(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Pekerti Undana Diikuti Peserta dari 66 Universitas di Indonesia

“Dalam pidato, saya sering katakan, karakter kebangsaan harus dimiliki anak didik kita. Kalau tidak, mereka merasa bahwa mereka tidak termasuk warga negara Indonesia, tetapi warga global. Jangan sampai mereka bisa gunakan kepintaran mereka untuk menjual bangsa ini,” tandas Rektor Undana, Prof Fred.

 

Pelatihan Peningkatan Ketrampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti) yang digelar Universitas Nusa Cendana (Undana) diikuti peserta dari 66 universitas di Indonesia. Pekerti gelombang pertama yang dilaksanakan tanggal 13 hingga 24 Agustus 2021 resmi dibuka Rektor Undana, Prof. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph. D di ruang rapat Pasca Sarjana (PPs), Jumat (13/8/2021).

Hadir secara luring, Ketua Lembaga Pembinaan, Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M), Dr. Ir. Stefanus P. Manongga, MS, Sekretaris LP3M, Ishak Tungga, SH., MH, Kabag Tata Usaha LP3M, Zamrud D. Nafie, S. Sos., M. AP, Kepala Pusat (Kapus), Manajemen Mutu, Audit Mutu dan Akreditasi, Dr. Ir. Jacob M. Ratu, M. Kes, Kapus Mata Kuliah Umum dan Mata Kuliah Penciri Undana, Dra. Jacoba Daud Niga, M.Si, dan Kapus Kode Etik, Pelatihan, Monitoring dan Evaluasi Drs. Markus Bunga, M. Sc., Agr. Sementara, para peserta Pekerti gelombang pertama maupun kedua mengikuti secara daring.

Rektor Prof. Fred dalam sambutannya menyatakan, terima kasih kepada para pimpinan LP3M dan panitia yang telah memfasilitasi kegiatan itu dengan baik. Menurutnya, tidak mudah menggelar kegiatan dengan koordinasi lintas universitas dan dengan jumlah yang sangat banyak. Karena itu, ia berharap agar kegiatan itu bisa dilaksanakan dengan baik. Hal itu dapat terwujud saat seluruh panitia, fasilitator dan peserta berperan dan bekerjasama dengan baik.

Pendidikan, Disrupsi Teknologi dan Pemimpin Berkarakter Kebangsaan

Dalam paparan materinya, Prof. Fred menyebut, beberapa waktu lalu, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Prof. Jamal Wiwoho meminta 23 rektor perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk menulis dalam sebuah buku, masing-masing dengan topik yang ditentukan. Rektor Prof. Fred diminta menulis tentang Pendidikan, Disrupsi Teknologi dan Pemimpin Berkarakter.

Ia menyatakan, saat ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbudristek) mendorong PTN maupun PTS agar menyiapkan anak didik untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (ipteks) guna mendorong daya saing bangsa Namun menurutnya, kewajiban mendidik mahasiswa menguasai ipteks adalah syarat cukupnya, tetapi syarat harusnya adalah dunia pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membentuk anak didik yang smart dalam pengetahuan iptek, tetapi juga untuk membentuk karakter. Pasalnya, perguruan tinggi bisa menciptakan output hebat yang menguasai iptek tetapi tidak memiliki karakter kebangsaan.

“Dalam pidato, saya sering katakan, karakter kebangsaan harus dimiliki anak didik kita. Kalau tidak, mereka merasa bahwa mereka tidak termasuk warga negara Indonesia, tetapi warga global. Jangan sampai mereka bisa gunakan kepintaran mereka untuk menjual bangsa ini,” tandas Rektor Undana, Prof Fred. “Kita perlu bersaing dengan bangsa-bangsa lain, tapi kita juga tidak boleh meninggalkan karakter bangsa ini dan seluruh nilai-nilai universal, demi keberhasilan pembangunan bangsa,’ tambahnya.

Nilai-nilai Universal

Nilai-nilai kemanusiaan bersifat universal menurut Dalai Lamma, ungkap Prof. Fred, yakni: Pertama, honesty, komiteman dari seluruh akademika untuk selalu berkata jujur dan mengedepankan kebenaran di atas semua pencapaian prestasi. Kedua, respect, merujuk pada komitmen elemen pendidikan untuk memahami pemberian dan kontribusi yang unik dari setiap orang dalam komunitas akademik dan untuk menghargai keragaman prespektif.

Ketiga, excellence, sebagai komitmen elemen dunia pendidikan untuk selalu memberikan tantangan kepada diri sendiri agar dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki berupa kelengkapan intelektual, sosial, emosional, phsycal, spiritual dan ethical. Keempat, compassion, yakni mendorong orang untuk peduli terhadap persoalan dan penderitaan orang lain. Menurutnya, derajat paling rendah hingga tinggi dalam tindakan sosial, yakni contagian, simpati, empati dan compassion. “Jadi compassion itu tindakan paling tinggi, tidak sekadar simpati atau empati,” paparnya.

Kelima, services, yakni mampu maksimalkan talenta dan kemampuan bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Keenam, hospitality, mengerjakan tugas dan tanggungjawab dengan semangat, tulus dan senang hati untuk membuka diri terhadap ide-ide baru terhadap semua orang. Ketujuh, integrity, yakni memberikan kekuatan kepada unsur pelayanan dan memberi tantangn untuk melihat pada tujuan program pelayanan secara holistik, sebagai suatu kesatauan dengan pelayanan lainnya.

Kedelapan, diversity, hidup dalam keberagaman orang, ide dan pandangan. “Sehingga, tidak ada yang merasa bahwa dia anak kandung di negeri ini. Kita sama-sama punya hak sebagai anak bangsa dan berkontribusi terhadap pembangunan bangsa ini. Tidak boleh ada yang merasa dia yang paling berhak ataas bangs aini,” tegas Prof. Fred. Kesembilan, learning for life, yakni mendorng untuk mengedepankan pengetahuan dan kebenaran melalui cara hidup, yang mampu meningkatkan kesadaran dan penguatan pemahaman antar satu dengan yang lain.

Disrupsi Teknologi

Rektor Undana menyebut, revolusi industry 4.0 saat ini membawa konsekuensi terharap layanan pembelajaran. Layanan yang semula masih bersifat luring, kini berpindah secara daring mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi (PT). Salah satu platform pembelajaran terkenal saat ini, yakni ruang guru. Dikatakan, anak-anak SD, ketika belajar akan masuk ke platform itu dan berselancar. Dalam aplikasi itu, semua hal yang berkaitan dengan mata pelajaran bisa ditanyakan. Dan, jawabannya akan diberikan secara lengkap dengan tutorial materinya. Hal yang sama terjadi pada SMP-PT.

“Bagi saya, anak didik saat ini sedang tidak membutuhkan kehadiran seorang guru /dosen face-to face, guru digantikan benda mati, laptop atau android. Anak didik cenderung senang berhubungan dengan benda mati karena dapat memerintah apapun tanpa ada yang membatasi,” beber Prof. Fred.

Prof. Fred menegaskan, nilai seorang makluk sosial sangat tereduksi dengan adanya tindakan anak didik yang memalingkan muka terhadap kehadiran guru di kelas. “Bagi saya, PT bertanggungjawab tidak saja untuk intelektual intelligence, tapi emosional, spiritual dan sosial, walaupun kita mendapat bobot pada peng iptek, tapi nilai-nilai universal yang berlaku sebagai manusia sisial tidak boleh tereduksi sama sekali,” paparnya.

Sementara, Ketua Panitia Pekerti Undana, Drs. Markus Bunga, M.Sc., Agr dalam sambutannya mengatakan, kegiatan Pekerti yang dilaksanakan pada gelombang pertama saat ini, akan dilanjutkan gelombang kedua pada September mendatang. Ia menjelaskan, total peserta yang mendaftar kegiatan Pekeri Undana, sebanyak 217 orang. “Kami tutup pendaftarannya karena kapasitas kami untuk melakukan pelatihan ini agak padat, karena kami juga harus selenggarakan AA,” terang Bunga.

Ia menyebut, peserta Pekerti Undana bersal dari 66 universitas, dimana peserta dari luar yang mengikuti Pekerti Undana 80,18 persen atau 174 orang dan dari Undana 43 orang atau 19,82 persen. “Peserta Pekerti gelombang pertama, kuotanya 100 peserta, tetapi ada kendala kesehatan bagi dua orang peserta, maka mereka minta undur ke gelombang ke dua. Jadi peserta pada gelombang pertama 98 orang,” pungkas Bunga. (rfl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »