(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Mahasiswa Penerima KIP-K Dapat Pembinaan Psikologi-Gender

Sebanyak 2000-an mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K) di Undana angkatan 2020 mendapat pembinaan psikologi dan gender. Hal ini guna memotivasi mahasiswa agar mampu memanfatkan KIP-K tersebut untuk meningkatkan prestasi belajar.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Undana, Dr. Siprianus Suban Garak, M.Sc dalam sambutannya mengatakan 2000-an mahasiswa merupkan orang-orang khsusus yang sudah terpilih mewakili Prodi dan Fakultasnya. Ia menyebut, para mahasiswa  yang akan mengikuti webminar selama sehari itu akan dibekali dengan berbagai materi, diantaranya tentang psikologi dan gender. Karena itu, pihaknya berharap, para mahasiswa bias mengikuti kegiatan tersebut dengan baik guna mendapat manfaat yang baik pula.

Sementara dalam sesi pemaparan materi yang dimoderatori oleh drh. Yohanis Simarmata, M.Sc, Warek III menjelaskan KIP-K diperuntukan bagi mahasiswa yang kurang mampu secara ekonomi, namun berprestasi secara akademik.

Pengajar pada Prodi Matematika, FKIP itu menyebut, KIP-K dapat meningkatkan akses dan kesempatan belajar bagi (calon) mahasiswa di perguruan tinggi (PT). KIP-K juga, kata dia, menjamin keberlangsungan studi mahasiswa selama delapan semester. “Jadi, kalau mahasiswa tersebut sudah di atas dari delapan semester itu bukan mahasiswa berprestasi lagi,” sebutnya.

Terkait dengan prosedur penetapan penerima KIP-K, jelas dia, nama-nama calon mahasiswa yang sudah didaftarkan secara online ke kementerian tersebut dilakukan penetapan oleh pihak Undana, kemudian dilakukan penetapan oleh Kemendikbud.

Jika mahasiswa tersebut sudah ditetapkan sebagai penerima KIP-K, maka biaya akan ditransfer langsung ke rekening Undana. “Banyak orang tanya, kami dapat kok tidak dikirim ke rekening kami. Yang anda dapat adalah biaya hidup Rp 700 ribu per bulan atau Rp 4.200.000 per semester. Anda boleh berhak terima besasiswa selama 8 semester. Jadi, kalau lebih dari 8 semester, maka harus membayar sendiri,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, masalah yang sering terjadi adalah saat uang tersebut ditransfer, maka mahasiswa akan sesuka hati menghabiskannya, sehingga rekening mereka tidak aktif. “Sehingga kebijakan dari pusat, saat (uang) masuk pertama, akan diblokir sebesar Rp 700 ribu per senmester selam tiga semester. Jadi, (mahasiswa) jangan bilang uangnya hilang. Anda masuk semester sembilan seluruh uang itu akan diambil Kembali. Karena pengalaman masuk semester sembilan orang kesulitan membayar. Tetapi kalau anda tamat sebelum semester Sembilan, uang tersebut wajib diambil,” jelas Warek III.

Ia menegaskan, mahasiswa jangan berpikir kalau sudah menerima KIP-K, maka akan lancar terus. Tetapi, harus diingat bahwa ada sanksi diberhentikan dari penerima bidikmisi jika melanggar ketentuan universitas, seperti mencemarkan nama baik. Selain itu, mahasiswa harus memiliki IPK minimal 2,50 setiap semester, dan itu dilapor secara online, registasi nama dan IPK “Jadi, kalau nilainya tidak sampai maka beasiswanya akan dihentikan,” ujarnya. Dan jika mahasiswa sudah menikah, menghamili atau dihamili maka beasiswa akan dihentikan.

Pemerintah juga akan menghentikan beasiswa jika mahasiswa tidak aktif dalam kegiatan kampus, seperti bela negara, soft skil: seminar, upacara kenegaraan, serta pembersihan dan pelestarian lingkungan.

Tak hanya itu, jika mahasiswa salah mengisi data atau tidak berdasarkan kenyataan, misalnya foto rumah, pekerjaan orangtua, penghasilan orangtua dll, maka beasiswa KIP-K akan diberhentikan. “Tidak saja diberhentikan, mahasiswa akan kembalikan seluruh biaya SPP maupun biaya hidup. Dan, membayar UKT dengan kategori tertinggi mulai dari semester satu hingga semester dimana mahasiwa diberhentikan,” paparnya.

Karena itu, Warek III juga mengimbau kepada mahasiswa agar melakukan verifikasi tiap tahun. “Tidak hanya kepada semester satu tetapi untuk semua peserta KIP-K. Bagi peserta yang memberikan data tidak benar maka akan segera melapor diri di bagian Kemahasiswaan Undana untuk perbaikan,” pungkasnya.

Marcelino K. P. Abdi Keraf, S.Psi, Psi (Ketua Prodi Psikologi Undana) dalam materinya tentang pengenalan diri meminta mahasiswa berefleksi mengenal diri sendiri, apa dan mengapa harus mendapatkan KIP-K. “Kenapa dari ribuan orang yang datang kuliah, anda adalah salah satu, kenapa saya, kok tidak orang lain. Apa yang harus saya lakukan, berdayakan?” ujarnya memotivasi.

Ia menegaskan, sebagai bentuk cinta dan tanggungjawab mahasiswa terhadap diri sendiri, orangtua dan keluarga harus bertanya kepada diri sendiri, capaian apa yang sudah dilakukan untuk diri sendiri dan manfaatnya untuk orang lain. “Apakah dari rentang hidup nol hingga usia hari ini pernakah mahasiswa mengenali siapa anda sesunggunya? Apakah ada sesuatu yang dibuat untuk keluarga atau bermanfaat bagi keluarga? Atau jangan-jangan kamu justru dipenuhi caci-maki oleh orang-orang lain? Atau menghadirkan masalah dalam keluarga, melanggar norma-norma, membuat orang sekitar sakit hati karena ulah dan sikapmu?”Tanya psikolog tersebut. “Mau sampai kapan membiarkan hidup untuk tidak berarti dan bermakna sampai akhirnya ajal memanggil,” tambanya. Ia menegaskan, salah satu poin yang disampaikan Warek III adalah, jika hamil dan menghamili atau menikah, maka beasiswa akan dihentikan. Terkait dengan psikologi, jelas dia, pada usia semacam ini mahasiswa sering mendengar dari porang tua bahwa tidak boleh berpacaran.

Menurutnya, bukan soal boleh dan tidak boleh dalam berpacaran, tetapi pada usia mahasiswa saat ini, memang aspek biologis sudah berfungsi. “Artinya pacarana dan salah langkah, atau hubungan intim,  kamu harus ingat kenapa orangtua melarang, tidak saja faktor biologis, tetapi kebutuhan aspek seksualitas, hubungan seks juga harus dipenuhui rasa cinta untuk kebutuhan pro kreasi, dan aspek spiritual,” tandasnya.

Karena itu, perkawinan (pernikahan) menurutnya, tidak boleh dilakukan sebelum usia matang, karena aspek pendidikan pun tentu belum matang. “Secara aspek sosial, tidak mudah menyandang gelar sebagai mama dan bapak. Hari ini nikah, besok anda mendapat udangan kumpul keluarga,” katanya.

Hal itu menurutnya berkaitan dengan aspek ekonomi, karena menurutnya, mahasiwa, jangankan menghidupi satu orang, susah mencari nafkah, apalagi menikah dan harus berbagi dengan istri/suami dan anak. Ia justru masih ragu, jika saat ini orang yang bekerja pun rasanya sulit memenuhi kebutuhan hidup dengan gaji atau penghasilannya. Tetapi untuk menghidupi keluarga juga harus dengan berusaha diluar dari gaji atau penghasilan di tempat kerja.

“Kalau sudah faktor ekonomi terhambat, perkawinan akan mendatangkan percekcokan. Karena aspek kematangan usia mental, aspek psikologi, kemampuan olah intelektual, kematangan emosional, spiritual masih belum mumpuni,” urainya. Karena menurutnya, semua orang yang hidup selalu saja menghadapi masalah.

Menurutnya, masalah terjadi karena ekspektasi yang terlampau tinggi dibandingkan kenyataan. “Apa ekspektasimu ketika masuk di kampus Undana, oh saya mau lulus dua tahun, oh menjadi mahasiswa prestasi tingkat nasional. Persoalannya apakah harapan itu sejalan dengan usaha? Ini akan mendatangkan gap, dan gap tersebut akan menjadi maslah,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak mahasiswa agar bias mengolah realitas, mengenal diri sendiri, mengetahui apa yang ada dalam diri mahasiswa, apa yang harus diberikan mahasiswa untuk hidupnya dan untuk membuat hidup lebih berarti bagi diri sendiri dan orang lain. Ia mengajak mahasiswa agar bersyukur kepada Tuhan, karena mahasiswa masih diberi kesempatan mengenyam pendidikan.

Psikolog tersebut juga menyoroti gaya hidup generasi muda belakangan ini yang sudah kecanduan game online. Ia bahkan mengkritisi mahasiswa yang menghabiskan paket data hanya untuk bermain game online ketimbang belajar. “Banyak sekali mahasiswa kita pakai paket data. Minta uang, rampok orangtua, uangnya masuk ke ATM, ambil semua traktir pacar dan teman, foya-foya dari pagi dan malam. Gampang sekali untuk tahu apakah kalian sudah menyimpang atau tidak,” ujarnya.

Untuk mengetahui penyimpangan generasi muda, terutama mahasiswa, yakni: Pertama, terjadi disorientasi waktu. “Kamu hanya (menghabiskan waktu) main game saja. Itu sudah tidak  normal atau abnormal. Istahat itu maksimal 6-8 jam perhari, tetapi kamu (mahasiswa) maksimal dua jam saja. Akhirnya apa? Kuliah terlambat, akhirnya tidak sampai masuk kuliah atau kelas. Bahkan ada yang game onlie sementara dosennya kasih kuliah. Mudah dikenali ketika disoreitasi waktu. Kalian tidak mampu lagi kendalikan diri dari waktu,” tegasnya. Kedua, disorientasi tempat. Menurutnya, generasi muda hari ini tidak peduli lagi di WC, meja makan, kampus, mal dan lainnya. Semua tempat digunakan untuk mengoperasikan smartphone. Akhirnya hal itu kemudian mengabaikan orang-orang yang disekitar (mahasiswa). Ia sangat menyayangkan, saat ini orang merasa ketakutan jika jauh dari handphone atau smartphone. “(Smartphone) ibaratnya Tuhan kedua, bahkan pertama. Hari ini orang katakan dunia tak selebar smartphpobne,” tandasnya.

“Ketergantungan terhadap smartphopne membauat kita tidak peduli kepada orangtua yang setiap hari mengorbankan waktu dan perhatiannya untuk kita,” tambahnya.

Untuk itu, ia meminta mahasiswa agar memperdayakan kelebihan, keunggulan dan talenta yang dimiliki sebagai nilai jual diri, agar menjadi generasi yang berbudaya dan berdaya saing di masa depan.

Sementara Prof. Dr. Mien Ratoe Oedjoe, M.Si dalam materinya tentang Upaya Pengembangan Diri Generasi Muda, meminta kepada mahasiswa agar terus mengembangkan potensi diri, agar seluruh potensi yang ada dalam diri mahasiswa harus dikembangkan. Sebab, generasi muda memiliki semangat dan ide yang diharapkan akan menjadi tumpuan dalam meneruskan tongkat estafet pembangunan Indonesia.

Menurutnya, gender adalah pembedaan peran, sifat dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan yang dibentuk dan dikonstruksi oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

“Seringkali kita dengan orang lain, silahkan gender duluan. Orang mengartikan gender sebatas permpuan. Gender bukan perempuan atau laki-laki saja, tetapi keduanya. Banyak perempuan yang saat ini disebut perempuan kuat, karena itu bisa berubah, karena sekarang ini banyak sekali tuntutan mengharuskan perempuan dan laki-laki berkiprah dengan dunia luar,” paparnya.

Menurutnya, gender sebagai buatan manusia, tetapi kodrat adalah buatan Tuhan, sehingga manusia tidak bisa merubah kodrat manusia.  Ia juga mengkiritisi, LGBT saat ini, menurutnya, LGBT tetap LGBT dan laki-laki tidak bisa melahirkan. “Yang bisa melahirkan adalah perempuan. Secara kodrat adalah perempuan. Kalau laki-laki yang melahirkan itu omong kosong,” tegasnya.

Ia menegaskan, generasi muda itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Tidak hanya itu, generasi muda juga dialamatkan kepada orang-orang terpinggirkan, miskin, berada di posisi marginal, cacat, difable maupun disability. Sehingga terjadi keadilan gender. (ael)

Comments are closed.