(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Budaya Mutu PT Tidak Dapat Ditawar Lagi

Direktur Penjaminan Mutu Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Prof.drh. Aris Junaidi, Ph.D mengatakan budaya mutu mutlak ada di perguruan tinggi (PT), karena saat ini masyarakatlah yang akan memutuskan dalam memilih perguruan tinggi yang mampu menjamin kompetensi lulusannya. Jadi budaya mutu PT tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Hal itu diungkapkan Prof. Junaidi saat memaparkan materi dalam acara bimbingan Teknik (Bimtek) membangun budaya mutu pendidikan tinggi di lingkungan Universitas Nusa Cendana (Undana), yang digelar oleh Lembaga pengembangan pembelajaran dan penjaminan mutu Undana, Kamis, (7/11/2019) di aula lantai tiga Undana Penfui.

“Terkait dengan penjaminan mutu itu hanya memerlukan komitmen untuk mewujudkannya. Membangun mutu PT hanya butuh komitmen untuk membangun diri sendiri terlebih dahulu. Tidak gampang karena membangun budaya mutu tidak bisa langsung melihat hasilnya, tetapi itu akan memakan waktu yang panjang. Jadi kuncinya ada dikumitmen bersama antara pimpinan hingga kepada kepro fakultas untuk membangun budaya mutu di PT,” ungkapnya.

Ia menambahkan, penjaminan mutu sejalan dengan visi Kemenristekdikti yaitu terwujudnya pendidikan tinggi yang bermutu serta kemampuan iptek dan inovasi untuk mendukung daya saing bangsa. Terlebih kata dia, mutu Pendidikan tinggi kita masih sungguh sangat memprihatinkan. Jadi membangun mutu, terlebih dahulu membangun komitmen diri.

Peningkatan mutu, katanya dinilai sangat penting untuk menopang era industry 4,0 yang penuh dengan tantangan. Perguruan tinggi kata dia, perlu mempersiapkan diri menghadapi situasi dan kondisi ini dengan mempertahankan mutu dan kualitasnya, sehingga akan lebih siap serta menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr.drh. Maxs U.E.Sanam,M.Sc saat mengalungkan selendang kepada Direktur Penjaminan Mutu Kemenristekdikti, Prof.drh. Aris Junaidi, Ph.D disaksikan Ketua LP3M, Dr. Stefanus Boy Manongga, M.Kes.

Prof. dibidang endokrinologi reproduksi di Murdoch University Australia Barat tersebut lebih lanjut mengemukakan, di Australia hanya terdapat 42 perguruan tinggi sehingga tidak perlu di akreditasi, dia bisa melakukan akreditasi masing-masing, karena budaya mutunya sudah terbangun sangat bagus. Jadi memang sudah sedemikian kuatnya komitmen, sehingga mereka saling percaya satu sama lain. “Jadi di Australia para pelaku di Pendidikan tinggi memiliki komitmen yang sangat tinggi membangun budaya mutu secara baik. Kalau dosennya sedikit santai itu malunya bukan main, sehingga tidak ada waktu santai bagi para dosen disana, semuanya sangat sibuk bekerja sesuai dengan komitmen yang mereka bangun bersama untuk membangun mutu,” ungkapnya.

Sebelumnya, Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr.drh. Maxs U.E.Sanam,M.Sc dalam pengantarnya menyampaikan informasi terkait dengan penjaminan mutu di Undana. Biasanya bicara soal mutu tersebut itu terkait dengan komitmen pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia.

Maxs Sanam mengisahkan, pertengahan Agsutus lalu, pimpinan Undana telah melakukan deklarasi di Bali terkait dengan penjaminan mutu. Itulah sebabnya Undana sedang merancang konsep guna  membangun komitmen budaya mutu. Akan tetapi, katanya, persoalan mutu tidak hanya menjadi bagian dari mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan, tetapi terlebih dari pimpinan yang memberikan pandangan universitas lain di Indonesia bisa, mengapa Undana tidak bisa.

Ia menyebut beberapa hal yang mungkin tidak disadari oleh mahasiswa, namun hal tersebut juga mempengaruhi terbentuknya mutu sebuah PT. Pelayanan terbaik yang harus diberikan kepada mahasiswa, karena mahasiswa mitra perguruan tinggi, mahasiswa seperti halnya dosen harus menjaga mutu dengan kehadirannya tepat waktu dikelas, wajib mengerjakan tugas dengan baik dan lain-lain, juga dapat menginformasikan bila ada dosen dan tenaga kependidikan yang dipandang tidak menjaga mutu pelayanan secara baik.

Pada kesempatan itu, pihaknya memberikan informasi bahwa di Undana terdapat 11 fakultas, 47 program studi (prodi) S1, 3 prodi profesi, 1 prodi diploma teknologi tenun ikat, 8 prodi S2 dan 2 prodi S3. Sebagian besar telah terakreditasi B, kecuali 3 prodi yang masih terakreditasi C.

Saat ini, kata Sanam, Undana telah menerapkan pola BLU, sehingga akreditasi merupakan bagian kontrak kerja  terpenting bagi pimpinan Undana mulai dari  universitas hingga ke ketua/sekretaris program studi di fakultas, bahkan target sebelum akhir tahun, 8 prodi di berbagai fakultas di Undana akreditasinya meningkat dari B ke A, karena dengan begitu akreditasi institusi bisa mencapai “A”, minimal sebagian akreditasi prodi “A”.

Ada beberapa peserta bimtek budaya mutu perguruan tinggi yang tidak bersedia namanya ditulis memberikan komentar tidak ada hal baru, malah membuang waktu mereka  untuk mengajar, tetapi dirinya mengatakan bahwa fungsi bimtek paling tidak memberikan informasi kepada para pejabat, dosen agar termotivasi untuk menjadikan Undana berorientasi kepada mutu. [ds]

Comments are closed.