(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Perjuangan Seorang Dokter Umum Mendapatkan Gelar di Tengah Pandemi

Menempuh pendidikan kedokteran banyak yang bilang tidak mudah. Selain biaya yang dikeluarkan cukup menguras, juga waktu menempuh pendidikan ini cukup panjang. Pada dasarnya, seorang calon dokter umum harus menempuh kuliah pendidikan dokter selama empat tahun untuk mendapat gelar sarjana kedokteran (S.Ked.).

Setelah meraih gelar sarjananya, seorang calon dokter akan mengambil program profesi dokter dan menjalani kegiatan co-ass selama dua tahun. Baru setelah itu seorang dokter muda akan diambil sumpah/janji untuk mendapat gelar dokter yang akan disematkan di depan nama mereka. Perjalanan yang dilalui tidaklah mudah, setiap ujian dilewati seakan mempertanyakan apakah jurusan ini memang takdir atau ternyata pilihan yang salah.

Begitupun yang dialami oleh salah satu dokter lulusan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nusa Cendana (Undana),  dr. Grace Septi Yudhanti Kerihi, S.Ked. Dokter kelahiran Kupang 13 Agustus 1996, anak kedua dari pasangan Bapak Dr.Anthon Simon Yohanis Kerihi, SE.,M.Si dan Ibu Sri Nanik, S.Pd.

Saat diwawancarai, wartawan media ini, Grace, begitu biasa disapa menyampaikan bahwa ia sangat bersyukur dapat lulus dan mendapatkan nilai tertinggi (80) pada Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter  (UKMPPD) di angkatannya.  Perjuangannya selama menempuh studi S1 dan Program Profesi Dokter (Koasistensi) di Rumah Sakit (RS) tidak mudah, sebagai seorang mahasiswa mengatur waktu.

“Jadi selama studi di RS yang dimulai bulan Maret 2018, saya harus melakukan praktik kerja lapangan di RSUD Prof Dr.W.Z.Johannes Kupang, yang menurutnya merupakan pengalaman yang menyenangkan sekaligus penuh perjuangan. Pada Maret 2020, seluruh kegiatan Koasistensi dihentikan dan dilanjutkan dengan metode daring. Pergantian metode ini cukup sulit diterima dan sempat membuat saya stres, terlebih karena seharusnya kegiatan Koasistensi dokter umum yang utama adalah kegiatan praktik, yang dengan daring praktik menjadi sangat minim. Bagi saya ini  merupakan perjuangan seorang dokter umum mendapatkan gelar di tengah pandemi,”ujar perempuan kelahiran Kupang 24 tahun silam tersebut.

Selama menempuh pendidikan di FK Undana, katanya, Grace aktif dalam kegiatan organisasi dan kegiatan ekstrakulikuler sebagai penunjang soft skill. “Saya sempat menjadi staff BEM dan Tim Bantuan Medis untuk menambah skill dan mengaplikasikan materi kuliah,” tuturnya.

Grace juga mengungkapkan  bahwa keberhasilannya hingga saat ini tidak lepas dari peran orang tua.  “Peran orang tua dan keluarga dalam menempuh pendidikan ini sangat besar, keluarga selalu menjadi penyemangat saya, tempat saya kembali dan yang selalu mempercayai saya apapun yang terjadi. Ibu dengan doa-doa baiknya untuk saya dan Bapak sebagai tempat saya bersandar,” tandasnya.

Kedepan, setelah studi dan mendapat gelar dokter umum, Grace berkeinginan untuk langsung bekerja dan bila ada kesempatan ia ingin menempuh pendidikan lanjutan. Untuk rekan-rekan yang sedang menempuh kuliah baik pada jenjang S1 maupun yang sedang menempuh Koasistensi, Grace berpesan agar tetap semangat meskipun pandemi ini membuat seluruh pembelajaran menjadi daring dan terbatas.

“Selalu maksimalkan media yang digunakan, bila kuliah tidak cukup, tambah pengetahuan dan perbarui pengetahuan dengan webinar yang saat ini banyak diselenggarakan secara gratis. Selalu kuatkan niat untuk belajar, segera selesaikan pendidikan dan lakukan yang terbaik,” ujarnya. Untuk diketahui, Grace memiliki 3 saudara kandung, pertama dokter Tieta A.P. Kerihi, S.Ked lulusan FK Undana yang saat ini sudah menjadi PNS di RSU WZ. Yohanes Kupang, kedua,  Dhini  Pasca Kerihi, mahasiswa Prodi Matematika FKIP Undana dan ketiga, Ditya Pasca Kerihi, mahasiswa Prodi FKM Undana. [ds]

Comments are closed.