logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

08:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881082

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

08:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Riset Dalam Bidang Lahan Kering Kepulauan

Jauhkan Dunia Digital Dari Anasir Konten Negatif

•    Pesan Menkominfo pada Harkitnas

Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara, M.BA menitipkan pesan kepada para mahasiswa selaku generasi muda agar menjauhkan   dunia digital dari anasir-anasir pemecah-belah dan konten-konten negatif, agar bisa bebas berkreatif, bersilahturahmi, berekspresi dan mendapatkan manfaat dari digital tersebut.

Pesan tersebut disampaikan Menkominfo, Rudiantara, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D dalam upacara bendera Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) di halaman depan gedung rektorat Undana Penfui, Senin (21/5/2018).

“Tidak ada satu pihak yang tanggung jawabnya lebih besar dari pada yang lain untuk hal ini. Pepatah Aceh mengatakan, pikulan satu dipikul berdua rapat-rapat seperti biji timun suri. Artinya, kira-kira kita harus menjaga persatuan dalam memecahkan masalah, harus berbagi beban yang sama, merapatkan barisan, jangan sampai terpecah-belah. Demikian juga dalam konteks menghadapi digitalisasi ini, kita semua harus dalam irama yang serempak dalam memecahkan masalah dan menghadapi para pencari masalah,” ujarnya.

Dikatakannya, dulu kita bisa dengan keterbatasan akses pengetahuan dan informasi dengan keterbatasan teknologi untuk berkomunikasi, berhimpun dan menyatukan pikiran untuk memperjuangkan kedaulatan bangsa. Seharusnya sekarang kita juga lebih bisa, sepikul berdua, menjaga dunia yang serbadigital ini, agar menjadi wadah yang kondusif bagi perkembangan budi pekerti yang seimbang dengan pengetahuan dan ketrampilan generasi penerus kita.

Pada kesempatan itu, Menkominfo, Rudiantara memberikan gambaran pernyataan  Presiden Bung Karno yang mengatakan bahwa Persatuan Bangsa Indonesia seperti layaknya sapu lidi. Jika tidak diikat, maka lidi tersebut akan tercerai berai, tidak berguna dan mudah dipatahkan. Tetapi jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat menjadi sapu, mana ada manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat.

Karena itu, katanya, gambaran tersebut actual pada masa sekarang ini. Kita merasakan bahwa ada kekuatan-kekuatan yang berusaha merenggangkan ikatan sapu lidi kita. Kita disuguhi hasutan-hasutan yang membuat kita bertikei dan tanpa sadar mengiris ikatan yang sudah puluhan tahun menyatukan segala perbedaan tersebut. [ds]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *