logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

08:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881082

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

08:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Riset Dalam Bidang Lahan Kering Kepulauan

Korem 161/Wirasakti-Undana Bahas Butir-Butir Kesepakatan Oepoli Perbatasan RI-RDTL

Korem 161/Wira Sakti bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar Focus Group Discussion (FGD) guna membahas delapan poin Pernyataan  Kesepakatan Oepoli di Aula Rektorat Undana, Senin (7/5/2018).

Rektor Undana Kupang, Prof. Ir Fredrik L. Benu, M.Si, Ph.D dalam sambutannya mengatakan, pembangunan daerah perbatasan RI-RDTL merupakan tanggung jawab bersama.
“Pembangunan perbatasan RI-RDTL bukan tanggung jawab salah satu pihak saja, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa,” katanya.

Rektor Undana dua periode itu juga menyinggung tentang pentingnya kearifan lokal dalam penyelesaian sengketa perbatasan RI-RDTL. “Selagi batas negara masih berhubungan dengan hukum adat masing-masing daerah, maka tidak bisa diabaikan tentang pentingnya hukum adat dalam proses penyelesaian perbatasan ini, karena hak hak adat dikedua wilayah harus dihormati dan dihargai, untuk itu perlu musyawarah bersama untuk membahas permasalahan ini,” jelas Rektor,” jelas Rektor, Prof Fred Benu.

Sementara Danrem 161/Wira Sakti, Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa, S.E, M.M dalam sambutannya saat membuka FGD tersebut mengatakan, salah satu tugas pokok Korem 161/Wirasakti  adalah sebagai Satuan Komando Pelaksana Operasi Pengamanan Perbatasan RI – RDTL, diantaranya adalah permasalahan ini, dengan melaksanakan pertemuan para tokoh adat dan tokoh masyarakat RI-RDTL pada 14 November 2017 di Halaman SD Katholik Bokos Desa Netamnanu Utara Kecamatan Amfoang Timur Kabupaten Kupang.

Pertemuan pada saat itu telah menghasilkan pernyataan bersama yang dituangkan dalam bentuk tertulis berupa delapan poin pernyataan kesepakatan bersama yang ditanda tantangani oleh Keempat Raja, yaitu Raja Liurai, Raja Sonbai, Raja Amfoang dari Indonesia dan Raja Ambenu dari Timor Leste,” jelas Danrem 161/Wira Sakti Kupang.

Lebih lanjut dikatakan, Brigjen Teguh Muji Angkasa, saat ini pihak TNI telah melaksanakan pembangunan sarana fisik dan non fisik. “Sekarang sedang dilaksanakan Operasi Teritorial TNI di Desa Netamnanu Utara dan Desa Netamnanu Selatan, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten  Kupang,” kata Danrem 161/Wira Sakti.

Diakhir sambutannya, Danrem 161/Wira Sakti, Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa, S.E, M.M, menyampaikan, dalam rangka mendukung maksimalnya upaya penyelesaian sengketa Perbatasan RI-RDTL, Korem 161/Wira Sakti mengajak komponen masyarakat terutama para akademisi dengan keahlian yang dimiliki memberikan pemikiran dan pendapat.

“Jadi lewat FGD ini diharapkan mendapat pemikiran dan pendapat dari para ahli dan para pakar Undana sebagai kontribusi terbaik kepada pemerintah dalam menyelesaiakan permasalahan ini, Sesuai tema yang diangkat dalam FGD ini adalah “Makna dan Implementasi Butir Butir Kesepakatan Oepoli antara Liurai Sila, Sonbai Sila, Benu Sila, Afo Sila Demi Rekonsiliasi di Perbatasan RI-RDTL”.

Tampil sebagai moderator dalam FGD ini Dr. Drs. Blajan Konradus MA, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Undana, dengan dua narasumber yaitu Kol Ctp Ir. Asep Rosidin dengan Materi Unresolved Noelbesi Segmen dan Drs. Primus Lake, M. Si dengan Materi Klaim Masyarakat Adat Amfoang di Naktuka.

Tidak kurang dari 42 para ahli dan pakar sesuai bidang keilmuan masing masing memberikan saran dan pendapat terkait dengan tema FGD ini. Para peserta yang memberikan saran dan pendapat terkait dengan tema ini, diantaranya adalah Prof. Alo Liliweri, Dr Frans Gana, Prof Fred Benu, Dr.Pater Gregorius, Dr. Karolus Kopong Medan,  dan lain lain.

FGD ini menghasilkan 3 (tiga) poin rekomendasi yaitu : Pertama, Pemerintah perlu mempercayakan Undana sebagai fasilitator guna mengkaji masalah Perbatasan RI-RDTL. Kedua, Diperlukan studi Etnografi yang baik untuk mengkaji Permasalahan Perbatasan RI-RDTL. Ketiga, Universitas Nusa Cendana mampu membangun jejaring dengan para pakar, untuk kemudian membangun rekomendasi yang lebih baik. [ds/rfl]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *