logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Faperta Ditantang Sejahterakan Petani Lahan Kering Kepulauan

Yang Kaya Bukan Petani, Tetapi Tengkulak

Dorong Alumni AICAT Jadi Petani Israel

Para akademisi Fakultas Pertanian (Faperta) se-Indonesia ditantang untuk mensejahterakan para petani di Indonesia. Khusus untuk Faperta Undana, lebih ditantang untuk mensejahterakan petani di lahan kering kepualauan. Hal ini mencuat saat Seminar Nasional Pertanian (Semnaten) dan lokakarya di Hotel Christal Kupang, Rabu (7/8/2019).

Staff Khusus Gubernur NTT, Ir.Toni Djoko dalam paparannya tentang “Tantangan Pembangunan Pertanian NTT” membeberkan sejumlah permasalahan yang dihadapi para petani di NTT. Ia menyebut, para petani sebenarnya memiliki hasil pertanian di lahan kering kepulauan, namun tidak mampu sejahtera. Menurutnya, orang yang kaya atas hasil pertanian adalah para pemasok atau tengkulak yang mengambil hasil pertanian dari para petani.

Ir.Toni Djoko,M.Sc dalam paparannya tentang “Tantangan Pembangunan Pertanian NTT” menyebut, tugasnya sebagai staff khusus soal pertanian bukan hal mudah. “Saya tidak lagi memusatkan perhatian para teksnis tapi soal perncanaan Renja Renstra dinas, membeikan masukan dinas dan anggaran tahunan,” sebutnyua. Ia menjawab, anggaran dan masukan tersebut bisa menjawab masalah pertaian di NT. Namun, kata dia, bukan karena anggarannya.

Ia menyebut, beberapa komoditas unggulan di NTT, diantaranya adalah jambu mete nomor dua di Indonesia dengan luas lahan 171.12 ha, kopi flores nomor 8 di Indonesia dengan luas lahan 70.253 ha. Kopi misalnya, lanjut dia, sangat diminati sejumlah perusahaan asal luar negeri. Meski demikian, kata dia, dengan adanya komoditas yang unggul, orientasi bisnis para petani masih lemah. Karena itu, ia meminta para akademisi atau mahasiswa dari ilmu sosial maupun ekonomi agar mengkaji pertanian di NTT. “Kita memiliki lahan dengan jumlah tonase yang tinggi tapi pemerataannya ada tidak. Petani memiliki uang yang cukup atau tidak?” tanya Toni.

Soal tengkulak, kata dia, di Sumba ia menyebut, petani bukan lagi menjadi petani di rumahnya sendiri. “Hasil pertnian dibeli tengkulak atau perantara dan menikmai hasil yang lebih tinggi. Ada yang mengerjakan lahan pertanian tetapi pupuk dan semuanya disediakan tengkulak sehinga, ketika panen, maka hasilnya di bagi kepada tengkulak,” terangnya.

Yang Kaya Bukan Petani, Tetapi Tengkulak

Ia menambahkan, jika hal itu dibiarkan, maka petani NTT tidak akan merasa sejahtera.“Adakah petani kita yang kaya karena pertanian, ada berapa persen? Yang kaya bukan petani tetapi pedagang hasil pertanian (tengkulak), bahkan ternak pun demikian,” tanya dia.

Meski demikian, kata dia, persoalan pertanian paling krusial, tetapi bisa diintervensi. “Apakah ada adaptasi kurikulum untuk menjawab masalah pertanian? Apakah ada teknologi lahan kering untuk para petani,” tanya dia lagi.

Dari segi ekonomi pertaanian NTT, kata dia, PDRB NTT memang meningkat, tetapi kontribusi sektor pertanian terus menurun sejak 1973. “Tahun 2017 terdapat 28 persen, sampai semester satu 2018 1,96 persen. Semester dua, 21 persen,” ungkapnya. Ia mengaku, pertanian makin tidak menarik, sehingga anak muda tidak bekerja menjadi petani. Ia memprediksi, 15 tahun lagi petani kita tidak ada. “Apa yang harus kita buat?” tanya dia.

Dorong Alumni AICAT Israel Jadi Petani

Untuk menciptakan petani muda masa depan, kata dia, para lulusan Faperta di NTT yang beberapa tahun belakangan ke Israel dan belajar pertanian lahan kering di sana harus dikumpulkan dalam sebuah wadah. Hal itu bertujuan untuk mendorong mereka menjadi petani masa depan. Namun, ia mengaku, jebolan Arava International Center of Agriculture Training (AICAT) dari Israel sejauh ini belum memiliki wadah untuk bersatu. “Di manakah orang-orang kita yang baru pulang dari Israel? Mereka perlu dirangkul agar bisa berkontribusi, baik pada kurikulum hingga aplikasi dan cara bertani. Jika mereka sudah ada wadah atau perkumpulan, mereka bisa menjadi mentor atau triner bidang pertanian lahan kering,” ujarnya.

Ia mengatakan, di Israel, penelitian pertanian tidak berujung pada makalah, skripsi atau thesis. Tetapi, penelitian tersebut berujung pada produk. Ia memuji, negara Israel, karena memanfaatkan curah hujan yang sangat minim per tahun. Jika dibanding NTT, kata dia, NTT masih memiliki curah hujan yang tinggi yakni 1.500 mm per tahun, sementara Israel hanya 200 mm per tahun. “Apa yang dibuat pemerintah dan masyarakat? Mereka akan sangat berdosa jika air hujan yang jatuh dari langit mengalir ke laut. Semuanya diprioritaskan masuk ke dalam perut bumi,” ujarnya.

Meski demikian, ia optimistis dengan RPJMD yang dibuat Pemrov NTT. Diperkirakan tahun 2023, seratus persen irigasi sudah ada di NTT, nilai tukar petani 104 persen akan menjadi 127 persen. Sementara itu, fokus komoditas perkebunan, antara lain kopi, kakao, tanaman hortikultura seperti cabe dan bawang dan lain-lain. Karena itu, ia mengaku, pemerintah NTT sangat membutuhkan kerja sama dari dunia perguruan tinggi. “Undana bisa sumbang apa, relevansi kurikulum, apakah adaptasi kurikulum perlu, manfaat pernelitian untuk NTT dan kemampuan enterpreunership dan inovasi,” tutupnya. Jika hal itu bisa dilakukan, niscaya NTT bangkit dan petani NTT akan semakin sejahtera.

Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Dr. Bambang Suprianto dalam paparannya tentang “Agroforestry, Ketahanan Pangan, dan Revolusi Industri 4.0,” menyebut, hasil pertanian Indonesia seperti padi, kedelai dan gandum pada 4 tahun terakhir ini belum cukup, karena antara penyediaan dan kebutuhan tidak merata. Ia mengaku, Indonesia terpaksa harus melakukan impor, terutama beras, gula, gandum, kedelai dan daging. Sementara, kata dia, untuk salah satu hasil lahan kering pertanian, yaitu jagung sudah mengalami surplus.

Ia mengaku, di Inggris jumlah penduduknya 1,4 juta saja, tetapi kebutuhan pangannya terpenuhi. Di Indonesia, 45 persen penduduk jadi petani, tetapi pemenuhan kebutuhan pertanian hanya 74 persen saja. Ia mengatakan, ada tiga cara yang dapat dilakukan, yakni dinotifikasi, konversi lahan pertanian, karena lahan pertanian Indonesia menurun. Sekitar 30-50 hektar lahan pertanian hilang per tahun. Ia meyesal karena produktifitas lahan saja tidak naik, tetapi malah dikurangi. “Produktifitasnya tidak naik tapi turun, tahun 2018 itu sangat drastis penurunan lahan kita,” ujarnya. Ia mengaku, petani pada umumnya sudah tua, sementara petani muda sangat jarang. Ia mengaku, ketahanan pangan di desa lebih penting.

Ia menyebut, solusi mengatasi hal itu, diantaranya adalah: Pertama, mencegah alih fingsi lahan. “Pemda harus buat kajian, misalnya kalau NTT ingin mencapai 10,32 PDRB, maka itu bisa terwujud,” katanya. Caranya dengan penguatan SDM, manajemen dan teknologi. Kedua, produktifitas lahan harus ditingkatkan, diantaranya dengan pemberiakn pupuk dan bibit berkualitas. “Kelanjutannya adalah mengontrol dan menjaga harga dan penyalurannya,” katanya. Dan yang ketiga adalah intensifikasi. Salah satu upaya intensifikasi adalah membuat lahan alternatif di kawasan hutan. Menurutnya, di Pulau Jawa hal itu sudah dilakukan sehingga di NTT juga bisa dilakukan. Meski demikian, lanjut dia, hal itu harus memperhatikan silvo agroforestry.

Selain itu, kata dia, pemerintah pusat juga saat ini sedang mempersiapkan 330 ribu hektar lahan untuk pertanian. “Prospek ini harus digarap dengan baik guna ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan,” imbuhnya.

Sebelumnya,Wagub NTT, Drs. Joseph Nae Soe saat membuka Seminar dan lokakarya itu menyatakan, melihat kehidupan masyarakat NTT, khsusunya di bidang pertanian, maka ada tiga dimensi yang perlu dilihat, yakni: Pertama, dimensi ideal. Menurutnya, dimensi ideal berarti kalau ada lahan dan tanaman pasti ada tumbuhan. Kedua, dimensi realitas atau realita yaitu masalah yang dihadapi bertolak belakang dengan dimensi ideal. Dan yang ketiga adalah dimensi fleksibilitas, yaitu perpaduan antara dimensi ideal dan realitas.

Ia menyatakan, visi NTT kedepan adalah NTT bangkit menuju kesejahteraan. “Saya dan Pak Viktor ingin masyarakat NTT bisa bangkit dan berubah. Ada istilah lahan tidur, tapi sebenarnya bukan lahannya yang tidur, tetapi manusia NTT yang tidur dan tidak mengelola lahan dan mendapatkan hasil,” ujarnya. Ia mengaku, NTT yang dikenal nusa tertinggi toleransi ini memiliki kekayaan yang luar biasa dan perlu dikelola dan dikemangkan dengan SDM yang mumpuni.

Menghadapi lahan kering dan curah hujan di beberapa daerah di NTT yang tidak merata, mantan anggota DPRRI dua periode ini punya ide brilian. Ia meminta para akademisi pertanian untuk bekerja sama dengan Geo Orbit Stasioner untuk melakukan penelitian tentang hujan buatan atau mempercepat proses pembentukan awan dan hujan. Di NTT, kata dia, yang paling memungkinkan hujan buatan adalah di Alor. Karena itu, ia meminta para akdemisi untuk menjadikan geo orbit stasioner sebagai sebuah objek penelitian masa depan untuk mengatasi kekeringan.

Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni, Ir. I Wayan Mudita,M.Sc.,Ph.D dalam sambutannya mengatakan, sejak Undana didirikan 1 September 1962, dan memasuki tahun 1982 Undana menetapkan Pola Ilmiah Pokok (PIP) Pertanian. Saat ini, kata dia, dengan perkembangan pendidikan tinggi, maka Undana memiliki sekitar 30 ribu mahasiswa dengan 600 dosen tetap dan 1000 lebih tenaga kependidikan. Undana juga telah naik kelas menjadi kampus menengah di Indonesia, khsusnya di Indonesia Timur dengan beralih status menjadi BLU. Undana juga telah menetapkan laboratorium lahan kering kepulauan dan bioscience untuk mendukung pertanian lahan kering di NTT. Kegiatan itu pun digelar dalam rangka Dies Natalis Undana ke-57 dan Faperta Undana ke-37.

Hadir pada kesempatan itu, Sekjen FKPTPI, Prof. Dr. H. Sudrajad, MP, Dekan Faperta UGM, Dr. Jamhari, Dekan Faperta Undip, Dr. Mukson, M.Si, Dekan Faperta Undip Mulawarman Kalimantan Timur, Dr. Rusdiansyah, Dekan Univet, Yos Wahyu Harinata, Dekan Faperta Jambi, Dr. Ahmad Riduan, Dekan Faperta Tadulako, Dr. Muhardi, Dekan F. UNS, Dr. Soemanhudi, Dekan Faperta Universitas Jenderal Sudirman, Dr. Anisur Rasyad, Sekretaris Sekjen, Prof. Bambang, Sesepuh FKPTI, Prof. Seoentoro, Dekan Faperta Univ. Muh. Jakarta, Dr. Elfaiismah, Dekan Faperta Undana, Dr.Damianus Adar,M.Ec dan beberapa Kaprodi, dosen serta undangan lainnya. [rfl/ds]

Comments are closed.