logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Naskah Kerja Sama Bisnis Garam Industri Ditandatangani

PT Garam (Persero) dengan Universitas Nusa Cendana (Undana), Jumat (8/11), bertempat di ruang aula lantai tiga Undana Penfui, sepakat menandatangani surat perjanjian kerja sama bisnis  garam industri  dilakukan masing-masing Direktur Utama PT Garam (Persero), Dr.H. Budi Sasongko,SE.,SH.,M.Si.,Ph.D dan Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L.Benu,M.Si.,Ph.D, disaksikan Wakil Rektor IV, Ir. I Wayan Mudita,M.Sc.,Ph.D dan Pejabat dari  PT Garam (Persero). Penandatanganan nota kesepahaman tersebut didahului dengan kuliah umum bersama mahasiswa Undana dengan judul “Pegaraman Nasional dan Prospek Bisnis Garam ke Depan.,”

Dalam sambutannya, Rektor, Prof. Fred Benu memberikan apresiasi kepada para mahasiswa Undana yang telah mengikuti kuliah umum dari PT Garam (Persero), agar dapat membuka wawasan tentang pentingnya garam, sekaligus bagaimana memahami potensi garam di NTT. “Jadi momen kerja sama ini hari dengan PT Garam nasional untuk membangun industry garam di NTT ini, sebagai kontribusi terhadap garam nasional yang ada di NTT,” ungkapnya.

Menurut Benu, di NTT ini potensi garam sangat besar yakni sekitar 1 juta ton pasokan garam per tahun. “Ekspansi lahan Bipolo, proses tanah HGU 225 ha dilanjutkan oleh PT Garam (Persero) dan dilanjutkan dengan pembangunan pabrik garam olahan. Kalau dilihat potensi garam di NTT sangat besar dengan  sebaran masing-masing di beberapa kota seperti di Teluk Kupang 7.700 ha, kabupaten Sabu Raijua 2000 ha, Waingapu 785 ha, Ende 1300 ha, dan Nagekeo 1.050 ha.

Ia berharap, dalam Kabinet baru Indonesia Maju ini, persaolan izin yang menghambat, bisa ditata ulang dengan baik agar import garam nasional 1,3 juta garam setiap tahun bisa dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan itu pihaknya meyakinkan kepada PT Garam nasional bahwa dari Kupang saja bisa patok 1 juta ton garam per tahun, sehingga bisa menambah perekonomian nasional Indonesia, juga menambah pendapatan di NTT.

“Jadi mudah-mudahan kita bisa lakukan itu tentu dengan dukungan masyarakat, juga mahasiswa, karena semua itu untuk mendukung pemda NTT. Semua ini untuk kebaikan di NTT, kebaikan nasional untuk mendorong peningkatan industry garam di NTT sebagai bagian dari kontribusi NTT terhadap industry garam nasional,” kata Rektor, Prof. Fred Benu.

Sebelumnya, Dr.H. Budi Sasongko dalam kuliah umumnya mengatakan bangga karena saat ini garam nasional sudah memiliki pendampingan di sejumlah kota yang memproduksi garam di 25 provinsi di Indonesia.

Di NTT, katanya, awalnya tidak ada garam, akan tetapi pemprov dibawah kepemimpinan gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat, NTT  menjadi daerah yang resmi gudang garam nasional terbesar, bahkan di daratan Timor ke depan kehadiran teknologi akan menjadi daerah penghasil garam nasional terbesar. “Jadi dibalik semua itu, ternyata garam Timor yang kualitasnya luar biasa, karena garam pasarnya berbasis populasi, sangat luas dan berhektar-hektar. Kalau berdasarkan populasi, maka di NTT ini populasinya sekitar 5.200 ha, dan di Kupang sendiri 450 ha, sehingga kalau kita menghitung dengan 5.200, maka nilai ekonomi garam mencapai Rp. 85 M per bulan, sehingga kami bermimpi besar agar garam dapat menyehatkan anak bangsa, karena garam lososa merupakan garam garam yang kuran  natrium untuk mencegah dan mengendalikan hipertensi dan garam segetiga “G” merupakan garam beryodium terbaik di Indonesia,” katanya. [ds]

Comments are closed.