(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Kunjungi Undana, Kapolda NTT Soroti Kasus Besipae

Dalam rangka meningkatkan kerjasama Polri dengan dunia pendidikan, Kapolda NTT Irjen. Pol Drs. Lotharia Latif, S.H., M.Hum beserta rombongan mengunjungi Universitas Nusa Cendana (Undana). Rombongan Polda NTT, diantaranya Karo SDM Kombes Pol  Riyadi Nugroho, SIK, Dirbinmas Kombes Pol Drs, Taufiq Tri Atmojo, Dirlantas Kombes Pol Iroth Laurens Ricky, SIK, Kabidhumas Kombes Pol Johanes Bangun, S. Sos, SIK dan Dir Tahti AKBP Drs. Dominicus Savio Yempormase, diterima Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si.,Ph.D dan wakil rektor  (warek) masing-masing Warek I Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc, Warek II Ir. Jalaludin, M.Si, Warek III Dr. Siprianus Suban Garak,M.Sc dan Warek IV Ir. I Wayan Mudita, Ph.D di ruang rapat Rektor  Undana Penfui, Selasa (20/11/2020)

Kapolda NTT Irjen. Pol Drs. Lotharia Latif, S.H., M.Hum dalam diskusi itu, mengapresiasi Undana, yang telah mengedukasi masyarakat, terutama hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugas Polri. Karena itu, kunjungannya ke Undana membahas tiga hal penting, yakni soal covid-19, Pilkada di sembilan kabupaten di NTT dan wisata premium labuan bajo.

Menurutnya, hal tersebut merupakan arahan Kapolri, yang disampaikan ketika dirinya menjabat sebagai Kapolda NTT. Selama dua bulan mengabdi sebagai Kapolda NTT, ia mengaku, dalam dua minggu, sudah mengunjungi sejumlah Kapores, terutama di sembilan kabupaten yang akan melaksanakan Pilkada, yakni  Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Ngada di Pulau Flores, Sumba Timur, Sumba Barat di Ppulau Sumba, Kabupaten Sabu Raijua, serta Belu, Malaka dan Timor Tengah Utara (TTU) di Pulau Timor.

Selain mengunjungi sembilan kabupaten itu, Kapolda Latif juga sudah mengunjungi beberapa kampus, seperti UNIKA, UKAW, dan UMK. Selain itu, ia juga telah bertemu para tokoh agama, untuk berbicara masalah-masalah keamanan di NTT.

Pada kesempatan itu, Kapolda juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada Rektor Undana, Prof. Fred L. Benu, karena sudah mendukung pemerintah dan kerja-kerja Polri, terutama dalam meningkatkan edukasi masyarakat.

Salah satu hal yang harus menjadi perhatian dunia kampus, papar dia, adalah masih terjadi banyak kejahatan horizontal ditengah masyarakat. “Kami lihat di NTT, masih banyak kejahatan yang sifatnya konvensional, termasuk konflik-konflik horizontal,” sebut Mantan Kakorplairud Baharkam Polri itu.

Pada kesempatan itu, Kapolda juga menyoroti kasus Besipae, Kabupten Timor Tengah Selatan. Menurut dia, semua masukan dan keluhan dari masyarakat harus didengar terlebih dahulu. Ia mengaku, konflik horizontal yang terjadi di Besipae sangat sulit, kecuali konflik vertical. “Karena horizontal, biasanya timbulkan luka lama. Kita himbau kepada kedua pihak, mungkin masih tidak puas, maka selesaikan masalah tersebut, baik secara hukum adat maupun secara hukum (negara),” tuturnya.

Kendati demikian, ia mengaku, telah menjalankan tugasnya secara baik guna mengamankan konflik tersebut di sana. “Silahkan, karena tugas saya menjaga jangan sampai ada bentrok di sana. Ini tidak bisa dibiarkan, karena melibatkan perempuan dan anak-anak (dalam demonstrasi). Miris kita lihat kondisi seperti ini,” tandasnya. Menariknya, kata dia, kasus tersebut bakal menjadi perhatian Presiden dalam hal ini Dirjen Kementerian Kehutanan.

Kapolda NTT Irjen. Pol Drs. Lotharia Latif, S.H., M.Hum saat foto bersama dengan Rektor, Prof. Fred Benu dan para Warek I, II, III, IV serta jajaran pimpinan Polda NTT usai acara silahturahmi.

Hal lain yang menurut mantan Kapolda adalah kasus penganiayaan. Hal itu, terang dia, selain kurangnya edukasi, juga masalah ekonomi. Kekerasan terhadap perempuan dan anak menurutnya masih terjadi dan marak di NTT.

Karena itu, sebagai bentuk kepeduliannya, Polda NTT telah melaunching woman care day. Diharapkan, dengan adanya kegiatan tersebut, para perempuan mendapat perlakuan lebih. “Saya bangun pelayanan publik itu, sebagai penghormatan dan empati kita terhadap perempuan, terutama dalam hal pelayanan lalu lintas setiap hari Sabtu, itu bagi perempuan,” tuturnya.

Pihaknya menginginkan ada gerakan moral yang dilaksanakan bersama, meskipun saat ini, Indonesia, termasuk NTT masih mengalami masa sulit. “Dalam situasi ini, jangan kita diam diri, tetapi kita tetap lakukan sesuatu,” imbuhnya.

Pada kesempata itu, ia juga menyampaikan terima kasih kepada Rektor Undana, pasalnya banyak personil yang melanjutkan studi S-1 hingga S-3 di Undana. Menurutnya, peningkatkan SDM personil polisi merupakan bagian dari peningkatan kualitas organisasi.

Untuk itu, ia mengajak Undana, agar terlibat dalam kegitan-kegiatan webminar yang akan dilakukan Polda NTT, guna memberikan pencerahan kepada masyarakat, terkait topik-topik aktual yang terjadi di Indonesia, khususnya NTT. “Saya harap kerjasama selama ini kita lanjutkan dan tingkatkan. Kapan (Pak Rektor) kontak saya, ada Karo SDM saya, silahkan kita buat kegiatan webminar, dengan mencari topik yang aktual. Jadi suara Undana bisa didengar nanti oleh para Kapolres, dan lain-lain,” ungkapnya.

Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D mengaku, Undana siap melaksanaan kerjasama lanjutan, diantaranya, bagi pensiunan polisi di lingkup Polda NTT, untuk belajar bagaimana bercocok tanam, terutama irigasi tetes. Kerjasama lainnya, kata Rektor, terkait dengan KKN. Pada prinsipnya, Undana siap membantu Polda NTT untuk memberikan informasi kepada publik.

Ia menambahkan, Undana saat ini sudah menjadi kampus berstatus Badan Layanan Umum (BLU) dengan 34 kampus lainnya, jika sebelumnya berstatus satuan kerja (satker) pemerintah. Sementara kampus dengan status paling tinggi, yakni Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTNBH).

Undana, jelas Rektor, memiliki 11 fakultas, 47 Prodi S1 dan 10 Prodi S2 di Pascasarjana. Jumlah guru besar saat ini sebanyak 23 orang. Hal itu, karena beberapa guru besar sudah memasuki masa purna bhakti.

Rektor juga meng-apresiasi beberapa personil polisi yang melanjutkan studi di Undana. Mulai dari S-1 hingga S-3. Khusus, S-3 saat ini, ada mantan Wakapolda NTT, Irjen Pol Johni Asadoma dan Dir Tahti AKBP Drs. Dominicus Savio Yempormase.

Undana, jelas rektor, memiliki beberapa aturan yang sejalan dengan tugas-tugas Polri. Semisal, Undana melarang mahasiswa yang menggunakan narkoba. Mahasiswa yang dinyatakan lulus masuk Undana, harus melalui tes narkoba. Jika dinyatakan negatif, barulah bisa masuk Undana. Selain itu, soal lalu lintas di kampus, jelas rektor, pihaknya melarang adanya motor tanpa plat, mahasiswa diwajibkan menggunakan knalpot racing, helm standar, dan tidak boleh bonceng tiga orang.

Pada kesempatan itu, Guru Besar Bidang Ekonomi Pertanian itu mengaku, siap meningkatkan kerjasama dengan Polda NTT, guna mengatasi sejumlah persoalan masyarakat, yang terjadi di wilayah hukum NTT. [rfl/ds]

Comments are closed.