(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Kebebasan dan Keadilan dalam Dunia Pendidikan Tinggi

  • Undana Lepas 893 Lulusan

Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D mengatakan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Mas Nadiem Makarim telah mengeluarkan kebijakan baru yang disebutnya “Merdeka Belajar atau Kampus Merdeka”. Mendikbud Nadiem Makarim menganut paham pondasi philosophy bahwa kebebasan dan kemerdekaan sebagai instrument yang dapat meng-endorse improvisasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut diungkapkan Rektor, Prof. Fred Benu, ketika menyampaikan Pidato Ilmiah pada acara Wisuda Doktor, Magister, Profesi dan Sarjana Periode Pertama 2020 di Aula Undana Penfui, Kamis (27/2/2020).

Rektor, Prof. Fred Benu menyebut, dalam menciptakan kebebasan tidak bisa terlepas dari keadilan. Sebab, kebebasan bukan sebuah isu yang berdiri sendiri, tetapi juga soal keadilan, seperti yang diperjuangkan tokoh pembebasan Amerika – Marthen Luther King, yang selama masa hidupnya memperjuangkan bukan saja tentang ”freedom” (kebebasan). “Dia tidak berbicara tentang kebebasan sebagai suatu isu yang berdiri sendiri. Tapi Marther Luther berbicara tentang “freedom” dalam satu kesatuan dengan “justice” (keadilan). Saya juga pernah memberikan pidato tentang “freedom and justice” beberapa tahun yang lalu dari tempat ini,” ujarnya.

Ia katakan, improvisasi dalam dunia iptek akan membidangi lahirnya creative innovation dari dunia pendidikan tinggi untuk kemajuan Indonesia. Inilah outcome yang diharapkan akan diperoleh dari kebijakan “Merdeka Belajar-Kampus Merdeka”. Ada empat kebijakan utama untuk dunia pendidikan tinggi Indonesia yang dikemas dalam tagline “Merdeka Belajar: Kampus Merdeka”. Pertama, otonomi perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta untuk mewujudkan pembukaan program studi. Kemerdekaan diberikan yaitu pembukaan program studi baru, tapi kesamaan perlakuan (equality) diberikan hanya kepada program studi yang sudah mampu membuktikan adanya kerjasama dengan dunia usaha berskala nasional bahkan internasional – lengkap dengan bukti perjanjian kemungkinan perekrutan hasil lulusan program studi yang akan dibuka.

“Pertanyaan yang masih perlu dipikirkan, adalah bagaimana dengan aspek “equity”, manakala masih banyak perguruan tinggi yang sulit mendapatkan mitra dunia usaha yang berskala nasional dan internasional khususnya di Indonesia bagian Timur,” sebutnya. Kedua, Akreditasi perguruan tinggi dan program studi yang sifatnya otomatis dan sukarela. Kebebasan dan fleksibilitas diberikan bagi status akreditasi, tapi keadilan juga ditunjukkan melalui kemungkinan suatu program studi dievaluasi status akreditasinya oleh Kementerian, manakala ditemukan adanya indikasi penurunan kualitas pelayanan baik karena pantauan Kementrian maupun karena laporan masyarakat.

Senat universitas mengikuti prosesi wisuda.

Ketiga, kebebasan perguruan tinggi untuk memilih tingkat status pengelolaannya – BLU atau PTN-BH. Kebebasan bagi perguruan tinggi diberikan dengan memilih status pengelolaan, tapi pada saat yang sama keadilan juga digagas dengan mengendorse setiap perguruan tinggi untuk mampu membiayai secara mandiri pengelolaan keuangan berdasarkan keunggulan science dan technology yang dimiliki.

Keempat, kemerdekaan diberikan melalui pemberian hak kepada mahasiswa untuk boleh mengambil mata kuliah tertentu yang diajarkan pada program studi lain, bahkan yang diajarkan pada kampus lain. Keadilan dibangun melalui pemberian kesempatan yang sama bagi semua anak, khususnya mereka yang memiliki kecerdasan lebih untuk memperoleh layanan pendidikan dari universitas lain dengan fasilitas dan atmosfir pendidikan yang lebih baik.

Rektor dua periode ini menyebut, kebijakan baru Mas Menteri ini merupakan wujud dari pikiran dari Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara yang mengedepankan “manusia merdeka” sebagai tujuan pendidikan Taman Siswa yaitu: merdeka baik secara fisik, mental maupun kerohanian. Namun, jelas Fred Benu, kemerdekaan pribadi ini dibatasi oleh keadilan yaitu terwujudnya masyarakat yang tertib damai dalam kehidupan bersama. “Dalam kebijakan baru ini perkuliahan tidak hanya dihitung dari jumlah pertemuan di ruang kelas. Kebebasan dan keadilan diukur juga dari seluruh aktivitas diluar kampus yang menunjang kompetensi peserta didik, dan dipertimbangkan sebagai bagian dari kuliah. Mas Menteri menginginkan agar perkuliahan membuka pintu bagi dunia lokal dan global seluas-luasnya,”katanya sambal menambahkan, tujuannya agar hasil perkuliahan bisa berkesinambungan dengan permasalahan riil di masyarakat, baik pada tataran akar rumput maupun isu-isu nasional, regional dan internasional.

Diakhir pidatonya, ia meminta para alumni agar menjaga nama baik Undana di tengah masyarakat. “Akhirnya melalui forum yang berbahagia ini, kami juga menitipkan nama Undana di pundak para wisudawan. Perilaku dan kiprah para wisudawan akan mencerminkan Undana di mata masyarakat,” ujarnya. Oleh karenanya, para wisudawan harus bisa menujukkan bahwa almameter yang kita cintai ini mampu berkontribusi terhadap pembangunan. “Jadilah insan yang memiliki daya saing, jadilah agen perubahan di tengah-tengah masyarkat dengan cara tidak pernah berhenti belajar. Kelulusan tentu saja penting. Tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita bisa menunjukkan kepada masyarakat bahwa kita adalah Doktor, Magister, Profesi dan Sarjana lulusan Undana,” katanya. Untuk bisa seperti itu, yang diperlukan adalah bukan sekedar IPK yang tinggi, melainkan imajinasi, improvisasi dan kreativitas yang akan membidani lahirnya inovasi bagi kemajuan bangsa dan negara tercinta.

Undana Lepas 893 Lulusan

Para wisudawan terbaik saat menerima penghargaan dari rektor Undana.

Sesuai data panitia, jumlah wisudawan periode pertama tahun 2020 sebanyak 893 orang, dibagi dalam dua sesi yakni sesi pertama sebanyak 447 orang dirinci, Program Pascasarjana 22 orang, FKIP 102 orang, Fapet 37 orang, Fisip 70 orang, FH 29 orang, Faperta 46 orang, FKM 18 orang, FST 49 orang, FK 23 orang, FKH 7 orang, FKP 17 orang, dan FEB 13 orang. Selanjutnya, sesi kedua berjumlah 446 orang, terdiri dari PPs 22 orang, FKIP 101 orang, Fapet 37 orang, Fisip 72 orang, FH 29 orang, Faperta 46 orang, FKM 17 orang, FST 49 orang, FK 24 orang, FKH 5 orang, FKP 17 orang, dan FEB sebanyak 13 orang. Turut diwisuda pada sesi pertama, 1 orang Doktor, 6 orang pendidikan profesi dokter dan 2 orang profesi dokter hewan.

Selanjutnya sesi kedua sebanyak 446 orang terdiri dari PPs 22 orang, FKIP 101 orang, Fapet 37 orang, Fisip 72 orang, FH 29 orang, Faperta 46 orang, FKM 17 orang, FST 49 orang, FK 24 orang, FKH 5 orang, FKP 17 orang, dan FEB sebanyak 13 orang. Turut diwisuda pada sesi kedua 6 orang Pendidikan profesi dokter dan 2 orang profesi dokter hewan.

Sedangkan wisudawan terbaik pada sesi pertama sebanyak 6 orang terdiri dari Paulus S.Nitbani,SH.,MH (Ilmu Hukum PPs Undana) dengan lama studi 1,5/3 tahun, IPK 4,00 lulus dengan predikat pujian. Anastasya D.R. Banase,S.Sos (Ilmu Adm.Negara FISIP Undana), lama studi 3,5/7 tahun, IPK 3,94 lulus dengan predikat pujian. Esther Y. Bunga,S.Si (Matematika FST), lama studi 3,5/7 tahun, IPK 3,93 lulus dengan predikat pujian. Widya Sukma Wie Ku’u,SH (Ilmu Hukum FH), lama studi 4,5/9 tahun, IPK 3,78 lulus dengan predikat pujian. Giovani Rizaldo Hadi, S.Ked (Pendidikan Dokter), lama studi 4/8 tahun, IPK 3,76 lulus dengan predikat pujian, dan Stevie Nonoi Tualaka,SP (Agroteknologi Faperta), lama studi 3,5/7 tahun, IPK 3,75, lulus dengan predikat pujian.

Selanjutnya lulusan terbaik pada sesi kedua sebanyak 6 orang terdiri dari Anselmania Kartini Dhey,S.Pd (Pendidikan Kimia FKIP), lama studi 3,5/7 tahun, IPK 3,90 lulus dengan predikat pujian.Patrisius Fongo, S.M (Manajemen FEB), lama studi 4/8 tahun, IPK 3,77 lulus dengan predikat pujian. Maria Ch. Roi Ngey,S.Pi (Manajemen Sumber Daya Perairan FKP), lama studi 4,5/9, IPK 3,76 lulus dengan predikat pujian. Febriyani Sitanya, SKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM), lama studi 4,5/9 tahun, IPK 3,75 lulus dengan predikat pujian. Selviani Trivoningsi Dangur, SKH (Pendidikan Kedokteran Hewan) lama studi 4,5/9 tahun, IPK 3,68 lulus dengan predikat pujian, dan Edmunda Noe, S.Pt (Ilmu Peternakan), lama studi 4,5/9 tahun, IPK 3,63 lulus dengan predikat pujian. Dengan demikian, Undana sejak berdiri hingga hari ini, telah meluluskan 69.331 orang wisudawan Diploma, Sarjana, Profesi, Magister dan Doktor. [rfl/ds]

Comments are closed.