(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

FISIP Undana Gelar Seminar Nasional

Mahasiswa sebagai generasi milenial terus didorong agar mampu menghadapi era globalisasi, yang ditandai dengan revolusi industry 4.0. Untuk itu, mahasiswa harus perkuat diri dengan memanfaatkan pengetahuan, skil, relasi dan partnership dengan orang lain. Sebab, pesatnya era globalisasi dapat membawa perubahan cara dan tindakan bagi generasi milenial.

Demikian sari pendapat  Deford Nasareno Lakapu, S.Sos.,M.Si, (Mahasiswa Doktoral PPs Undana), Elisabeth Glory (Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Petra Surabaya) dan Marthen Mone Weo (Ketua Senat Fakultas Hukum UKAW Kupang) saat menjadi pembicara pada seminar nasional (semnas) dengan tema “Globalisasi dan Mahasiswa” yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) di Ruang Aula lantai tiga Rektorat Undana, Penfui, Selasa (26/11).

Mahasiswa Doktoral PPs Undana, Deford Nasareno Lakapu, S.Sos.,M.Si (kiri) dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Petra Surabaya, Elisabeth Glory (kanan) saat memaparkan materi semnas yang dimoderatori oleh mahasiswa Fisip Ilmu Komunikasi semester III, Alfons Berto Turu (tengah).

Deford dalam paparannya menyebut, era globalisasi ditandai dengan internasionalisasi, liberalisasi, universalisasi, westernisasi, transplanetari dan suprateritorialitas.  menggelar seminar nasional (semnas) guna membahas globalisasi dan mahasiswa. Ciri berkembangnya fenomena globalisasi, tegasnya adalah berkembangnya berbagai produk teknologi seperti smartphone. Menurutnya, smartphone telah membuat manusia sibuk dengan jari. “Kalau dulu itu orang bilang ibu kota lebih kejam dari ibu tiri, tetapi sekarang itu ibu jari lebih kejam dari ibu kota, karena memosting postingan atau menyebarkan konten dan pesan di media sosial,” paparnya.

Karena itu, ia menyebut generasi hari ini sebagai “generasi jari”. Karena itu, untuk menghadapi era globalisasi, maka ASN di Kota Kupang ini memiliki strategi untuk mahasiswa, yakni. Pertama, knowledge. “Mahasiswa harus memperkuat pengetahuannya, merefresh dan memperbaharui pengetahuannya terus menerus,” ujarnya. Kedua, mahasisa harus meningkatkan skill. “Skill ini entah punya kemampuan menjahit, bernyanyi, bermusik dan lain sebagainya,” ungkapnya. Ketiga, relationship. Guna menghadapi era teknologi, mahasiswa juga diminta mampu membangun relasi dengan orang lain. Keempat, partnership.

Menurutnya, orang membangun hubungan baik, belum tentu bisa membangun partnership, karena hal ini dibutuhkan kerjasama yang baik. Kelima, mahasiswa harus bisa mengetahui teknoliogi atau melek teknologi. Dengan begitu, mahasiswa mampu menghadapi era revolusi industri 4.0 dengan baik.Elisabeth Glory dalam paparanya mengemukakan bahwa perkembangan globalisasi telah memunculkan banyak hal, terutama internet of things, yakni ketergantungan kepada internet atau google.

Untuk memanfaatkan perkembangan globalisasi, ia menyarankan agar mahasiswa bisa memperomosikan dirinya maupun daerahnya kepada dunia luar lewat berbagai kemudahan dalam internet. “Jadi harusnya ada orang kupang yang membuat vlog untuk keindahan atau eksotisme daerahnya. Hal ini untuk memperkenalkan diri kita kepada orang lain,” ungkap pemenang lomba vlog Staf Kepresidenan 2018 dan Kolaborator Suara Penentu Narasi TV itu. Generasi muda sekarang pun diminta untuk menghindari ketergantungan terhadap adanya kemajuan globalisasi, misalnya berupa industri perfilman seperti film atau drama korea. Pasalnya, gaya hidup orang Korea sangat berbeda dengan gaya hidup mahasiswa di Indonesia, atau di NTT.

Sementara Marthen Mone Weo dalam paparanya menyebut, generasi hari ini didominasi oleh milenial. Buktinya, menurut data BPS, saat ini milenial Indonesia sudah mencapai 33 persen dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia yakni 256 juta orang. Itu artinya ada 84 juta milenial di Indonesia. Di NTT, ungkap dia, milenial sebanyak 1,6 juta jiwa. Dan itu terbanyak dari milenial di Ambon atau di Papua. Ia menyebut, milenial saat ini harus terinspirasi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Makarim.

Sebab, Menteri termuda di Kabinet Jokowi itu adalah generasi milenial yang mampu sukses dengan mendirikan unicorn Gojek di Indonesia. Karena itu, ia juga meminta kepada mahasiswa agar tidak terjerumus dalam kemudahan-kemudahan era globalisasi yang ada, tetapi mampu menjadikan kemajuan globalisasi untuk bisa mengembangkan diri. Apalagi, kata dia, saat ini Indonesia juga sedang memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dan itu tidak menutup kemungkinan, banyak pekerja dari luar negeri ke Indonesia untuk mencari lapangan pekerjaan atau menjual produk merka. Karena itu, ia meminta generasi milenial untuk lebih kreatif menangkap peluang bonus demografi yang ada untuk bisa berkontribusi dalam memajukan perekonomian Indonesia, khususnya NTT.

Sebelumnya, Dekan FISIP Undana, Dr. Melkisedek N. B. C. Neolaka, M.Si dalam membuka seminar tersebut mengapresiasi para pemateri yang hadir pada saat itu. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para panitia yang bekerja keras untuk mendatangkan para pemateri dari luar NTT. Ia meminta para mahasiswa agar bisa menyimak materi seputar globalisasi, revolusi industri 4.0 maupun tentang tantangan generasi milenial ke depan. Hadir pada saat itu Wakil Dekan (Wadek) I Bidang Akademik, Drs. Blajan Kondradus, M.Si., Wadek II Bidang Administrasi Umum dan Keuangan, Drs.Abas Kasim,M.Si dan Wadek Bidang Kemahasiswaan, Drs. Yohanis Ndoda, M.Si.

Penulis: Refael Molina

Editor: David Sir

Comments are closed.