(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Paparkan Visi, Misi dan Program Kerja, Lima Balon Rektor Undana Berkomitmen Memajukan Undana

 

Rapat senat terbuka pemaparan visi, misi dan program kerja calon rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi dibuka oleh Ketua Senat, yang juga Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph. D didampingi Sekretaris Senat, Ir. I Wayan Mudita, M. Si., Ph. D. Rapat senat terbuka digelar di Auditorium Undana, Rabu (25/8/2021) sekitar pukul 09.00 WITA.

Hadir secara luring, Ketua Panitia Pemilihan Rektor (Pilrek) Undana, Dr. Sipri Suban Garak, M. Sc, 52 anggota senat, yang terdiri dari dari berbagai unsur, baik guru besar, dekan, kepala lembaga dan juga perwakilan dosen. Sementara, sejumlah pimpinan fakultas, pascasarjana, lembaga, unit maupun dosen hadir secara daring.

Prof. Dr. Frans Bustan, M. Lib yang didaulat menjadi moderator langsung memimpin jalannya rapat senat, dimulai dengan pengundian nomor urut pemaparan visi, misi dan program kerja bagi lima calon rektor Undana periode 2021-2025. Undian nomor urut masing-masing calon rektor, yakni Prof. Drs. Simon Sabon Ola, M. Hum, Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M. Sc, Dr. Yendris Krisno Syamrud, S.KM., M.Kes, Ir. Franky M. S. Telupere, MP., Ph. D dan Prof. Drs. Mangadas Lumban Gaol, M. Si, Ph. D. Dari visi, misi dan sejumlah program kerja, masing-masing calon rektor Undana berkomitmen memajukan Undana ketika dipercayakan memimpin Undana empat tahun mendatang.

Menuju Universitas Berkelas Dunia

Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M. Hum dalam paparnya, menyatakan momen Pilrek, merupakan pesta demokrasi di Undana. Jika dipercayakan memimpin Undana empat tahun mendatang, Guru Besar Bahasa Indonesia itu akan menjadikan Undana, sebagai universitas yang unggul dan berdaya saing di tingkat nasional dan internasional, melalui penguatan tri dharma Perguruan Tinggi (PT) dalam sistem tata kelola yang transparan, kredibel, dan akuntabel dengan prinsip inovasi tanpa batas, inklusif, adaptif, humanis dalam bingkai karakter keindonesiaan menuju universitas berkelas dunia.

Untuk mencapai visi tersebut, dirinya menjabarkan ke dalam delapan misi. Namun demikian, ia mengaku, misi tersebut belum cukup menjawab seluruh kebutuhan dan mengatasi segala kelemahan di Undana. Prof. Simon mengangkat sejumlah hal yang bisa dilakukan bersama seluruh civitas akademika Undana, untuk membawa Undana ke depan menjadi lebih baik. “Artinya, apa yang sudah dilakukan oleh rektor sebelumnya, semuanya baik. Tetapi kita berharap, ke depan, kita terus bergerak maju, kita tidak boleh berada di tempat, tidak boleh bangga dengan apa yang ada saat ini saja,” papar Prof. Simon. “Karena jika kita diam, maka kita sedang memberi kesan, kita sedang mundur. Kita harus bergerak dengan kapasitas dana yang ada kita mencoba untuk bersaing untuk menjadi universitas kelas internasional, kelas dunia. Kita berproses untuk menuju ke sana,” sambung Prof. Simon.

Karena itu, misinya adalah: Pertama, membudayakan pelaksanaan  tri dharma PT secara terintegrasi. “Tri dharma PT mesti dikemas dalam satu kesatuan sehingga riset, materi pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat merupakan satu kesatuan yang sifatnya holistik. Karena itu, kita harus menjadi garda terdepan untuk mengatakan bahwa materi kita yang dikembangkan berbasis riset,” paparnya.
Kedua, menyelenggarakan tata kelola yang sehat, transparan, kredibel dan akuntabel. Menurutnya, apa yang dipaparkan, semuanya sudah ada tetapi mesti terus diperkuat. Ketiga, meningkatkan jumlah dan mutu dosen dan pegawai. Keempat, mendorong pengembangan Prodi baru dan pembukaan Prodi berbasis sumber daya alam dan sumber daya budaya. Dengan adanya kampus merdeka, merdeka belajar, akan memperkuat otonomi PT untuk memudahkan membuka Prodi baru. “Kita mencoba membuka Prodi yang berbasis SDA NTT dan SDM kita,” ujarnya.

 

51 anggota Senat Undana serius menyimak pemaparan visi, misi dan program kerja bakal calon Rektor Undana Periode 2021-2025 di Auditorium Undana, Rabu (25/8/2021).

 

Kelima, membangun jejaring secara berjenjang sesuai dengan kapasitas, keahlian, fasilitas, dan kondisi finansial. Keenam, mendorong digitalisasi pada berbagai aspek pengelolaan, baik akademik, keuangan, dan sarana/prasarana. Ketujuh, mendorong Undana sebagai BLU dalam menciptakan sumber-sumber pendapatan non-akademik demi kesejahteraan dosen dan pegawai, dengan tetap mengutamakan penguatan Tridarma Perguruan Tinggi. “Karena kita diberi ruang untuk mencari pendapatan dari jalur non-akademik, maka kita harus perkuat,” tandasnya. Kedelapan, menciptakan kepercayaan publik nasional dan internasional terhadap Undana sebagai PTN tertua dan terbesar di salah satu kawasan terdepan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain menyampaikan delapan misi itu, Prof. Simon juga menyampaikan strategi pencapaian misi-misi tersebut.

Menurutnya, strategi tersebut merupakan penjabaran dari misi secara holistik, sebagai langkah nyata yang dilakukan dirinya, jika terpilih dan dipercayakan memimpin Undana. “Apa yang dilakukan sesungguhnya merupakan program kerja sebagai pedoman/ panduan, janji, dan komitmen minimal, sekaligus prasyarat bagi perubahan menuju ke universitas yang lebih maju, berkembang dan dipercaya publik dan secara bertahap menuju ke universitas kelas dunia,” tandasnya. Ia menegaskan, Undana harus menjadi bagian dari upaya untuk mewujudkan impian Indonesia pada 2045 ketika HUT yang ke-100 kemerdekaan Indonesia.

Untuk mencapai impian itu pulalah pemerintah dan DPR telah menghasilkan UU Cipta Kerja, Omnibus Law pada tanggal 5 Oktober 2020, yang salah satu klusternya ialah “Dukungan Riset Inovasi” yang antara lain diharapkan lahir dari Perguruan Tinggi di “Bumi Cendana”, Universitas Nusa Cendana. Program yang lebih aktual saat ini untuk menjawab lulusan yang unggul ialah Perogram Kampus Merdeka-Merdeka Belajar (KMMB) yang digagas oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Program ini jika diterapkan secara holistik maka akan menghasilkan lulusan Universitas Nusa Cendana yang bermutu dan unggul.

Universitas Berorientasi Global

Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M. Si., Ph. D dalam paparannya menyebut, 31 tahun di Undana sebagai sebuah panggilan moril untuk menjadi bagian bagi perjalanan Undana. Dr. Maxs menyebut, visi Undana jika dirinyan terpilih menjadi Rektor periode 2021-2025, yakni “Universitas berorientasi global melalui peningkatan mutu, relevansi dan daya saing berbasis keunggulan komparatif dan kompetitif kawasan lahan kering kepulauan”. Menurutnya, universitas berorientasi global merupakan visi Undana yang ditetapkan melalui 4 (empat) tahapan peta jalan pengembangan Undana 2007-2025.

Dari berbagai dokumen publik Undana, Global menurut Dr. Maxs, memiliki arti “Pola pikir, pola pandang dan pola aksi keilmuan Undana dalam mengedepankan keunikan wilayah geobiosospolbud, sehingga menjadi perguruan tinggi yang berakar dan bertumbuh pada lingkungan lokal serta berkiprah sebagai perguruan tinggi terkemuka di bidang lahan kering kepulauan di kawasan Asia-Pasifik,” papar mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) itu.

Dari visi tersebut, mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) ini menyebut, ada empat misi utama, yakni: Pertama, peningkatan mutu SDM menjadi unggul dan adaptif. “Upaya mewujudkan visi yang dicanangkan, didasari oleh pentingnya memiliki SDM dosen dan tenaga kependidikan yang unggul dan adaptif,” paparnya. Ia menambahkan, Undana dalam perkembangannya, sangat perlu meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM sesuai parameter Utama yang selama ini menjadi acuan yaitu peningkatan jumlah dosen dengan jenjang pendidikan S-3 dan juga jenjang fungsional Lektor Kepala dan Guru Besar.

Terkait Guru Besar, Dr. Maxs berjanji, dirinya sejak menjadi dosen, memiliki cita-cita menjadi dosen. Karena itu, meski saat ini belum mendapat gelar guru besar, namun ia yakin ketika waktunya tiba, dirinya akan menyandang gelar Guru Besar.

Kedua, pengembangan kualitas mahasiswa menjadi lulusan yang terampil, lentur dan ulet (agile learner). Ia memaparkan, kemerdekaan bagi mahasiswa dalam transformasi pembelajaran menjadi kunci dalam menghasilkan lulusan yang terampil, lentur dan ulet (agile learner) menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan ekonomi, sosial, dan budaya yang terjadi dengan sangat cepat di masa yang sangat dinamis ini.

Untuk itu, jelas Dr. Maxs, perubahan kurikulum dan pedoman akademik, optimalisasi penjaminan mutu pembelajaran, pembentukan karakter, kegiatan pembelajaran sesuai prinsip Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) merupakan beberapa tools transformasi pembelajaran yang sangat ditekankan dalam misi tersebut. “Harapannya, agile learner yang dihasilkan melalui misi ini mampu menghadirkan Undana melalui mahasiswa dan lulusan sebagai mata air bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan budaya dan peradaban bangsa secara langsung,” paparnya.

Ketiga, peningkatan inovasi dan sinergi tri darma. “Tuntutan agar dosen mampu hadir sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran menggunakan inovasi pembelajaran seperti pembelajaran jarak jauh (e-learning), pemanfaatan referensi berbasis digital (e-library, e-journal, e-book, video, massive Open Online Courses/MOOC), pemanfaatan software/aplikasi pembelajaran, penguasaan bahasa asing, pembelajaran di luar kampus, pembelajaran studi kasus dan team project merupakan beberapa optimalisasi inovasi pembelajaran yang akan diterapkan,” jelasnya.

Keempat: peningkatan tata kelola bercirikan Excellent University Governance, diantaranya dengan cara; profesionalitas pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU), optimalisasi tata kelola, hingga peningkatan kualitas sarana dan prasarana.

Dari misi tersebut, Dr. Maxs, memiliki empat program kerja utama sebagaimana misinya. Namun, empat program tersebut memiliki capaian indikator. Beberapa indikator, papar Dr. Maxs, yakni: Pertama, peningkatan kualitas dan kuantitas dosen, dengan capaian indikator, yaitu: peningkatan jumlah dosen berkualifikasi S-3, peningkatan jumlah dosen dengan jabatan fungsional Lektor Kepala dan Guru Besar, penyesuaian rasio dosen dan mahasiswa, peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga kependidikan, dengan indikator, yakni peningkatan jumlah tendik mengikuti diklat atau pelatihan bersertifikat, penyesuaian rasio tendik dan mahasiswa. Sementara, penguatan kapasitas dosen, dengan capaian indikator, peningkatan jumlah dosen bersertifikat profesi selain sertifikasi dosen dan peningkatan jumlah dosen yang bekerja diluar kampus.

Kedua, peningkatan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran sesuai MBKM, dengan sejumlah capaian indikator, yakni: Pertama, Jumlah mahasiswa mengikuti program MBKM yang dilaksanakan oleh kementerian / universitas / fakultas / prodi. Kedua, Jumlah mahasiswa memperoleh prestasi nasional dan internasional. Ketiga, Jumlah kegiatan nasional dan internasional. Keempat, Jumlah lulusan yang langsung mendapat pekerjaan, melanjutkan studi, atau menjadi wiraswasta. Kemudian, peningkatan kualitas tri dharma penelitian dan PKM mahasiswa, dengan indikator program, yakni: Pertama: Publikasi ilmiah mahasiswa (mandiri atau bersama dosen) di tingkat internasional / prodi. Kedua, Luaran PKM berupa HKI, TTG, Produk, rekayasa sosial dan seni, buku ber-ISBN / prodi.

Ketiga, pengembangan inovasi pembelajaran, dengan indikator kegiatan program, yakni: Pertama, inovasi dan pemanfaatan teknologi dalam layanan pendidikan dan pengajaran berbasis modul online. Kedua, mata kuliah menerapkan model pembelajaran case method dan/atau team project. Ketiga, Penguatan future skills platform bagi dosen dan mahasiswa. Keempat, penerapan kegiatan pembelajaran MBKM pada prodi. Selain itu, penguatan dan optimalisasi penelitian dan PKM dengan indikator kegiatan program, yakni: Pertama, Publikasi yang memperoleh rekognisi internasional. Kedua, Luaran PKM yang sesuai dengan kriteria penerapan di masyarakat. Ketiga, Penelitian dan PKM dosen yang melibatkan mahasiswa.

Keempat, peningkatan mutu layanan dengan indikator kegiatan program sebagai berikut: Pertama, optimalisasi pelaksanaan SPMI berjenjang di tingkat fakultas dan Prodi sesuai siklus PPEPP. Kedua, Program studi terakreditasi unggul dan/atau internasional. Ketiga, Prodi baru. Keempat, Program studi Internasional dan Jumlah mahasiswa asing. Kelima, Pengembangan kualitas birokrasi Undana. Keenam, Peningkatan Kualitas Sarana Dan Prasarana. Ketujuh, Peningkatan Kualitas Sarana Dan Prasarana Income Generating Unit (IGU).

Ia memaparkan, ada beberapa kondisi eksternal, menjadi dasar munculnya program-program, diantaranya adalah revolusi Industri yang mengakibatkan peralihan profesi hingga hilangnya pekerjaan konvensional. Selain itu, munculnya kecerdasan buatan atau artifisial intelligent. Karena itu, ia berharap program-program yang ia paparkan dapat menghasilkan sejumlah kompetensi, sesuai perkembangan revolusi industri 4.0, yakni: Pertama, literasi data. “Sebagai dunia pendidikan, kita harus konsen. Kita tidak harus fokus pada literasi lama, pada kompetensi baca, tulis dan hitung, tapi kompetensi litetrasi data; kemampuan membaca dan menganalisis menggunakan big data pada dunia digigal, agar kita tidak terjebak dalam hoaks dan asumsi kesimpulan yang dibuat tanpa data,” tandasnya.

Kedua, literasi teknologi. Menurutnya, penguasaan iptek harus dikuasai seiring dengan kemajuan revolusi industry 4.0. Ketiga, literasi manusia, dimana dunia pendidikan dituntut menghasilkan lulusan yang humanis dan bermartabat, tidak saja terampil mahir gunakan pengetahuan dan teknologi, tetapi harus memiliki karakter sebagai manusia. Jika tidak akan menghancurkan peradaban manusia, literasi manusia.

Keempat, computational thinking, dimana kemampuan untuk menganalisis data. Kelima, critical thinking. Kemampuan untuk berpikir kritis, selalu menguji dan menganalisis semua fenomena. Keenam, kemampuan memecahkan masala (problem solver). Karena itu, ia berharap kurikulum saat ini bisa disesuaikan agar enam kompetensi ini bisa dikuasai oleh lulusan-lulusan Undana.

Untuk itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Undana ini juga berharap adanya kolaborasi pentahelix dan multi helix. Ia menegaskan, Undana bisa melakukan kerjasama dengan masyarakat, swasta, dan media. “Kolaborasi menjadi sangat penting, sebagai satu kompetensi penting bagi mahasiswa dan dimulai dari dosen, dosen harus jadi motivasi dan inspirasi utama. Kita tidak mungkin menyuruh orang kolaborasi dan santun dalam bersikap, kalau kita tidak pernah memberi diri bagi contoh keteladanan,” paparnya.

Dr. Maxs menambahkan, Indonesia saat ini sedang menyongsong bonus demografi dalam periode 2030-2040. Karena itu, pendidikan menjadi hal yang amat penting, agar orang-orang muda bisa diberdayakan. Salah satunya, maka Mendikbudristek merilis Program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM). “Targetnya bagaimana mahasiswa kita melalui transformasi pembelajaran bisa meningkatkan kapasitas dirinya terutama untuk mengajarkan enam kompetensi yang disebutkan sebelumnya,” paparnya. Dari segi keunggulan kompratif, jelas Dr. Maxs, Undana berada di lahan kering kepulauan, yang bisa digunakan sebagai keunggulan kompetitif menuju universitas berwawasan global.

Dr. Yendris K. Syamud, S.KM., M. Kes dalam paparannya, menyampaikan beberapa kondisi Undana saat ini, diantaranya, terkait akreditasi institusi dan sejumlah Prodi. Ia katakan, Undana memeroleh predikat akreditasi B. Meski demikian, menurutnya, masih banyak PR yang harus dikerjakan pada tataran Prodi, sebagai ujung tombak proses pembelajaran.
Menurutnya, ada semangat untuk meningkatkan akreditasi prodi, demikian juga jumlah mahasiswa baru yang masuk. Dalam Peraturan Rektor nomor 10/2020 Renstra Undana 2020-2024, Undana masih diminati banyak lulusan. Selain itu, ia juga mendukung upaya meningkatkan jumlah publikasi berskala internasional. Hal tersebut menurutnya, perlu dijaga dan dikembangkan.

Kendati demikian, menurutnya, persoalannya adalah lulusan Undana masih 18 persen lulusan yang masih menunggu bekerja setelah lulus. Ia menyadari, bahwa saat ini semua civitas akademika, baik dosen maupun pegawai merupakan generasi baby boomers, x. Karena itu, bagaimanapun harus menyesuaikan dengan mahasiswa, yang merupakan kategori generasi z dan alfa dengan minat hobi, latar pemikiran dan kreatiditas yang diperlukan dalam literasi teknologi dan informasi.

Kampus Sehat, Ungul dan Bermartabat

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) ini menyebut, visinya adalah perguruan tinggi yang sehat, unggul dan bermartabat tahun 2025. “Orang selalu katakan, kesehatan bukan segalanya, tetapi tanpa kesehatan semuanya tidak berarti, sehat bukan rohani saja tapi sosial, manajemen dan regulasi,” ujarnya. Meski demikian, ia juga menyebut, dirinya akan tetap menggunakan visi Undana saat ini, karena telah menjadi bagian dari renstra Undana.Untuk mewujudkan visi tersebut, ada empat misi yang disampaikan, yakni: Pertama, pendidikan yang berkualitas, berkarakter dan tanggap zaman. Kedua, penelitian dasar dan penelitian terapan yang inovatif berbasis lahan kering kepulauan, serta pengabdian pada masyarakat yang berkualitas. Ketiga, meningkatkan kualitas tata kelola yang sehat dan terpercaya menuju tata kelola yang unggul. Keempat, jaringan kerjasama yang produktif dan berkelanjutan dengan lembaga pendidikan, pemerintahan, dan dunia usaha di tingkat daerah, nasional, internasional.

Selain itu, Dr. Syamrud juga memaparkan delapan program kerja untuk mencapai visinya, yakni: Pertama, meningkatkan kapasitas akademik dosen. Kedua, meningkatkan kapasitas tenaga kependidikan, khususnya literasi teknologi sampai ke tingkat Prodi. Ketiga, prestasi mahasiswa dan mutu lulusan serta jejaring alumni. Keempat, penjaminan mutu (akreditasi prodi). Mendorong Prodi kategori B jadi A. Kelima, penguatan program PPs dan pendidikan profesi. Keenam, tatakelola dan implementasi sistem remunerasi. Ketujuh, mutu faktor pendukug, seperti membangun pusat studi yang tanggap zaman. Menurutnya, Undana berada dalam area bencana, sehingga perlu pusat mitigasi bencana. Kedelapan, mutu perluasan teknologi informasi dan komunikasi.

Pada akhir paparannya, ia menegaskan, yang muda mampu, yang muda harus tampil. Sudah saatnya yang muda tidak tidur, karena yang muda hanya bisa jadi generasi rebahan tetapi mampu berkontribusi bagi Undana.

Undana Milik Bersama

Prof. Dr. Mangadas L. Gaol, M. Si dalam paparannya ingin mewujudkan Undana, sebagai milik bersama. Untuk itu,  dirinya menginginkan Undana menjadi PT yang unggul dan berdaya saing di tingkat nasional dan internasional. Caranya, menurut Prof. Mangadas dengan memperbaiki pemeringkatan Undana. Karena itu, misi yang ditawarkan adalah: Pertama, peningkatan pengelolaan website Undana. Menurutnya, semua penelitian dan pengabdian dosen harus dipublikasikan di website. Kedua, meningkatkan kualitas tata kelola Undana sebagai PTN BLU baik dan siap berubah menjadi PTNBH.

Ketiga, meningkatkan kualitas tata kelola tri dharma PT dan menghasilkan lulusan bermutu dengan penerapan program Kampus Merdeka-Merdeka Belajar. Keempat, meningkatkan kualitas SDM yang tercakup di dalam civitas akademika dan pegawai. Kelima, meningkatkan kualitas kerjasama di dalam dan luar negeri dan atau dunia usaha dan industri untuk mendukung pelaksanaan tri dharma PT dan kapasitas PTN BLU.

Sementara, beberapa program yang akan dilakukan, ungkap Prof. Mangadas, diantaranya adalah: Pertama, meningkatkan pemeringkatan Undana. “Jika saya dipercayakan, salah satu yang saya kejar adalah pemeringkatan Undana, baik nasional maupun internasional, dengan membentuk tim webometric, dan melakukan seminar tentang pemeringkatan,” ujarnya. Ia juga berkeinginan membentuk staf dan student mobility. Selain itu, ia juga berkeinginan untuk membuka kelas internasional dengan Prodi yang dianggap layak, terutama dengan memperkuat sistem belajar daring,” ujarnya.

Kedua, peningkatan status akreditasi institusi dan Prodi. Salah satunya dengan persiapan dokumen akreditasi prioritas pada Prodi, baik untuk akreditasi baru maupun re-akreditasi. Ketiga, meningkatkan sistem penjaminan mutu internal, salah satunya meningkatkan peran LP3M Undana dalam mendorong peningkatan akreditasi. Keempat, peningkatan sarana dan prasarana, terutama infrastruktur untuk layanan tri dharma dalam mendukung peningkatan akreditasi. Kelima, peningkatan anggaran Prodi. Menurutnya, perlu komitmen anggaran untuk Prodi dalam rangka meningkatkan kapasitas Prodi. Keenam, meningkatkan penataan dokumen untuk mendukung akreditasi, diantaranya dalam konteks kearsipan, proses administrasi, maupun digitalisasi dokumen.

Ketujuh, meningkatkan kapasitas SDM dosen dan tenaga kependidikan, diantaranya dengan meningkatkan jumlah dosen, kapasitas dosen, dan keterlibatan dosen dalam forum ilmiah tingkat nasional dan internasional hingga pelatihan dan studi lanjut bagi laboran dan tenaga pustakawan, serta merekrut pegawai sesuai bidang kerja dan analisis kebutuhan.

Kedelapan, meningkatkan kinerja penelitian, pengabdian dan publikasi, diantaranya dengan infrastruktur pendukung, kerjasama, pemanfaatan hasil-hasil penelitian hinga menyelenggarakan klinik manuskrip.
Kesembilan, menginisiasi Prodi potensial memperoleh sertifikasi/ akreditasi internasional. Kesepuluh, pembukaan Prodi baru, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Kesebelas. Ia menyebut, dari 27.779 Prodi aktif tahun 2019, hanya 430 Prodi yang telah memperoleh rekognisi internasional. Menurutny, jumlah Prodi yang telah memperoleh rekognisi internasional sangat kecil dibanding dengan jumlah Prodi.

Keduabelas, peningkatan kapasitas Prodi peminat rendah, khususnya Prodi Budidaya Perikanan, Manajemen Sumberdaya Perairan, Pendidikan Teknik Bangunan dan lainnya, perlu ditingkatkan lagi student body.
Ketigabelas, meningkatkan implementasi Kampus Merdeka, Merdeka Belajar dengan beberapa kegiatan, salah satunya adalah pertukaran mahasiswa magang, kampus mengajar, penelitian, kewirausahaan, proyek kemanusiaan, proyek independen, membangun desa/KKN tematik dan lainnya.

Keempatbelas, pengembangan PPs, diantaranya meningkatkan status akreditasi, fasilitas hingga mengupayakan adanya beasiswa dengan melakukan pendekatan dengan Kementerian. Hal ini untuk memperbesar peluang mahasiswa yang berasal dari luar NTT. Sebab, menurut Prof. Mangadas, PPs di kampus lain yang seusia dengan PPs Undana, sudah memiliki puluhan Prodi. Kelimabelas, meningkatkan kapasitas UPT Perpustakaan, dengan menjadi perpustakaan digital dan kolaborasi dengan PT lain.
Keenambelas, pengembangan kapasitas teknologi, informasi dan komunikasi dengan meningkatkan UPT Teknologi, Informasi dan Komunikasi dalam mengembangkan teknologi dan informasi di Undana. Ketujubelas, meningkatkan fasilitas lab di semua Prodi dan mendorong lab bersertifikat di Undana.

Selain itu, papar Guru Besar Fakultas Sains dan Teknik (FST), perlu penguatan fungsi kelembagaan dan peningkatan kapasitas PTN BLU. Ia berkeinginan, meningkatkan kinerja senat dengan mengizinkan ketua senat dipimpin bukan seorang rektor, begitupun dengan ketua senat tingkat fakultas. Pihaknya juga akan melakukan penataan Biro pada kantor Rektorat, penguatan fungsi dan peranan senat fakultas.

Undana sebagai rumah bersama, ungkap Prof. Mangadas, jika dirinya terpilih maka ia akan berupaya meningkatkan pendapatan, terutama non akademik, penguatan iklim demokrasi, peningkatan kinerja fakultas dan Prodi. Ia menambahkan, akan mengimplementasikan OTK dan statuta Undana yang baru dengan prinsip-prinsip tata kerja yang menjamin terselenggaranya praktek-praktek pengelolaan yang baik dan profesional.

Untuk meningkatkan kapasitas PTN BLU, pihaknya akan melakukan peningkatan kapasitas Badan Pengelola Usaha (BPU), dan meningkatkan pendapatan unit usaha dengan menghasilkan pendapatan non akademik.
Menurutnya, RSU Undana sebaiknya dipimpin seorang direktur yang dibantu dua orang wakil dan hal itu akan diatur dalam peraturan rektor. Termasuk, meningkatkan kapasitas klinik hewan melalui peralatan, fasilitas dan kapasitas guna meningkatkan pendapatan BLU.  Selain itu, penguatan sistem perencanaan dan anggaran untuk meningkatkan kinerja UKPBJ dalam pengadaan barang dan jasa. Ia menyebut, pengelolaan aset BLU dilakukan juga dengan mekanisme kerjasama operasional dan kerjasama SDM dan atau manajemen.

Terkait bidang pengabdian pada masyarakat, Prof. Mangadas juga akan meningkatkan kapasitas pusat-pusat studi dalam melaksanakan kegiatan pengabdian, meningkatkan kapasitas dosen melakukan pengabdian, meningkatkan publikasi dan pemberian insentif publikasi. Peningkatan kualitas jurnal dan keterlibatan mahasiswa dalam publikasi. Perlu pembentukan tim pengelola jurnal tingkat universitas.

Menurut Prof. Mangagas, dosen kontrak, bisa mendapat serdos dan pangkat, karena ada dosen Undana yang keluar dari Undana mendapat serdos di kampus swasta, sehingga ini juga harus diurus. Menariknya, ungkapnya, guru besar yang purna bakti harus dimanfaatkan, karena Undana saat ini kekurangan guru besar. Selain itu, ia juga akan fokus meningkatkan program kerjasama, terutama berkaitan dengan kampus merdeka, merdeka belajar. “Orang ahli industri datang ke Undana, dosen Undana terlibat dalam industri,” ujarnya. Kerjasama juga diperlukan untuk meningkatkan peran Undana membangun daerah dan pengembangan Pola Ilmiah Pokok Undana. “Terus terang, saya calonkan diri sebagai calon rektor hanya untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai dosen membangun Undana, walaupun dengan kondisi dan sistem yang sangat sulit,” pungkasnya.

Sementara Ir. Franky M. S. Telupere, MP., Ph. D mengawali paparannya menjelaskan kondisi eksisting Undana saat ini. Data tahun 2019, kata Telupere, terdapat 794 dosen, menurutnya, merupakan sebuah kekuatan besar. Jika dibanding tahun 1964, yang hanya memiliki 21 dose pada dua fakultas: FKIP dan FKKH. Dalam perkembangan 2007-2025, Undana membuat satu road map dan saat ini berada pada tahapan daya saing internasional berbasis keunggulan lokal, yakni 2021-2025. “Mau saya bahasakan dengan sederhana, produk lokal kualitas internasional. Tidak ada dosen bule mengajar di Undana, dulu masih ada Richard Suterland dan Jhon, kini orang lokal akan berusaha menciptakan lulusan kualitas internasional,” bebernya.

Telupere banyak mengapresiasi dan mendukung kinerja pimpinan terdahulu. Diantaranya kinerja pendidikan dan pengajaran, sudah 59 Prodi dan akreditasinya sudah cukup baik. Sementara itu, jumlah mahasiswa Undana saat ini sudah mencapai 30 ribu. “Apa yang kita sudah capai sudah bagus, IPK sudah bagus, karna merupakan indikator penilaian kinerja pendidikan, angka efieiensi edukasi, normalnya 25 persen, dan kita pernah 20 persen, mudah-mudahan ke depan jadi lebih baik,” paparnya.

Dukung Visi-Misi Kemendikbudritek

Ketika dipecayakan memimpin Undana, maka visi yang ia tetapkan masih sama dengan yang ada saat ini, yakni universitas berorientasi global. Pasalnya, visi kerja tersebut, menurutnya, mendukung visi dan misi Kemendikbudristek melalui peningkatan mutu, relevansi dan daya saing global berbasis budaya lahan kering kepulauan. Untuk itu, beberapa misi yang diusung, yakni: Pertama, perluasan dan peningkatan akses, mutu pendidikan tinggi yang relevan, adil, inklusif, yang berciri budaya layah kering kepulauan, baik secara daring maupun luring.

Kedua, pengembangan karakter, minat, bakat dan kesejahteraan mahasiswa. Ketiga, peningkatan mutu sumberdaya dan tata kelola pendidikan tinggi tinggi yang partisipatif, transparan, dan akuntabel, yang berbasis digital dan akuntabel. Keempat, peningkatan kerja manajemen BLU dan sistem informasi yang sudah ada.

Untuk mewujudkan misi tersebut, maka ia memiliki beberapa program kerja, yakni: Pertama, bidang pendidikan dan pengajaran, mencakup: Pertama, penerapan program merdeka belajar, kampus merdeka bagi semua mahasiswa. Kedua, menyelenggarakan proses belajar mengajar baik daring maupun luring secara konsisten. Ketiga, meningkatkan angka efisiensi edukasi lebih dari 20 persen dan menurunkan lama masa studi kurang dari 10 semester. Keempat, mempertahankan IPK mahasiswa. Kelima, peningkatan kualitas dan kompetensi tenaga pengajar. Keenam, peningkatan kualitas output melalui penerapan KBK beroritentasi KKNI secara konsisten dan implementasi soft skill secara objektif. Ketujuh, peningkatan evaluasi program studi akreditasi. Kedelapan, peningkatan sarana dan prasarana penunjang proses belajar mengajar.

Kedua, bidang penelitian, mencakup: Pertama, peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian. Kedua, peningkatan motivasi, gairah dan teknis meneliti. Ketiga, peningkatan publikasi ilmiah dalam jurnal bereputasi baik nasional, internas scopus dan web of science. Keempat, pemberdayaan pusat-pusat yang ada sebagai income generating.
Ketiga, bidang pengabdian kepada masyarakat, yakni: peningkatan kualitas dan kuantitas PKM, peningkatan pelatihan pelayanan kepada masyarakat baik daring mau luring, peningkatan peran desa binaan, peningkatan kualitas KKN secara daring maupun luring, peningkatan sinergi pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kewirausahaan.

Keempat, bidang kemahasiswaan, yakni: peningkatan layanan kepada mahasiswa, pembinaan minat dan bakat mahasiswa, peningkatan organisasi kemahasiswaan, pembinaan kegiatan kemahasiswaan, pengembangan kreativitas mahasiswa dan peningkatan rasa nasionalisme. Kelima, bidang sumber daya manusia, mencakup peningkatan kualitas dosen baik lewat pendidikan formal, maupun non formal, rekrutmen tenaga dosen dan peningkatan jabatan dan jumlah dosen ke lektor kepala dan guru besar. Keenam, kelembagaan, yakni meningkatkan status akreditasi semua Prodi, paling sedikit lima Prodi berakreditasi A atau unggul, penguatan kapasitas LP3M dan SPI, peningkatan sarana dan prasarana dan pembentukan sekretaris rektorat.

Ketujuh, bidang kerjasama, mencakup: Pertama, menjaring kerjasama dengan semua pihak, baik pemerintah, swasta, LSM dalam bidang tri dharma. Kedua, mempebarui MoU yang sudah kadaluarsa. Ketiga, memuat MoU harus dengan pihak pemerintah maupun PT dalam maupun luar negeri.
Keempat, menindak MoU yang sudah ada dengan MoA agar ada kegiatan yang nyata dalam kerjasama tersebut serta pembentukan alumni.

Kedelapan, bidang manajemen kinerja BLU dan sistem informasi, mencakup: optimalisasi peran BLU, penguatan sistem informasi manajemen, website, informasi, dan komunikasi teknologi.
Kedelapan, bidang kesejahteraan, yakni penguatan sistem penghargaan dan kesejahteraan bagi dosen dan pegawai Undana dan peningkatan layanan kepada civitas akademika Undana.

Pada akhir paparannya, Telupere menyebut, bukan secara kebetulan, menjelang usia Undana yang 59, ada 59 prodi di undana. Menurutnya, hal itu karena semua upaya telah dilakukan oleh para pendahulu selam 59 tahun merupakan starting point dalam melanjutkan kepemimpinan nantinya. “Saya tidak akan meletakan fondasi baru dengan mengubah visi, misi yangg telah ada, namun, akan melalukan berbagai penyesuaian sesuai degan perk ipteks zaman dan kebutuhan pengguna, serta kampus merdeka-merdeka belajar,” pungkasnya.

Untuk diketahui, setelah pemaparan visi, misi dan program kerja, lima bakal calon rektor tersebut akan mengikuti pemilihan pertama, keesokan harinya pada tanggal 26 Agustus. (rfl).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »