(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Qlue Bidik Segmen Mahasiswa Undana

Akhir Januari lalu, beberapa orang mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Fakultas Sains dan Teknik (FST) mengikuti talkshow utama “mellenials career in digital era” yang diprakarsai oleh Business Development Manager at Qlue Smart City Jakarta, Adiya Persada. Qlue merupakan big data yang memberikan dampak positif layanan public kepada mahasiswa sebagai generasi milineal di Indonesia.

Acara tersebut digelar diruang aula lantai tiga Undana Penfui, Jumat (31/1/2020). Selain Aditya, turut hadir memberikan materi, Kepala Pusat Komputer Undana, Dr.Kalvein Rantelobo dan dari Dinas Kominfo NTT diwakili Wildrian R.Otta, S.STP.,MM.

Menurut Aditya, tema tersebut berhubungan dengan era melineal, semuanya berhubungan serba digital. Kegiatan serupa sudah dilaksanakan di Kota Kupang yang bernama Kupang Smart City. “Jadi kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan digital, karena perkembangan zaman yang mengharuskan mau tidak mau, senang atau tidak senang, generasi melineal dalam hal ini mahasiswa atau siapapun dia wajib mengetahui digital.,” katanya.

Ia menambahkan, Qlue Startup yang bergerak di bidang ekosistem Smart City menargetkan untuk menyediakan layanan ekosistem. Qlue hadir untuk membantu transformasi di berbagai instansi baik swasta maupun pemerintah dalam memanfaatkan inovasi di bidang Al dan loT untuk mempercepat perubahan positif.

Pada kesempatan itu, Aditya menyampaikan beberapa kerjasama Qlue yang dimulai di Jakarta melalui program Jakarta Smart City. Tahun 2015, melakukan kolaborasi dengan Smart City guna mengurangi titik banjir dari 2000 menjadi 450. Juga mengurangi pungutan liar hingga 45% dan 87% meningkatkan kepercayaan publik. Tahun 2016-2018, berinovasi dari aplikasi seluler dengan berbagai teknologi terkini seperti Al loT, guna melengkapi ekosistem Smart City, dan tahun 2019, bekerjasama dengan lebih dari 15 kota/kabupaten dan 50 institusi di Indonesia.

Karena itu katanya, pemerintah daerah saat ini dituntut untuk terus meningkatkan layanan publik, maka lahirlah konsep Smart City yang memanfaatkan teknologi digital. Salah satu perusahaan yang sangat conkern disektor ini adalah Qlue. Untuk menggelar solusi Smart City, startup lokal tersebut memaksimalkan pengelolaan dan analisis data. Pemanfaatan big data ini perlu disosialisasikan dikalangan mahasiswa agar bisa meningkatkan produktivitas perkuliahan.

Dr. Kalvein Rantelobo pada kesempatan itu memberikan gambaran tentang era Revolusi Industry 4.0 yang 75% pekerjaan melibatkan kemampuan sains, teknologi, Teknik dan matematika, internet of things, pembelajaran sepanjang hayat.

Menurutnya, saat ini Pendidikan tinggi menghadapi era disrupsi, dimana paradigma tridharma perguruan tinggi harus diselaraskan dengan era indistri 4.0. “Jadi tiga literasi baru yaitu digital, teknologi dan human. Kegiatan ekstrakurikuler untuk pengembangan kepemimpinan dan bekerja dalam tim. Selain itu entrepreneurship dan intership agar diwajibkan. Jadi Pendidikan tinggi menyiapkan Pendidikan sepanjang hayat,” ungkapnya.

Wildrian R.Otta menyampaikan problem salving tentang gambaran umum kelompok meliniel dengan generasi “Y” merupakan kelompok orang yang lahir setelah generasi “X” yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980-2000-an. Ini berarti generasi muda yang berumur 20-40 tahun. Meskipun beberapa siswa miliniel telah putus sekolah atau lulus di universitas dan memasuki dunia kerja. Namun, sebagian besar dari mereka masih berada didalam system Pendidikan tinggi.

“Jadi mereka yang hidup di era milenial menghabiskan 6,5 jam setiap hari untuk membaca media cetak, elektronik, digital, broadcast dan berita-berita mereka mendengarkan dan merekam musik, melihat, membuat dan mempublikasikan konten internet serta tidak ketinggalan bahkan aktif menggunakan smartphone,” ungkapnya. [ds/rfl]

Comments are closed.