Ketua Sinode GMIT: Undana Harus jadi Rumah Kerukunan
12/01/2018
article thumbnail

© 9 Kebijakan Rektor Tahun 2018
Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Dr. Merry Kolimon, M.Th mengatakan, peristiwa Betlehem menjadi peristiwa kontak antar bangsa yang memuliakan San [ ... ]


BLU, Tuntutan Kerja Cepat di Tahun 2018
10/01/2018
article thumbnail

Rektor Undana: Empat Lembaga Direstrukturisasi jadi DuaUniversitas Nusa Cendana (Undana) telah memasuki kalender kerja tahun baru 2018. Dengan diterapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum ( [ ... ]


Artikel Lainnya

Undana Ditantang Bangun Pusat Riset Cendana dan Komodo

Meskipun Universitas Nusa Cendana (Undana) kini telah memiliki Pusat Laboratorium Lapagan Terpadu Lahan Kering Kepulauan (LLTLKK), yang juga merupakan pusat studi beberapa disiplin ilmu, seperti Pertanian, Perikanan, Peternakan, Kedokteran, Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Politik dan lainnya. Namun, Undana juga kini ditantang agar membangun satu pusat penelitian dengan nama Pusat Penelitian Cendana dan Komodo. Tantangan tersebut datang dari Anggota Badan Eksekutif Badan Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN PT), Sugiono, Ph. D saat tampil menjadi pembicara dalam Bimbingan Teknis Implementasi Sistem Penjamin Mutu Internal dan Eksternal yang digagas Lembaga Penjamin Mutu Perguruan Tinggi (LPMPT) Undana di ruang Teater lantai tiga rektorat Undana Penfui, Kamis (23/11).
Selain berbicara mengenai upaya Undana meningkatkan akreditasi instusi. Ia juga mengisahkan, cerita sukses Universitas Nasional dalam mengembangkan salah satu keunggulannya. Ia mengaku, lima tahun lalu, ketika berkunjung, ia mengajak pihak Universitas Nasional agar fokus pada Pusat Riset Primata dan beberapa keunggulan lainnya. “Saat itu saya katakan, kalau Universitas Nasional mau mengangkat soal Pusat Kajian atau Riset Bioteknologi, maka akan sangat jauh dengan Universitas Indonesia (UI), karena tidak mungkin bersaing dengan UI,” katanya. Ia mengaku, kini banyak peneliti dari dalam maupun luar negeri yang kepincut dengan Pusat Riset Primata Universitas Nasional itu, dan melakukan penelitian di sana. Ia menyebut, NTT memiliki keunggulan dan keunikan dalam hal flora dan fauna. Dimana, Pohon Cendana dan binatang Komodo telah menjadi icon NTT, sehingga bagaimanapun harus memiliki salah satu pusat studi. Dan, Undana harus berani membangun Pusat Riset Cendana dan Komodo. Salah satu hal penting dari Pusat Riset tersebut adalah untuk melestarikan dan mencegah kepunahan Cendana dan Komodo di NTT. Untuk itu, lanjutnya, kebijakan anggaran dari pimpinan juga sangat diperlukan untuk membangun pusat riset tersebut.

Terkait dengan akreditasi institusi Undana, kata dia, akreditasi bukan sebuah tujuan, tetapi merupakan potret untuk melihat peningkatan mutu secara terus menerus. Menurutnya, Rektor maupun Dekan memiliki tanggungjawab dalam upaya peningkatan mutu institusi maupun program studi. Kendati demikian, ia mengajak, agar tenaga pendidik maupun kependidikan yang ada di Undana agar bisa bekerja sama secara jujur dan konsisten dalam bekerja, terutama dalam penyusunan dokumen akrediasi. Ia menyebut, terdapat perubahan akreditasi dan penjaminan mutu sistem pendidikan nasional sejak tahun 2003, yaitu akreditasi bersifat sukarela menjadi sesuatu yang wajib, dari akreditasi Program Studi (Prodi) menjadi akreditasi prodi dan Perguruan Tinggi, dari badan penjamin mutu internal sukarela menjadi wajib dan dari badan akreditasi tunggal menjadi majemuk.
Pada kesempatan tersebut, Sugiono juga mengungkapkan beberapa permasalahan akreditasi saat ini, diantaranya adalah akreditasi belum mendorong perbaikan mutu secara berkelanjutan, instrument yang masih menekankan aspek masukan (input) dan sumber daya (resources), kemampuan asesor untuk melakukan penilaian yang objektif dan akurat dan proses akreditasi yang masih manual. Karena itu, jelas dia, beberapa penyempurnaan proses akreditasi yang dilakukan adalah instumen berorientasi output dan outcomes, peningkatan jumlah dan kompetensi asesor dan sistem akreditasi harus dilakukan secara online.
Sementara Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. David B. W. Pandie, MS saat membuka kegiatan tersebut mengatakan, upaya peningkatan mutu akademik dari SPMI dan SMPE memiliki kaitan erat. Jika SPMI baik, maka SPME juga pasti baik, sehingga dua aspek tersebut harus diperhatikan. Ia mengatakan, dalam meningkatkan mutu akademik, maka budaya mutu harus menjadi atribut semua pelaku di Undana, baik tenaga pendidik maupun kependidikan. “Jika budaya mutu belum kuat, maka dipastikan mutu akan menjadi sesuatu yang sulit kita capai,” sebutnya. Karena itu, ia mengingatkan agar semua pelaku kepentingan di Undana bisa bekerja dengan baik dan bertanggungjawab. Dalam menghadapi Sistem Akreditasi Perguruan Tingi Online (SAPTO), maka semua pihak diminta agar bekerja dengan baik demi peningkatan mutu dan akreditasi prodi dan institusi. Pantauan media ini, hadir Anggota Tim BAN PT, Prof. Dr. Ir. Johny W. Soedarsono, DEA dan Dr. Yohanes Suryanto, M.Kom serta para dekan dan pimpinan lembaga Undana.  [rfl/ds]


Add comment

Komentar anda sangat penting, oleh karena itu periksa komentar dengan seksama sebelum mengirimkan. Pertahankan toleransi antar suku, ras dan agama.


Security code
Refresh