(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

‘Ambassador Talk’ dengan Undana, Dubes UE Perkuat Kolaborasi dengan Sejumlah Universitas di Indonesia

“Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas, universitas harus bekerja sama dengan universitas lain baik di negara sendiri maupun di negara lain. Dan inilah yang dicoba dilakukan oleh Uni Eropa,” ujar Dubes UE Vincent Piket.

Delegasi Uni Eropa (UE) untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar webminar dengan tema “EU Ambassador Talk – Covid -19 Lessons for Future Higher Education and Economic Recovery” (Pelajaran Covid -19 untuk Pemulihan Pendidikan Tinggi dan Ekonomi di Masa Depan), Rabu (29/9/2021). Webminar yang dimoderatori Konsultan Pendidikan, Indah Safira itu dihadiri 929 peserta dari berbagai kalangan, termasuk dosen maupun mahasiswa.

Dalam paparannya, Dubes UE Vincent Piket menyebut, sebagai diplomat, pihaknya harus mengetahui kondisi yang dialami sejumlah Perguruan Tinggi (PT), termasuk Undana. Ia mengaku senang bisa berbicara dengan Rektor Undana, dan berharap suatu hari bisa mengunjungi Kupang, NTT.

 

Rektor Undana, Prof. Fred Benu didampingi WR IV Bidang Kerjasama Ir. I Wayan Mudita, Ph. D dan Kepala Urusan Internasional Undana, Ir. Maria Lobo, Ph. D, ketika mengikuti “Ambassador Talk” langsung di lantai dua Rektorat Undana, Rabu (29/9/2021)

 

Vincent Piket juga mengapresiasi upaya yang dilakukan Undana selama pandemi, terutama dalam proses pembelajaran dan pelayanan public. “Saya sangat berterima kasih dan mengapresiasi terhadap langkah yang dilakukan Undana. Saya senang Undana sudah membentuk Satgas Covid-19 guna memastikan keselamatan mahasiswa, dosen dan para pegawai,” ungkapnya dalam Bahasa Inggris.

Ia menjelaskan, dalam kiprahnya UE mampu bertahan selama 40 tahun dan berhasil membangun pendidikan di sejumlah negara anggota UE, diantaranya mencakup Irlandia hingga Yunani, Siprus, Estonia, dan di Eropa Selatan, Spanyol, Italia dan beberapa negara di Eropa Timur.

Pihaknya memuji Indonesia bisa menyatukan populasi yang beraneka ragam menjadi satu negara. “Kami di Eropa, untuk menyatukan benua ini sangat sulit. Namun, kami memberi ruang kepada negara-negara untuk mengekspresikan sesuai budaya dan karakter alami mereka,” ungkapnya.

Bangun Kolaborasi

Dubes Piket menjelaskan, UE sangat fokus membangun jejaring dan kolaborasi dengan semua pihak, termasuk membutuhkan kerjasaman dengan kampus atau negara lain. “Kami juga membangun aliansi untuk menyebarluaskan nilai bersama dan meningkatkan kualitas dan daya saing pendidikan tinggi di Eropa dan diberbagai bidang,” papar Dubes Piket.

Ia menyatakan, berbagai universitas di UE yang terdiri dari 30 ribu mahasiswa dan dengan ribuan staf memiliki potensi yang sangat luar biasa. Namun, tetap saja tidak bisa semuanya dilakukan sendirian oleh satu universitas saja. “Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas, universitas harus bekerja sama dengan universitas lain baik di negara sendiri maupun di negara lain. Dan inilah yang dicoba dilakukan oleh Uni Eropa,” ujarnya.

Menurutnya, unsur terpenting dalam sebuah PT, bukan lembaga, tetapi mahasiswa. Karena mahasiswa sebagai jantung sebuah PT. “Empat tahun terakhir, UE berhasil ciptakan ruang pendidikan bagi seluruh siswa dan hasilnya ternyata para mahasiwa Eropa rata-rata menghabiskan satu semester atau satu tahun di kampus lain,” ujarnya.

Namun yang terpenting, sambung dia, adalah standarisasi SKS yang ditetapkan bersama, sehingga gelar yang diberikan kepada siswa/mahasiswa juga akan diakui bersama di seluruh negara di Eropa. “Kita berupaya ciptakan sistem di mana kurikulum dan SKS dapat diakui dengan mudah dari satu universitas ke universitas negara lain,” tandasnya. Dubes Piket menambahkan, rencana UE pada tahun 2025 adalah mewujudkan pengakuan timbal balik secara otomatis atas gelar diploma maupun sarjana.

Pemulihan yang Hijau

Ia menyebut, kemitraan UE dengan Indonesia berfokus pada penyediaan bantuan yang tepat waktu dan komprehensif terhadap pandemi, dan memastikan proses pemulihan yang hijau dan inklusif. Untuk memastikan pemulihan yang hijau dan inklusif, kemitraan kami di masa depan akan memprioritaskan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia yang kaya, pengembangan urbanisasi dan infrastruktur yang berkelanjutan, serta pertukaran dalam penelitian dan pendidikan tinggi,” tambah Dubes Piket.

Di bidang pendidikan tinggi, lanjut Dubes Piket, Eropa merupakan tujuan studi yang sangat populer bagi pelajar dan peneliti Indonesia. Lebih dari 4. 000 siswa berangkat untuk belajar di Eropa setiap tahun. Menariknya, ungkap dia, sekitar 1.200 pelajar dan peneliti Indonesia menerima beasiswa Eropa, terutama negara anggota UE atau dari program Erasmus yang didanai oleh Uni Eropa setiap tahunnya.

Namun demikian, ungkap Dubes Piket, pandemi telah berdampak pada program beasiswa Erasmus, di mana institusi pendidikan tinggi, mahasiswa dan dosen mengalami berbagai gangguan kegiatan dan mobilitas mereka. Namun, Uni Eropa telah menerapkan beberapa langkah pendukung untuk meminimalkan gangguan tersebut.

“Tahun ini, 81 mahasiswa Indonesia mendapatkan beasiswa Erasmus untuk melanjutkan studi S2, sementara 58 mahasiswa dan dosen memperoleh beasiswa pertukaran jangka pendek. Walaupun ditengah kondisi pandemi Covid -19, sebagian besar penerima beasiswa tetap bisa berangkat ke Eropa untuk memulai studi mereka di universitas-universitas di Eropa,” jelas Dubes Piket.

Sebelumnya, kata dia, UE juga telah mendukung kemitraan penelitian antara UE dan negara-negara di seluruh dunia, termasuk dengan para peneliti di ASEAN. Sejauh ini, UE telah menginvestasikan 780 juta dollar ke dalam program penelitian dan inovasi yang berfokus pada pandemi.

Sementara Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph. D dalam pengantarnya mengungkapkan, sejak Pandemic melanda Indonesia, termasuk NTT, Undana tetap berupaya memberikan pelayanan publik, aktivitas kemahasiswaan, akademik dan lainnya secara virtual. Pihaknya mengaku senang, bisa diajak duduk bersama delegasi EU untuk menjalankan kegiatan pembelajaran dan bagaimana memulihkan ekonomi Indonesia, khususnya NTT.

Rektor dua periode itu menyebut, Udnana juga telah melakukan kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pihak perbankan di daerah. Hal ini sebagai upaya mendukung pemulihan ekonomi dan pembelajaran pada masa pandemi. Guru Besar Ekonomi Pertanian itu berharap, kegiatan Ambassador Talk menjadi langkah awal bagi kerja sama yang lebih erat antara Undana dan Nusa Tenggara Timur dengan UE, dalam meningkatkan akses dan kualitas sektor pendidikan tinggi Indonesia.

“Kerjasama antara kedua pihak dapat mencakup pemberian beasiswa untuk pendidikan lanjutan bagi dosen dan mahasiswa, penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan akademisi, pelatihan dan sebagainya,” ujar Rektor Undana yang saat itu didampingi Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Ir. I Wayan Mudita, M.Si., Ph. D dan Kepala Urusan Internasional Undana, Ir. Maria Lobo, M. Match., Ph. D. “Program-program tersebut dapat difokuskan bagi pengembangan sumber daya lokal di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, bersamaan dengan upaya mitigasi tantangan yang timbul akibat perubahan iklim,” sambung Prof. Fred memungkasi.

Untuk diketahui, Ambassador Talk yang diselenggarakan oleh Uni Eropa adalah rangkaian acara publik yang ditujukan untuk menghadirkan topik-topik khusus dan meningkatkan pemahaman tentang Uni Eropa, kebijakan serta prioritas Uni Eropa. Acara ini akan berlangsung sepanjang tahun dengan melibatkan berbagai universitas di seluruh Indonesia. Sebelumnya Ambassador Talks Uni Eropa diadakan di Universitas Indonesia, Depok, Universitas Muhammadiyah Pontianak. (rfl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »