(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Adult Learning: Sudah Saatnya Diterapkan di Pendidikan Tinggi

 

Oleh: drh. Putri Pandarangga, MS., Ph.D

 

Adult learning adalah metode pembelajaran bagi orang dewasa atau dikenal dengan nama andragogy. Istilah ini dipopulerkan oleh Malcolm Knowles pada tahun 1988. Andragogy berasal dari bahasa Yunani yaitu Andras artinya laki-laki dewasa dan ago yang artinya penuntun. Lalu bagaimana hubungannya dengan pedagogy? Pedagogy juga merupakan strategi pembelajaran dimana murid sangat bergantung pada gurunya. Pedagogy diambil dari kata Paidi yang artinya anak kecil dan ago yang artinya penuntun. Metode ini sangat cocok bagi anak-anak kecil yang belum mempunyai pengalaman dan pengetahuan. Akan tetapi, pada tulisan ini saya akan tekankan pada metode andragogy.

Sebelumnya, mari kita samakan persepsi bahwa orang dewasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah seseorang yang telah mengalami akil balig dan matang secara pikiran dan pandangan. Berdasarkan pengertian tersebut maka mahasiswa di perguruan tinggi dapat dikategorikan sebagai orang dewasa. Sehingga pendekatan adult learning dapat diaplikasi di dalam kelas agar mahasiswa menjadi antusias dan mengerti bahan ajar yang disampaikan termasuk di bidang ilmu kedokteran hewan. Sebagai salah satu dosen kedokteran hewan maka saya akan memberi contoh-contoh yang berkaitan dunia kedokteran hewan. Mahasiswa kedokteran hewan dituntut untuk mengerti mekanisme perjalanan penyakit yang kompleks dimana disebabkan oleh berbagai macam antigen. Kemudian dengan pengetahuan tersebut, mahasiswa mampu melakukan diagnosa dan memilih terapi yang tepat untuk mengobati hewan yang sakit. Bila mahasiswa hanya bergantung pada dosen sebagai sumber informasi maka mahasiswa tersebut sangat jauh tertinggal.

Metode adult learning sesuai dengan psikologis orang dewasa bahwa mereka akan termotivasi untuk belajar secara mandiri bila hal tersebut memberi dampak bagi kehidupannya seperti mendapatkan pekerjaan atau kenaikan gaji. Hal ini karena metode pembelajaran ilmu baru dalam konsep adult learning tidak lepas dari case method and team-based project dimana metode ini mendorong mahasiswa untuk memecahkan masalah secara mandiri. Berdasarkan Knowles, ada enam prinsip adult learning yaitu 1. Orang dewasa cenderung memotivasi diri sendiri; 2. Orang dewasa menggunakan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya dalam proses belajar; 3. Orang dewasa berorientasi pada pencapaian; 4. Orang dewasa berorientasi pada relevansi dari yang dipelajari; 5. Orang dewasa sangat suka bila di hormati dalam proses belajar; 6. Orang dewasa mempunyai tipe gaya belajar yang berbeda-beda.

 

Mahasiswa koass kedokteran hewan sedang memecahkan kasus kematian anjing dimana berusaha mengidentifikasi cacing yang ditemukan pada saat melakukan nekropsi pada anjing.

 

Penggunaan adult learning telah saya coba dikelas patologi veteriner sejak tahun 2015. Saya diperkenalkan konsep ini oleh professor Corrie Brown saat sedang menempuh program master di University of Georgia dimana beliau aplikasikan metode ini di semua kelas patologinya. Bahkan beliau bersedia datang ke Undana untuk melaksanakan workshop adult learning (http://dikti.kemdikbud.go.id/kabar-dikti/kampus-kita/dua-ahli-patologi-veteriner-usa-berbagi-ilmu-di-fkkh-undana/). Akhirnya pada tahun 2021 kurikulum pendidikan di Universitas Nusa Cendana sudah mulai mengadopsi case method dan team-based project sebagai bagian dari indikator kinerja utama yang ketujuh mengenai pembelajaran kelas. Hal penting lain yang perlu diperhatikan dalam proses belajar orang dewasa adalah pengajar hanya sebagai fasilitator bukan sebagai orator ulung di depan kelas tanpa memberi kesempatan pada mahasiswa untuk aktif dalam memecahkan kasus. Oleh karena itu, sudah saatnya mahasiswa menjadi merdeka dalam belajar sesuai dengan keahlian yang ingin dia capai.

Berdasarkan judul di atas, saya akan mencoba memberi contoh pendekatan adult learning dalam kelas patologi yang saya ajarkan:

Pertama, orang dewasa cenderung memotivasi diri sendiri.Salah satu dasar penting dalam metode adult learning adalah mahasiswa yang termotivasi untuk belajar. Pada dasarnya manusia bekerja berdasarkan target dimana target inilah yang membuat kita terus termotivasi. Sebagai fasilitator, dosen dapat membuat silabus dimana isi silabus adalah target keahlian baru yang diperoleh setelah mempelajari topik baru. Selain itu, silabus menuntun mahasiswa selangkah demi selangkah untuk meraih keahlian yang baru. Contoh kasus pada bidang patologi veteriner adalah topik peradangan. Salah satu target dari topik peradangan adalah mahasiswa kedokteran hewan dapat menentukan tipe mediator peradangan yang melibatkan pembentukan asam arakidonik. Kaskade ini dapat merangsang pembentukan prostaglandin dimana bahan ini sebabkan rasa sakit dalam tubuh. Aplikasi dalam dunia kerja adalah pada saat mereka menjadi dokter hewan mereka tahu alasan mengapa mereka menggunakan steroid dan Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs) dalam mengurangi peradangan dan apa saja efek sampingnya pada hewan. Pada saat diutarakan bahwa ilmu ini penting pada saat mereka membuka praktek maka terlihat jelas mereka sangat antusias mencari lebih lagi jenis obat-obatan steroid dan NSAIDs yang beredar di pasaran.

Kedua, orang dewasa menggunakan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya dalam proses belajar.
Kita masih menggunakan topik peradangan sebagai contoh. Pengajar harus memberi pertanyaan “mengapa” dan “kenapa” mengenai topik peradangan. Dengan pertanyaan ini, fasilitator akan mengetahui seberapa dalam pengetahuan mahasiswa sebelumnya tentang peradangan. Mata kuliah patologi veteriner akan diberikan pada mahasiswa semester 4 sehingga mereka telah mempelajari komponen dari peradangan dari mata kuliah immunologi. Hal ini sangat membantu mahasiswa dalam belajar ilmu baru bila mereka telah mengenal ilmu ini sebelumnya walaupun masih pada level permukaan. Sebagai mentor, saya melanjutkan pengajaran saya dari pengetahuan dasar tersebut. Contoh kasus adalah peradangan liquefactive atau dikenal dengan nanah. Untuk mempelajari apa yang dimaksud dengan peradangan ini, mahasiswa sudah mempunyai dasar pengetahuan dari imunologi bahwa sel netrofil berperan dalam peradangan ini. Sehingga saya dapat lanjutkan ke mekanisme bagaimana netrofil berperan dalam pembentukan nanah.

Ketiga, orang dewasa berorientasi pada pencapaian.
Poin ini berkaitan dengan poin nomor satu dimana orang dewasa akan mau belajar dengan sukarela bila mereka mempunyai target yang ingin dicapai seperti mendapat posisi kerja yang bagus atau untuk kepuasan. Hal ini dapat diakomodinir oleh pengajar dengan cara menentukan tujuan atau target di dalam kelas.

Keempat, orang dewasa berorientasi pada relevansi dari yang dipelajari.
Suatu topik bahasan lebih menarik bagi mahasiswa bila materi tersebut relevan dengan pencapaian target mereka untuk menjadi dokter hewan yang menguasai mekanisme penyakit dan cara menanganinya. Mahasiswa akan dengan senang hati menyerap banyak informasi selama pengetahuan itu relevan untuk peningkatan kemampuan diagnosa mereka. Contohnya mahasiswa akan tertarik mempelajari faktor penggumpalan darah yang kompleks bila tahu tujuan dari pengetahuan ini dipelajari. Dengan mempelajari jenis-jenis faktor koagulasi maka mahasiswa dapat mengerti mekanisme terjadinya hemofilia A atau B (gangguan pembekuan darah) pada anjing. Selain itu dengan mempelajari topik ini maka mahasiswa tahu mengapa EDTA digunakan sebagai antikoagulan untuk pemeriksaan darah lengkap. Pastikan bahwa informasi yang anda sampaikan relevan dengan keahlian yang akan mereka kembangkan.

Kelima, orang dewasa sangat suka bila di hormati dalam proses belajar.
Harus diakui bahwa saya mengalami kesulitan untuk menerapkan ini di dalam kelas patologi dimana secara budaya kita sangat berpegang teguh pada hirarki. Oleh karena itu, saya berusaha untuk memperbaiki pola pikir bahwa mahasiswa adalah orang dewasa yang sedang belajar dan harus dihormati serta suatu kelak akan menjadi kolega saya. Pembuatan kontrak belajar sangat membantu fasilitator dan mahasiswa untuk mengetahui batasan masing-masing. Dengan kontrak ini, kita tetap berjalan dijalur tanpa melenceng dari learning objectives yang sudah disepakati. Selain itu, dalam kontrak juga berisi perjanjian termasuk waktu. Bagi saya ketepatan waktu sangat penting. Mahasiswa masih boleh masuk bila keterlambatannya dibawah 10 menit dari waktu yang ditentukan. Atau sebaliknya, bila dosen terlambat maka mahasiswa boleh membubarkan diri dan mereka tetap dinyatakan hadir.

Ketujuh, orang dewasa mempunyai tipe gaya belajar yang berbeda-beda.
Semakin dewasa semakin kita sadari bahwa kita adalah individu yang unik termasuk dalam gaya belajar yang terdiri dari visual, auditory, read/write, and kinesthetic (https://vark-learn.com/the-vark-questionnaire/). Oleh karena itu, sebelum memulai kelas baru saya mencoba membuat kuis bagaimana mengetahui gaya belajar dari setiap mahasiswa. Material dapat dipresentasi berupa video atau gambar-gambar kelainan patologis pada hewan bagi mahasiswa yang cenderung mempunyai gaya belajar auditory dan visual. Sedangkan nekropsi (bedah hewan mati) dimana mengharuskan mahasiswa bergerak merupakan salah satu cara untuk fasilitasi mahasiswa yang kinestetik. Saya sadari bahwa tidak ada sistem yang sempurna. Akan tetapi, sebagai fasilitator kita bisa memodifikasi metode ini sesuai dengan karakter dan budaya masing-masing. Sehingga ilmu yang sesulit apapun dapat diberikan kepada mahasiswa yang kelak menjadi penerus bangsa. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

 

Penulis: Dosen Patologi Veteriner di Departemen Klinik, Reproduksi, Patologi, dan Nutrisi, Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan, Undana.

Comments are closed.
Translate »