logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

08:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

Universitas Riset Dalam Bidang Lahan Kering Kepulauan

FK Undana Lantik Lima Dokter Baru

Selasa, 23 Juli lalu, pada periode ke-XVIII 2018, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali melantik dan mengambil sumpah lima orang dokter baru. Dengan pelantikan dan pengambilan sumpah ke lima dokter baru tersebut, maka saat ini FK Undana sudah meluluskan 196 orang dokter. Pelantikan lima doter baru tersebut dipimpin langsung oleh Dekan, dr. S.M.J. Koamesah,MMR.,MMPK. Kelima dokter  baru Undana tersebut antara lain, Alia Rahma,S.Ked, dr.Maria T.Buntanus,S.Ked, dr.Petrus P. Boleng, S.Ked, dr.Putu R. Rosalina,S.Ked dan dr. Susana C.L.Kabosu, S.Ked.

Dekan FK, dr.Bobby Koamesah dalam arahannya mengatakan, sumpah dokter merupakan pengakuan yang diberikan fakultas kedokteran, profesi kedokteran, dan juga diberikan oleh pemerintah dan diakui oleh masyarakat kepada orang yang menyandang gelar dokter. “Saat kalian ucapkan sumpah, kalian sudah syah menjadi seorang dokter, maka harus ada perubahan di dalam diri kalian seperti cara jalannya, senyumnya, cara bertutur dan berinteraksi dengan masyarakat, terlebih kepada pasien, karena kalian tanggung jawab kalian semakin besar dalam mengemban tugas sebagai seorang dokter.  Sumpah dokter itu merupakan sumpah yang khusus karena dibacakan untuk dirinya sendiri. tegas Koamesah. Jadi sumpah dokter itu bukan sumpah untuk jabatannya, tetapi sumpah untuk dirinya sendiri. Sumpah untuk pribadi, karena profesi yang melekat pada dirinya sendiri, dan bertanggung jawab bukan kepada manusia saja, tetapi terlebih lagi kepada Tuhan, karena profesi yang akan mendatangkan berkat bagi dirinya sendiri,” tegas Koamesah.

Pada kesempatan itu, pihaknya meminta kepada para dokter baru Undana untuk mlaksanakan tugas-tugas kemanusiaan dengan penuh pengabdian, tanggung jawab dan profesional. Mengapa? karena tugas pengabdian berhubungan erat dengan memberikan sesuatu, maka pemberian itu nilainya harus sama dengan profesi dokter. Jadi para dokter ketika praktek di masyarakat, harus utamakan pengabdian karena itu akan bersentuhan langsung dengan perbuatan baik atau kesetiaan yang perlu ditunjukkan dan dilakukan dengan tulus iklas. Mengapa profesi dokter dikatakan seperti itu, karena dalam prakteknya, ditemukan banyak dokter dalam pelayanannya selalu mengutamakan nilai ekonomi dari pada kondisi ekonomi masyarakat atau pasien. Kalau ekonomi pasien itu baik, maka dokter akan melayani dengan baik, begitu juga sebaliknya. Karena itu, ia meminta agar para dokter dapat mengutamakan pelayanan yang berkualitas kepada seluruh lapisan masyarakat, entah kaya ataupun miskin.

Pesan yang lain, kata Bobby Koamesah, soal tanggungjawab, kalau ada pasien yang datang berobat dengan keterbatasan ekonomi, maka dokter harus lakukan tugas dengan penuh pengabdian, dan pengabdian itu dilakukan dengan penuh tanggung jawab.  Para dokter juga diminta untuk selalu mempertahankan profesi seorang dokter dengan bekerja profesional. Oleh karena itu, ia meminta kepada kelima dokter baru Undana ini terus mengingat-ingat untuk mengemban tugas secara profesional sebagai seorang dokter. Layanilah pasien dengan berbagai tingkatan ekonomi, jangan sampai ada pasien yang datang berobat dengan kondisi ekonomi yang jauh dibawah, terus dokter itu tidak berniat melayani pasien itu dengan baik. Saya pesankan, agar layanilah semua tingkatan ekonomi masyarakat dengan penuh semangat pengabdian sebagai seorang dokter profesional.

Wakil Rektor Bidang Akademik, DR.Drh. Maxs U.E.Sanam,M.Sc pada kesempatan itu mengatakan, pendidikan dokter merupakan pendidikan profesional yang memberikan layanan dengan pendekatan pasien. Dokter tidak hanya melakukan pelayanan dengan pendekatan pasien berdasarkan jenis penyakit saja, tetapi seorang dokter harus memiliki kemampuan bagaimana melihat seluruh aspek yang ada pada pasien, keluarga dan sosial masyarakat  yang dilayani.

Menurut mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Undana itu, setiap capaian prestasi akademik yang dicapai seorang dokter, jika tidak dibarengi dengan sikap dan perilaku yang baik, maka semuanya itu akan sia-sia saja. Karena itu seorang dokter harus mempertahankan kompetensi untuk mengambil keputusan bagi kepentingan masyarakat yang memiliki ekonomi tinggi dan mengabaikan kepentingan ekonomi masyarakat yang rendah, sehingga pelayanan kesehatan tidak bermutu atau bahkan cenderung penyalahgunaan kewenangan sebagai seorang dokter.
“Jadi seorang dokter dituntut harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, dalam arti memiliki kemampuan menulis resep, kalau tidak, maka akan membahayakan jiwa pasien. Karena itu para dokter dituntut harus memiliki kemampuan melihat siapa sebenarnya masyarakat di sekitar kita. Dokter harus bisa melihat bahwa ada masyarakat yang ekonominya tergolong kelas menengah kebawah, bagaimana menghadapi masyarakat atau pasien di pedesaan. Selain itu, yang lebih penting, kata Sanam adalah dokter harus memiliki kemampuan bekerja dalam tim, harus bisa berkonsultasi dan mampu berorganisasi dengan baik dalam mendukung pelayanan kesehatan kemanusaiaan,” katanya. [ds]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *