logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

08:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881082

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

08:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Riset Dalam Bidang Lahan Kering Kepulauan

Dokter Harus Melayani dengan Hati

Perkembangan teknologi dan informasi dewasa ini menuntut dokter tak hanya memiliki profesionalisme dan integritas. Namun, dokter pun harus bisa melayani masyarakat dengan hati.  Hal ini disampaikan Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nusa Cendana (Undana), dr. Bobby R. Koamessah, MMR pada acara Pengambilan Sumpah dan Pelantikan 28 Dokter di Aula Undana, Selasa (17/4).

Ia mengatakan, pengambilan sumpah dokter Undana ke-17 ini merupakan yang terbanyak karena diikuti 28 dokter. “Jadi total dokter yang dihasilkan FK Undana sudah 189 orang, 28 dokter ini adalah dokter ke 161-189,” katanya. Pengambilan sumpah kali ini, menurut dia istimewa, karena diikuti 28 orang dokter. Ia mengapresiasi para dokter Undana  kali ini, karena merupakan yang terbaik pada angkatan mereka. Meskipun FK Undana, masih memiliki beberapa kekurangan. Namun, ia mengaku, ada perjuangan yang luar biasa dari dokter-dokter  terlantik agar tidak kalah dengan mahasiswa FK dari universitas lain.

Salah satu perjuangan yang dilakukan, kata dr. Bobby, adalah saat mereka harus mengikuti Ujian Nasional, dimana disediakan soal sebanyak 200 nomor dan menyelesaikannya dalam waktu 200 menit. Meski demikian, sebelumnya dokter terlantik juga telah mempelajari sekitar 300-400 soal untuk menghadapi ujian tersebut. Hasil ujian menunjukkan 85,7 persen. Memiliki keistimewaan karena, merupakan dokter perdana yang disumpah saat FK Undana memiliki akreditasi B, serta pertama kalinya dr Bobby sebagai Dekan dari orangtua dokter terlantik, karena putranya juga diambil sumpah dan dilantik pada kesempatan berbahagia itu. Moto FK Undana, menurutnya, adalah ‘bergerak cepat meraih prestasi. Untuk itu, dari berbagai kekurangan yang ada, FK Undana terus berbenah dan bergerak demi mengasilkan dokter-dokter berkualitas untuk NTT dan Indonesia, pada umumnya.

Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D, mengawali  sambutannya menyampaikan  terima kasih kepada para orangtua dokter terlantik, karena telah mempercayakan FK Undana menjadi tempat studi para dokter. Dari beberapa orangtua para dokter, ada beberapa orangtua yang merupakan dosen Undana, salah satunya adalah Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. David B.W. Pandie, MS, yang putri sematawayang  turut diambil sumpah dan dilantik menjadi dokter.

Prof. Fred mengatakan, dari berbagai kekurangan, namun optimisme harus ditanam dalam diri para dokter, bukan pesimisme. Ia meminta, kemajuan teknologi dan informasi harus diantisipasi manusia, karena teknologi akan menggantikan peran manusia. Dimana teknologi akan dilengkapi dengan beragam kemampuan, terutama kecerdasan intelektual. Namun ia mengatakan, hanya manusia yang memiliki kecerdasan sosial, emosional dan spiritual, sehingga peran itu tak dapat diganti oleh teknologi.

Begitupun dengan para dokter, ia mengatakan, para dokter lulusan Undana harus memiliki kecerdasan sosial, emosional, spiritual maupun intelektual untuk berjuang di medan perjuangan selanjutnya, yaitu dunia kerja. Meskipun suatu saat, pelayanan konvensional semakin diabaikan, namun dunia pendidikan harus segera mengantisipasi itu. Undana sendiri, kata Fred Benu, telah mengantisipasinya dengan cara menyediakan e-learning dan belajar melalui internet dan lain sebagainya.  “Suatu saat, kampus bisa kosong, karena semua sistim belajar maupun pembayaran dilakukan secara online, untuk itu harus kita antisipasis dari sekarang,” ujarnya.

Sementara perwakilan orangtua dokter terlantik, Ir. Ans Takalapeta dalam sambutannya mengawali dengan menekankan satu kata, ‘akhirnya’. Akhirnya cita-cita jadi dokter tercapai, akhirnya anak-anak sudah raih cita-cita dan akhirnya Undana mempersembahkan lagi 28 dokter untuk NTT, khususnya dan Indonesia pada umumnya. Meski demikian, dibalik dari semua itu, ada perjuangan yang tidak semulus dari kata ‘akhirnya’. Ada proses belajar yang panjang dan  disiplin waktu yang dilakukan para dokter. Tak jarang, para orangtua turut dilibatkan  dan mengawal poses-proses belajar para dokter, karena keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama.

Sebagai Ketua Forum Komunikasi Orangtua Mahasiswa FK, pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan terima kasih kepada Rektor, Prof. Fred Benu dan seluruh jajaran pimpinan Undana yang terus memberi dukungan kepada FK Undana.

Ke 28 Dokter yang diambil sumpah dan dilantik adalah dr. Hilda Yanuaria Moi, S. Ked, dr. Sovian Anugrah, S. Ked, dr. Willy Oematan, S.Ked, dr. Maria S. N. Rasnan, S. Ked, dr. Yoshua Koamesah, S. Ked, dr. Hedi Hardiyanti Adi, S. Ked, dr. Arif Marthen Riwu Manu, S.Ked, dr. Senandung Nacita Mutia, S. Ked, dr. Martha Legaij Langobelen, S. Ked, dr. Maria Vinsensia Balun, S. Ked, dr. Maria Helentika Aviana Asfa, S.Ked, dr. Stevanny Keo, S. Ked, dr. Edward J. C. Munde, S. Ked, dr. Selviana A. Nahak, S. Ked, dr. Mery A. Kosat, S. Ked, dr. Hidayat Bazeher, S. Ked, dr. Elisabeth E. Patty, S. Ked, dr. Christianus L. Prima Saryono, S. Ked, dr. Rr. Ken Ratri, S. Ked, dr. Anastasia L . Selasa, S. Ked, dr. Claudya J. S. Tas’au, S.Ked, dr. Reza Eka Putra, S. Ked, dr. Selvy Anriani, S. Ked, dr. Eunike Vidya Pandie, S. Ked, dr. Anita Takalapeta, S.Ked, dr. Friyanto Mira Mangngi, S. Ked, dr. Freny Rosa Dupe, S. Ked dan dr. Deddy Kurniawan Nahak, S.Ked.[rfl/ds]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *