(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Gubernur NTT Launching Program Transformasi Hijau Penurunan Emisi

Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Victor B. Laiskodat, resmi meluncurkan (melaunching) Program Transformasi Hijau Penurunan Emisi melalui Integrasi Pengembangan Hutan Energi dengan peternakan terpadu di pulau Timor untuk kebutuhan biomassa co-firing Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis sinergi ekonomi kerakyatan, kerja sama PT. PLN (Persero) Wilayah NTT, Undana dan Pemerintah Provinsi NTT. Acara peluncuran program tersebut dilakukan di Desa Oetuke, Kecamatan Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Selasa (22/11/2022)

Hadir pada kesempatan tersebut Rektor Undana Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistim Informasi Dr. Jefri S. Bale, ST., M.Eng, Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Yefri C. Adoe, SE, GM PT PLN (Persero) Wilayah NTT Fintje Lumembang,  CEO PT. Timor Bio Energi, Yusak Benu, SE.,MM, Staf Ahli Gubernur NTT, dr. Mese Ataupah, Direktur Bank NTT, Hary Alexender Riwu Kaho, SH.,MM, Asisten I Setda Pemkab TTS, Forkopinda Kabupaten TTS, Camat Kolbano, Kapolsek Kolobano, Danramil Kolbano, Para Kepala Desa se Kecamatan Kolbano, Tim Kosabangsa serta undangan dan masyarakat Desa Oetuke.

Dalam laporannya Ketua Tim Pengembangan Hutan Energi, Prof. Ir. Fred L. Benu, M.Si.,Ph.D menyampaikan, salah satu alasan pelaksanaan program ini yaitu adanya UU Nomor 16 Tahun 2016 sebagai komitmen terhadap Paris Agreement bahwa Indonesia diwajibkan menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 27% dengan upaya sendiri pada tahun 2030 atau 41% dengan bantuan internasional pada tahun 2030. 

“Menyadari upaya keras pemerintah yang sudah dituangkan dalam amanat UU Nomor 16 Tahun 2016 ini, PLNpun menyadari salah satu kontribusi terbesar terhadap emisi gas rumah kaca ini adalah sektor energi. Oleh karena itu, PLN berkomitmen memberikan kontribusi bagaimana penurunan emisi gas rumah kaca ini dengan membangun kerja sama antara PLN sendiri, Undana dan Pemerintah Provinsi NTT,” jelas Prof. Fred Benu.

Gubernur NTT, Dr. Victor B. Laiskodat, Rektor Undana, Dr. drh. Maxs, GM PT. PLN NTT, Fintje Lumembang, WR IV Undana, Dr. Jefri S. Bale dan Ketua Tim Pengembangan Hutan Energi, Prof. Fred Benu menyaksikan mesin wood chipper co-firing di Desa Oetuke, Kecamatan Kolbano, TTS, Selasa (22/11/2022)

Lebih lanjut Prof. Fred Benu menyampaikan, saat ini PLTU yang ada di Bali dan Nusa Tenggara memiliki 6 (enam) titik. Khusus di NTT, tercatat ada 2 (dua) unit untuk dilakukan proses co-firing, sebagai penggantian (substitusi) antara batu bara dengan biomassa.

“Dari dua unit ini kira-kira akan menghasilkan atau dibutuhkan 16,5 MW dengan kebutuhan biomassa keringnya sekitar 523 ton/unit/bulan. Jadi kalau dua unit berarti kita butuhkan sekitar seribuan ton biomassa kering untuk substitusi batu bara dalam proses co-firing,” jelas Rektor Undana dua periode itu.

Prof Fred menambahkan, di bagian selatan pulau Timor, potensi vegetasi khususnya lamtoro cukup besar, sejumlah desa, sesuai hasil survai atas bantuan dari PLN, tercatat lamtoro yang belum disentuh sekitar 3000 ha, baik untuk peternakan rakyat maupun untuk proses co-firing. Karena itu, lanjut Prof. Fred kerja sama ini juga membangun integrasi antara co-firing dan peternakan rakyat.

Rektor Undana Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc dalam sambutannya mengatakan, bagi Undana, kegiatan tersebut adalah suatu momentum yang sangat penting. “Sebagai Perguruan Tinggi kita harus keluar dari kampus. Pembelajaran, pengetahuan dan keterampilan tidak saja hanya diperoleh di ruang-ruang kuliah, ruang praktikum, ruang laboratorium, bahkan perpustakaan. Kita bisa belajar di ruang masyarakat bahkan di hutan sekalipun dan pada saat yang sama kita berkontribusi bagi pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat dan Pemerintah Daerah,” ungkap Rektor Undana.

“Kegiatan ini adalah salah satu contoh kehadiran Undana di tengah-tengah masyarakat,” sambungnya.  Rektor Maxs pada kesempatan tersebut merasa sangat bangga pada rekan-rekan dosen Undana yang sudah menginisiasi kerjasama ini dengan PLN sebagai mitra dengan dukungan Pemeritah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten TTS.

Sementara itu, GM PT. PLN (Persero) Wilayah NTT, Ibu Fintje Lumembang dalam sambutannya menyampaikan, saat ini PLN berkomitmen mendukung program pemerintah melalui peningkatan emisi Co2 melalui pembangkit-pembangkit PLN yang digerakan dengan  energi fosil untuk menuju zero emisi pada tahun 2060.

Karena itu, dalam masa transformasi PLN, salah satu aksinya adalah energi green. PLN berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya pembauran energi tersebut sebagai pengganti batu bara untuk menurunkan emisi Co2. “Sampai saat ini, sudah 33 pembangkit PLTU PLN yang menggunakan teknologi co-firing, 2 diantaranya ada di NTT yaitu PLTU Bolok dan Ropa di Flores,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata GM PT. PLN NTT, suplai untuk kedua PLTU ini, khususnya di Bolok yang saat ini masih sekitar 15 ton/hari. “Kalau kami gunakan seluruhnya 100% untuk pembangkit menggantikan batu bara  yang sudah kita uji coba, itu berarti bisa 1 jam. Karena itu kalau produksi 15 ton/hari itu hanya bisa menjadi bauran sekitar 5% selama 24 jam,” jelasnya. Dengan demikian  hutan energi ini, lanjut GM PT. PLN NTT, sangat menjanjikan untuk kebutuhan biomassa ini sangat besar untuk kebutuhan PLTU.

Gubernur NTT, Dr. Viktor Bungtilu Laiskodat ketika melaunching program transformasi hijau penurunan emisi, mengaku, pola kerja seperti ini sangat dibutuhkan dalam mewujudkan kemajuan sebuah daerah dan bangsa.

“Untuk dunia maju, model kerja seperti ini yang sangat dibutuhkan, ini polanya, ini jalannya yang kita butuhkan. Model kerja pentahelix seperti ini ada masyarakat, ada perguruan tinggi, ada PLN, ada pemerintah, ada dunia usaha bersama-sama dengan BUMDes,” jelas Gubernur Victor.

“Jadi model kerja seperti ini, apapun kerjanya pasti berhasil tapi kalau kerjanya sendiri-sendiri itu tidak akan pernah jadi apa-apa. Pekerjaan dalam sebuah desain ekosistem yang baik, NTT sudah pasti cepat bertumbuh,” sambungnya.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Viktor menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya atas kerja-kerja kolaborasi yang begitu luar biasa. Menurutnya, pekerjaan seperti ini adalah tantangan bersama. Karena itu, Gubernur Viktor meminta kepada pemerintah setempat, pola kerja seperti ini perlu  dipertahankan, dikembangkan bahkan ditingkatkan.

Pada akhir sambutannya, Gubernur Viktor berharap bulan Mei atau paling lambat Juni 2023 mendatang BUMDes dan para Kepala Desa yang terlibat sudah mampu memproduksi wood chipper minimal 200 ton/hari untuk menjawab kebutuhan PLN yang sebelumnya disampaikan GM PT. PLN (Persero) Wilayah NTT. (Imanuel Saduk, SH., M.Hum/PPID Undana).

Foto-foto

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Koleksi
Tags

Your browser doesn't support the HTML5 CANVAS tag.

Translate »