(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Pegawai Undana Minta Bekerja dari Rumah

  • Khawatir Terpapar Covid-19
    NTT Masih Negatif

Pandemi Covid (Corona virus disease)-19 yang melanda Indonesia, bahkan dunia kini semakin mengkhawatirkan. Korban yang terpapar covid-19 pun kini semakin meningkat di dunia, termasuk di Indonesia. Untuk mencegah penyebaran virus asal Wuhan itu, maka pemerintah Indonesia tengah menginstruksikan beberapa anjuran, misalnya, menjaga kesehatan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, rajin mencuci tangan dengan hand sanitizer dan sejenisnya, menjaga jarak dengan orang lain (social distancing). Khusus untuk social distance, pemerintah telah meliburkan sekolah, kampus bahkan aktivitas perkantoran, maupun aktivitas sosial lainnya yang melibatkan massa.

Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph. D sendiri telah mengeluarkan edaran dengan menindaklanjuti edaran Menteri Kesehatan RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Edaran nomor 1699/UN 15.1/TU/2020 yang dikeluarkan 16 Maret lalu tersebut, diantaranya, menegaskan kembali kepada seluruh dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan untuk selalu mempraktekkan dan membudayakan pola hidup bersih dan sehat bagi diri sendiri dan lingkungan di unit masing-masing sesuai surat edaran Rektor Undana tanggal 5 Maret 2020 tentang pencegahan Covid-19. Kedua, perkuliahan teori tatap muka,  jika dimungkinkan dapat dilakukan dengan E-learning dan / atau metode lainnya yang relevan sesuai dengan kompetensi yang hendak dicapai. Ketiga, perkuliahan praktikum (laboratorium, bengkel, lapangan atau yang sejenisnya dilaksanakan dengan bentuk pemberian tugas lain yang relevan sesuai dengan capaian pembelajaran. Keempat, pelaksanaan KKN, PKL, PPL dan sebagainya untuk sementara waktu ditunda atau dijadwalkan ulang.

Beberapa pegawai Undana yang berhasil dimintai komentarnya oleh media ini, Senin (23/2/2020) mengaku khawatir dengan penyebaran Covid-19 yang kian cepat dan mengancam nyawa manusia. Karena itu, mereka meminta agar pihak Undana bisa mengambil kebijakan agar pegawai Undana pun bisa bekerja dari rumah. Sebab, hingga pekan ke empat Bulan Maret, pegawai Undana di setiap unit masih bekerja seperti biasa. Salah satu pegawai Undana yang tidak mau disebutkan namanya mengaku, jika mahasiswa diliburkan dan melakukan kuliah secara daring, maka sebaiknya pegawai Undana pun berkerja secara daring. “Ini kan mahasiswa yang diliburkan, tetapi bagaimana dengan pegawai. Kita tetap akan bekerja, selagi ada instruksi dari pimpinaan. Bukan kita libur untuk tujuan kumpul-kumpul keluarga, piknik ke tempat umum atau hura-hura di luar sana,” ujarnya.

Ia mengaku, bekerja di kantor membuat pihaknya khawatir karena ada kontak sosial dengan  rekan kerja. Padahal, Covid-19 bekerja secara senyap dan tidak diketahui secara pasti. Apalagi, diketahui ada pegawai Undana yang bertugas ke luar daerah tetapi masih masuk ke kantor. Menurutnya, bukan menuduh, tetapi ia menduga, jangan sampai riwayat perjalanan bisa membuat Covid-19 beredar luas.
“Kan baru-baru ini ada pegawai rektorat yang ke luar daerah, tetapi kembali masuk ke kantor. Beruntung ia ditegur pimpinan dan kemudian dirumahkan beberapa hari. Ini kan bahaya,” ungkapnya.

Sementara itu, pegawai yang lain pun mengaku, khusus di NTT, belum ada yang positive terpapar sehingga, masyarakat sebaiknya mengurangi kepanikan yang berlebihan. “Kita sebaiknya jangan panik. Kalau panik, maka kondisinya seperti ini. Di mana-mana masker habis. Hand sanitizer juga habis. Ini akibat kepanikan berlebihan,” urainya.

Meski demikian, ia mendukung upaya pencegahan yang dilakukan Pemerintah Indonesia, khususnya Pemerintah NTT dalam pencegahan covid-19.

Ditanya soal pegawai Undana yang masih bekerja, kata dia, hal itu sepenuhnya merupakan kebijakan mutlak dari pimpinan Undana. “Mungkin pimpinan Undana punya pertimbangan tersendiri, sehingga belum meliburkan pegawai atau belum ada kebijakan kerja dari rumah,” ujarnya.

Para pegawai berharap agar Covid-19 segera berlalu dari Indonesia, bahkan dunia sehingga aktivitas manusia bisa berjalan secara normal. “Semoga badai (Covid-19) ini cepat berlalu. Kita serahkan semua kepada Tuhan. Mungkin ini teguran untuk manusia agar kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi mengakui bahwa ada kekuasaan Tuhan yang sangat melebihi kendali dan akal manusia,” tutup pegawai yang tak mau disebutkan namanya itu.

Khusus Provinsi NTT, per tanggal 22 Maret 2020, berdasarkan laporan perkembangan kasus Covid-19 jam 14:00 WITA, sebelumnya total Orang Dalam Pengawasan sebanyak 101 orang, yakni Kota Kupang 34 ODP, Lembata 2 ODP, Manggarai Barat 12 ODP, Kabupaten Kupang 2 ODP, Sikka 26 ODP,  TTS 3 ODP, Manggarai Timur 1 ODP, Flores Timur 2 ODP, Malaka 1 ODP, Alor 1 ODP, Sumba Timur 2 ODP, Belu 2 ODP, Sumba Barat Daya 7 ODP, Ende 2 ODP dan Manggarai 4 ODP. Namun, saat ini jumlah itu berkurang menjadi 80 ODP, karena saat ini Kota Kupang hanya terdapat 24 ODP dan ODP di Sikka pun ikut menurun menjadi 15 orang. Dengan demikian, maka saat ini NTT masih dikategorikan sebagai provinsi yang belum terpapar Covid- 19 atau masih negative. Kita berharap semua pihak bisa bekerja secara maksimal agar NTT bebas dari epidemi Covid-19 ini.  [rfl/ds]

Comments are closed.