(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Lagi, Dosen Faperta Undana Dikukuhkan, Rektor: Prof. Agnes Guru Besar ke- 37 Undana

Satu lagi dosen senior pada Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali dikukuhkan sebagai Guru Besar. Kali ini, Prof. Ir. Agnes Virginia Simamora, MCP., Ph. D dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Hama dan Penyakit Tanaman. Prof. Agnes dikukuhkan Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph. D di Auditorium Undana, Senin (2/11/2021). Sebelumnya, satu Guru Besar Faperta yang telah dikukuhkan adalah Prof. Ir. Lince Mukkun, MS., Ph. D (Bidang Teknologi Pasca Panen). Prof. Lince dikukuhkan bersamaan dengan Prof. Dr. Ir. Wilmientje Mariene Nalley, MS (Bidang Bioteknologi Peternakan dan Ilmu Reproduksi Ternak, Fakultas Peternakan).

Hadir, Sekretaris Senat Undana, Ir. I Wayan Mudita, M. Si., Ph. D, beserta anggota senat Undana, Ketua Dharma Wanita Persatuan Undana, Ir. Grace Ale-Benu, sejumlah dosen Faperta, alumni Faperta dan sejumlah pemuda Batak.

Ketua Senat Undana, Prof. Fred Benu dalam sambutannya menyatakan, civitas Undana kembali merasa bangga dan bahagia, karena Prof. Agnes dikukuhkan sebagai Guru Besar. Dengan bertambahnya satu orang Guru Besar, maka tahun ini Undana telah ‘menghasilkan’ empat orang Guru Besar. Karena itu, atas nama seluruh pimpinan Undana, ia menyampaikan proficiat dan terima kasih kepada Prof. Agnes atas kinerja baik yang ditunjukkannya. Prof. Fred menyebut, Undana memiliki Kontrak Kinerja yang ditandatangani antara Rektor dan Kemendikbudristek, di mana dalam satu tahun, Undana minimal harus menghasilkan satu orang profesor.

 

Guru Besar Faperta Undana, Prof. Agnes Simamora foto bersama Rektor Undana, Prof. Fred Benu, Ketua Dharma Wanita Persatuan Undana, Ir. Grace Ale-Benu, Dekan Faperta, Dr. Dami Adar, Guru Besar Faperta, Prof. I Nyoman dan para keluarga yang hadir di Auditorium Undana, Senin (2/11/2021).

 

“Tapi, tahun ini ternyata bukan satu, sudah empat orang profesor, berarti saya atas nama seluruh civitas boleh berbangga dan memberikan laporan kepada Mas Menteri (Nadiem Makarim) bahwa kinerja kami untuk satu indikator ini telah melampaui target yang ditetapkan,” tandas Rektor Undana dua periode itu. “Tentu ini akan dicatat sabgai bagian dari peformance kita untuk tahun ini. Itu akan terefleksi secara baik dalam berbagai konsekuensi kinerja dan pelayanan kita,” ungkapnya menambahkan.

Pihaknya, pada kesempatan itu meminta maaf. Pasalnya, Prof. Agnes yang dikukuhkan saat itu, sebagai Guru Besar ke-37. “Saya harus minta maaf, karena beberapa kali kita kukuhkan profesor, selalu keliru menyebutkan jumlah profesor. Kalau saya tidak salah, dua profesor sebelumnya, disebut Guru Besar ke-37 dan 38. Tapi, saya hitung ulang dan mendapatkan angka 37 ,” katanya membenarkan. “Saya bilang urut satu per satu seluruh profesor, termasuk mereka yang sudah meninggal dan pensiun, bahkan pindah, dan kita dapat angka yang pas Prof. Agnes adalah Guru Besar ke-37,” ungkapnya menambahkan. Dari 37 Guru Besar itu, hingga kini, tercatat ada 7 Guru Besar yang sudah meninggal, 11 yang sudah memasuki masa purba bhakti dan profesor emeritus bagi yang masih mengabdi. Dengan hadirnya Prof. Agnes, maka hingga kini, ungkap Prof. Fred, Undana memiliki 17 Guru Besar aktif.

Sementara, Prof. Agnes Simamora dalam pidatonya berjudul “Peranan Surveilans Hama dan Penyakit Tanaman dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan Masyarakat Lahan Kering Kepulauan Nusa Tenggara Timur,” memaparkan, pertumbuhan penduduk yang semakin pesat dewasa ini memberikan tantangan yang besar bagi upaya-upaya penyediaan pangan dunia. Alumni SD GMIT Kuanino II Kupang itu juga memaparkan, Food and Agriculture Organization memperkirakan setiap tahunnya 20-40 persen dari hasil produksi tanaman global dinyatakan hilang karena hama tanaman, dan setiap tahunnya, kerugian akibat penyakit tanaman mencapai sekitar 200 miliar USD. Dan, kerugian karena serangga invasif adalah sekitar 70 miliar USD.

Tak sampai di situ, Alumni Biological Science and Biotechnology pada Murdoch University ini juga memaparkan, kehilangan juga terjadi saat pascapanen, yang mencapai 10-23 persen. Hal tersebut, menurutnya, cukup disayangkan, karena pertanian adalah sumber makanan bagi seluruh penduduk di planet bumi ini. Karna itu, untuk mencukupi kebutuhan pangan dunia, lajut dia, sektor pertanian harus diperkuat termasuk di dalamnya adalah pengelolaan hama dan penyakit tanaman.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Prof. Agnes selama ini, dan pustaka yang telah dirujuk, maka menurutnya surveilans perlu dilakukan dengan beberapa terobosan, yaitu: Pertama, kegiatan surveilans sebaiknya bukan hanya sekadar melakukan pengamatan terhadap hama dan penyakit tanaman dari aspek fisik (lingkungan) dan aspek hayati (hama dan patogen), tetapi juga perlu dilakukan dengan memperhatikan aspek sosial, politik dan sosial budaya.

Kedua, pengelolaan hama dan penyakit tanaman membutuhkan kerjasama banyak pihak; masyarakat, peneliti, tenaga ahli dalam berbagai bidang, dan pemerintah dan diperluas ke sistem pengawasan global dengan tidak hanya dipandang sebagai ancaman terhadap penghidupan masyarakat dan bahkan terhadap ketahanan nasional (national security). Ketiga, pada zaman sekarang ini, sudah selayaknya kita mengikuti perkembangan teknologi industri 4.0, seperti teknologi Internet of Things, edukasi masyarakat melalui ponsel pintar, teknologi sistem pakar dan teknologi drone dalam melindungi tanaman dari hama dan penyakit. (rfl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »