(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

KULIAH UMUM MIGRATION AND VULNERABILITY IN INDONESIA

Kamis, 7 November 2019 lalu, bertempat di ruang Teater lantai tiga kantor rektorat Undana Penfui,  berlangsung  kuliah umum tamu dari Faculty of Arts, Business, Law and Education, School of Social Sciences of The University of Western Australia, Prof. Lyn Parker.  Prof. Lyn hadir di Undana ditemani dua orang sahabat yakni  Manager Internasional Sponsorship, Liz Cambell dan  Regional Manager Indonesia, Ima Dewi. Sedangkan dari Undana hadir Rektor, Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D, Wakil Rektor Bidang Kerjasama, Ir.I Wayan Mudita,M.Sc.,Ph.D, dosen Program Studi Bahasa Inggris FKIP Undana, Yunita Reny  Bani Bili, S.Pd.,M.Ling dan sejumlah mahasiswa Prodi Bahasa Inggris.

Prof. Lyn Parker saat menyajikan materi di dampingi Yunita Reny Bani Bili, berbicara tentang Internal migration yang terjadi di tiga daerah terpencil di Indonesia yakni  Tanah Tinggi di Sumatera Barat, Flores Tengah dan Merauke di Papua.

Ia menuturkan, merantau sebagai salah satu bentuk migrasi di Sumatra Barat sudah merupakan suatu tradisi masyarakat, dan hal tersebut sangat didukung oleh kerabat dan keluarga. Sedangkan Migrasi ke kota di daerah Flores sangat bersifat individual. Dimana usaha ini dilakukan oleh individu masing-masing dan sering mengalami kegagalan.  Di Papua, menurutnya, kata migrasi tidak tepat digunakan tetapi lebih tepat digunakan kata hypermobility. Migrasi di tiga tempat ini dapat menjadi sumber positif untuk mengatasi masalah- masalah yang terjadi di daerah terpencil tetapi sekaligus juga bisa menjadi sumber kerentanan masalah.

Dalam kuliah umum itu, Prof. Parker mengambil tiga contoh kasus dari tiga daerah tersebut. Dalam kasus yang terjadi di daerah Sumatra Barat, migrasi merupakan sebuah kesempatan bagi anak muda untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik namun yang menjadi kerentanan masalah adalah keluarga yang sudah tua yang tidak diurus.

Dikatakannya, kasus migrasi yang kedua terjadi di Flores tengah yakni kabupaten Ngada. Di Kabupaten ini didominasi oleh Agama Katolik dan pekerjaan mereka adalah petani. Di Daerah ini, migrasi bukan merupakan sebuah tradisi yang kuat karna fenomena untuk menjadi PNS masih merupakan pekerjaan impian dan melekat kuat pada pikiran para lulusan universitas. Hal ini mengakibatkan mereka hanya bekerja sebagai tenaga honor dengan gaji yang sangat kecil. Anak muda yang baru tamat kuliah sangat rentan menghadapi masalah karena mereka tidak memiliki pekerjaan, tidak ada peluang karir, pekerjaan yang bersifat sukarela. Namun, hubungan sosial begitu kuat dan perawatan terhadap orang tua lebih terjamin.

Pada kasus yang terjadi di Merauke Papua ungkapnya, para anak-anak muda melakukan perpindahan dari satu daerah ke daerah yang lain karena kekurangan infrastruktur kesehatan dan dukungan medis, kekurangan makanan sehingga menyebabkan kelaparan dan kemiskinan. Hanya terdapat beberapa guru dan tingginya angka kematian ibu dan bayi. Migrasi ini dapat menyebabkan kerentanan terhadap masalah seperti penyakit, kecelakaan, tidak ada akses internet, telepon and listrik serta kekerasan seksual.

Sebelumnya, dalam pengantar, Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik Lukas Benu, M.Si.,Ph.D bahwa ada beberapa penyebab orang melakukan migrasi khususnya di Papua karena kesulitan bahan pangan. Sehingga untuk mencari Sagu sebagai bahan pangan orang harus berpindah-pindah untuk menebang pohon sagu. Selain itu, budaya untuk dapat menikah lebih dari satu kali atau memiliki lebih dari satu istri menyebabkan para pria harus membawa Mas Kawin (Dowry) dalam bentuk tengkorak kepala manusia. Hal ini yang membuat orang di Papua juga melakukan migrasi.

Rektor, Prof. Fred Benu juga mengatakan, budaya di Kabupaten Ngada lebih memprioritaskan laki-laki untuk mencari pekerjaan dari pada perempuan sehingga laki-laki lebih diberikan peluang dari perempuan untuk merantau. Kuliah umum ini difasilitasi oleh Undana, dalam hal ini kantor Urusan Internasional. [ds]

Comments are closed.