logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Gelar Seminar Nasional, FKH Undana Komit Cegah “”Zoonosis”

Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menggelar seminar nasional di Hotel Swis Bellin Kristal, Kamis (17/10/2019), mengusung tema “Konektivitas Kesehatan Hewan dan Manusia di Ekologi Lahan Kering Kepualauan” , salah satu yang menjadi focus dan komitmen FKH Undana adalah upaya pencegahan, pemberantasan dan pengendalian penyakit zoonosis di Indonesia, khususnya NTT. Karena itu, dibutuhkan konsep “one health” guna melibatkan semua pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan, pemberantasan dan pengendalian zoonisis tersebut. mencegah adanya penyakit zoonosis di Indonesia, khususnya di NTT.

Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc ketika membuka seminar tersebut menyampaikan terima kasih atas kehadiran keynote speaker dan pra invite speaker, pemakalah oral dan presenter poster untuk berbagi pengetahuan dan hal-hal baru melalui seminar itu.

Seminar tersebut dilaksanakan mengingat kondisi di NTT yang masih ditemukan beberapa penyakit zoonosis. “Keterkaitan kesehatan manusia, hewan dan juga lingkungan dalam penyakit-penyakit zoonosis ini menyebabkan keterlihatan berbagai pihak mutlak diperlukan dalam proses pencegahan, pemberantasan dan pengendaliannya,” ujarnya.  Ia menyebut, informasi-informasi terbaru dari berbgai bidang terkait termasuk di dalamnnya langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan oleh berbagai sektor dapat menjadi referensi terkini bagi implementasi konsep  “one health” dalam rangka pencegahan masalah penyakit zoonosis. Ia berharap, seminar nasional itu dapat memberi pandangan baru serta solusi bagi permasalahan penyakit zoonosis khususnya di NTT.

Sebelumnya, Ketua Panitia,  drh. Julianti Almet, M.Si menjelaskan, iklim tropis di Indonesia memberi tempat yang sempurna bagi perkembangan berbagai jenis agen pathogen. Jika dipandang dari segi kesehatan, wilayah Indonesia yang cukup luas dan bersentuhan dengan banyak negara memungkinkan masuknya berbagai penyakit baru, baik pada manusia maupun hewan. Sehingga tidak mengherankan apabila Indonesia seringkali dipandang sebagai surganya penyakit tropis.

Karena itu, implementasi konsep “one health” di NTT mutlak diperlukan mengingat berbagai penyakit zoonosis masih ditemukan di provinsi kepulauan yang menciri dengan kondisi ekologi lahan keringnya.  “Hal inilah yang melatarbelakangi Seminar Nasional ke-7 FKH Undana,” ujarnya.

Prof. Wiku Adisasmito, M.Sc, Ph. D dalam materinya tentang Konektivitas Kesehatan Hewan dan Manusia menyebutkan kondisi dunia dengan perubahan iklim, transportasi, mobilitas tinggi, kebakaran hutan, tidak saja membuat satwa liar mati, tetapi akan muncul penyakit zoonosis baru. Hal ini menurutnya tidak pernah dipikirkan. Karena itu,ia mengajak semua pihak agar mewaspadai munculnya penyakit zoonisis baru.  Ia juga mengaku, kesiap-siagaan Indonesia terkait dengan kemunculan penyakit zoonosis baru sangat rendah.  Apalagi, sekarang menurut dia, teroris kini berpikir bagaimana menyerang manusia dengan senjata biologi.

Prof. Frans Umbu Datta saat memoderatori acara seminar didampingi para narasumber utama.

Koordinator INDOHUN itu juga mengkritisi peran laboratorium di Indonesia. Laboratorium di Indonesia, sudah saatnya membangun suatu system jaringan. “Bila perlu kita buatkan satu platform laboratorium di Indonesia, sehingga semua informasi tentang hewan, penyakit hewan, lingkungan dan manusia, kita bisa akses di sana,” ujarnya.  Menurut dia, sudah saatnya One Health Laboratory Network dibangun dan diterapkan di Indonesia, sehingga sekitar 20 ribuan Lab diindonesia bisa terintegrasi dengan baik.

Wakil Lembaga Eijkman Penelitian Fundamental, Prof. dr. Herawati Sudoyo, Ph.D dalam materinya tentang ““Perkembangan terkini kejadian zoonosis, serta upaya pengendalian dan pencegahannya” juga menyebutkan bahwa kemampuan Indonesia dalam mendeteksi berbagai penyakit zoonosis sangat rendah. Ia menyebut, zoonosis tidak saja penyakit dari hewan ke manusia, tetapi dari manusia ke hewan. Penyebaran penyakit zoonisis di Indonesia, bisa disebabkan oleh perubahan iklim, adanya interaksi dengan hewan, maupun adanya urbanisasi.  Ia menyebut, 70 persen penyakit yang baru muncul cenderung zoonisis, dan diagnosis sudah banyak dilakukan tetapi masih terbatas.

Ia menyebut beberapa kerjasama yang dilakukan Eijkman adalah untuk merespon munculnya penyakit oleh virus baru, mendiagnostik dan mengklasifikasi virus baru yang beresiko endemic selanjutnya dilakukan upaya pencegahan dan pengendaliannya. Manfaat dari kolaborasi yang dilakukan, antara lain adalah berbagi authorship untuk publikasi, peningkatan kemampuan teknoligi virologi, pelatihan virologi dasar hingga lanjutan, yaitu berbicara virus baru yang muncul dan pelatihan biosafety dan biosecurity.

Sementara Guru Besar FKH UGM, Prof. Michael Wibowo dalam materinya tentang Pengaruh Ekologi terhadap One Health menyebut kerjasama kuratif pada manusia harus dialihkan ke prefentif. Hal itu katanya, tidak terlepas dari peran lingkungan luar. Perubahan iklim salah tatunya muncul penyakit baru, semisal NIPA.  Penyebaran penyakit lain dari hewan ke manusia, misalnya di daerah tertentu dimana kelelawar memakan buah, kemudian buah itu jatuh dan dimakan oleh hewan lain seperti babi, maka penyakit itu akan menular dengan cepat dari hewan ke hewan kemudian ke manusia melalui konsumsi daging.

Karena itu, ia mendorong para peneliti agar meneliti kelelawar. Jika di NTT, ia juga mendorong para dosen FKH agar meneliti hewan-hewan liar lainnya. Bahkan ia mendorong agar meneliti hewan purba Komodo. Hal itu untuk memberi informasi baru bagi masyarakat agar interaksi dengan hewan bisa dikurangi guna mencegah penyakit. [rfl/ds]

Comments are closed.