naik sebesar 143,26 juta. Dari total itu, masyarakat dengan level ekonomi menengah ke bawah mengakses internet 74 persen, namun kalangan atas 7,39 persen.

Menurutnya, tidak heran kalau ada penyebaran hoaks dan ujaran kebencian cenderung dilakukan masyarakat kalangan bawah. Dikatakan, kedepan Indonesia banyak orang muda, karena itu bonus demografi harus jadi kekuatan Indonesia.

Salah satunya, kreatifitas orang-orang muda akan menguasai teknologi. Menurutnya, struktur otak generasi masa kini berbeda dengan generasi masa lalu. “Anak-anak sekarang bangun tidur sudah main game, youtube, facebook dll,” ujarnya saat memberi kuliah umum kepada dosen dan mahasiswa FST di Lantai Tiga Gedung Rektorat Unana, Kamis (15/3). Ia mengaku, tak dapat dipungkiri, manusia dan teknologi komunikasi sudah menyatu dan saling interaksi. “Anak-anak sekarang pacaran, berkelahi, nge-bully, cari kerja dan lainnya semua di dunia maya,” sebutnya. Di era sekarang ini, paparnya, semua orang bisa menjadi ‘wartawan’, bahkan orang yang tidak sekolah sekalipun bisa membuat informasi dan menyebarkan di dunia maya.

Ia menyebut, generasi masa kini menganggap smartphone atau handphone (hp) sebagai perpanjangan dari hidup manusia, kini terdapat 4 dari 10 orang di Indonesia aktif di medos dan melepas smartphone atau hp paling lama 7  menit dan rata-rata orang menggunakan hp 8 jam per hari. “Hp menjadi sumber informasi terbesar ketika seorang buronan ditangkap, maka anda lihat hp akan disita setelah buronan itu tertangkap. Sudah pasti semua informasi akan diperoleh di hp,. Hp munculkan transparasi yang luar biasa, ” jelasnya.

Prof. Henri dalam materinya juga menyinggung soal perekonomian dunia. Menurut dia, 20-30 tahun mendatang menjadi era media convergen dan sinergi. Era digital mengharuskan pemikiran dan bisnis-bisnis baru pun berorientasi convergence. Menurutnya media convergence akan menjadi primadona dalam perekonomian.”Jadi nanti Mall di kota-kota besar kemungkinan akan bangkrut, karena semua mulai berpikir  toko online maupun belanja online,” terangnya. Yang paling menarik adalah perekonomian dunia akan dikuasai artificial intelligence (AI). Menurutnya,  AI ke depan akan menjadi ekonomi dunia.

Pada masaa itu, paparnya, aka nada komunikasi antar benda. Kini hal itu perlahan sudah terjadi dan dilakukan negara-negara maju. China, misalnya, ada aplikasi hp yang kita gunakan bisa memberi semua informasi dari benda-benda yang kita pakai. “Misalnya, ada jam tangan yang mengetahui kalori kita, maka akan dikirim ke hp dan hp akan mengeluarkan suara berupa suruhan agar kita segera memeriksa kesehatan kita,” bebernya.  Kendati demikian, kemungkinan terjadi revolusi bidang ekonomu kultur dimana manusia akan mengalami kehancuran karena teknologi.
Meski demikian, keuntungan dari kemajuan teknlogi ini juga dikhawatirkan akan menyisahkan dampak buruk, yakni terjadi liberalism. “Orang akan memilih yang baik, maka di sana ada Injil, Al-Quran, Weda dan beberapa nasihat bijak dari para tokoh, namun jika orang mebih memilih hal-hal negatif, semisal, mengakses gambar porno dan lainnya tentu akan merusak moral generasi bangsa,” paparnya. Untuk itu, sekali lagi, dalam rangka mengatasi adanya penyebaran hoax, ujaran kebencian dan konten berbau pornografi, maka UU ITE akan digunakan untuk menjerat para pelaku. Dia juga mengajak agar, jika dari antara para dosen maupun mahasiswa menemukan orang-orang yang menyebar hoax maupun ujaran kebencian dapat melaporkan ke email aduankonten@kominfo.go.id atau ke http://trustpositif.kominfo.go.id

Sementara, dan Senior Manajer SKKMigas Jawa, Bali Nusrta, Budy dalam materinya mengaku, masyarakat Indonesia saat ini masih tergantung kepada ketersediaan minyak dan gas (migas). Untuk mendapat migas, maka di Indonesia semuanya dilakukan dengan eksplorasi. Namun, kata dia, distribusi sedikit mengalami kesulitan. Saat ini, Indonesia mengalami jumlah penurunan migas, karena sumber migas saat ini sangat sulit. Untuk itu, kata dai, dibutuhkan teknologi, modal dan juga pengetahuan memadai. Ia menjelaskan, dalam UU nomor 22 tahun 2001 tentang Migas, disebutkan, yang menyedikan lapangan kerja adalah pemerintah, sedangkan kontraktor sebagai operator.

Sementara, SKKMigas sebagai pengawas atau pengendali. Proses mendapatkan migas, secara sederhana, paparnya, mulai dari proses eksplorasi, eksploitasi dan lifting (penjualan). Penjualan migas, selanjutnya diolah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan lainya. Ia menyebut, untuk mendapat sumur galian migas dibuthkan 1-4 bulan. Penggalian sumur, jelas Budi, memiliki resiko yang tinggi, yakni soal perizinan, kecelakaan, tidak ditemukan cadangan munya, modal dan sumber daya manusia yang memadai.

Ia meyebut, masa kejayaan migas Indonesia, yakni pada tahun 1977 dan, karena pernah dilakukan ekspor. “Saat itu Indonesia merasa nyaman dengan migas yang tersedia, sehingga tidak membangun infrastruktur terkait migas. Saat ini tentu sangat merugikan Indonesia,” jelasnya. Ia mengatakan, cadangan migas Indonesia turun pada tahun 1955, karena peningkatan konsumsi. Akibat kebutuhan dalam negeri, maka Indonesia kemudian melakukan impor migas pada tahun 2004 untuk mengembangkan perekonomian nasional. Ia mengatakan, kebutuhan domestic tidak bisa ditunda di tengah harga minyak yang terus melambung.[rfl/ds]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *