(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Sejumlah Dosen Undana Jabat Pengurus PPI, Gubernur NTT: Hasil Riset Harus Bermanfaat bagi Masyarakat

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Victor Bungtilu Laiskodat, meminta agar hasil riset para peneliti atau periset di NTT, bisa bermanfaat bagi pembangunan masyarakat di Provinsi NTT.

“Hasil riset yang dilakukan para dosen dan peneliti tidak boleh disimpan dalam kampus, agar hasil riset tersebut bisa berkontribusi bagi pembangunan masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur, ” tandas Gubernur NTT saat memberi sambutan pada acara pengukuhan dan pelantikan Perhimpunan Periset Indonesia (PPI) Cabang NTT di Hotel Neo Aston Kupang, Senin (21/11/2022) siang.

Sejumlah pengurus PPI NTT yang dikukuhkan Ketua PPI, Ir. Syahrir Ika, MM, terdiri dari para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi NTT (Bappelitbangda Provinsi NTT) serta Dosen dari beberapa Perguruan Tinggi di NTT yakni Undana, Universitas Timor (Unimor), Universitas Kristen Artha Wacana, Universitas Katolik Widya Mandira, dan Universitas Muhammadiyah Kupang.

Beberapa dosen Undana yang ikut dilantik menjadi pengurus PPI NTT adalah Dosen Senior Prodi Peternakan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Ir. Jalaludin, M.Si, Dosen Pendidikan Teknik Bangunan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Dr. Paul G. Tamelan, M.Si, Dosen Prodi Agribisnis, Fakulas Pertanian, Dr. Ir. Doppy Roy Nendisa, MP, Dosen Prodi Teknik Pertambangan, Fakultas Sains dan Teknik, Dr. Herry Zadrak Kotta, ST., MT, dan beberapa dosen lainnya. Menariknya, Ir. Jalaludin, M,Si yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan Undana dipercayakan menjadi Wakil Ketua PPI Cabang NTT.

Ketua PPI, Ir. Syahrir Ika, MM saat menyematkan PIN organisasi profesi kepada Ketua PPI Cabang NTT.

Turut hadir, Rektor Undana, Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M,Sc, Rektor Universitas Timor, Dr. Ir. Stefanus Sio, MP, Staf Khusus Gubernur NTT, Anwar Pua Geno, SH, Dr. David B. W. Pandie, MS, beserta puluhan tamu undangan lainnya.

Gubernur Viktor mengatakan, peradaban sebuah bangsa itu tergantung para perisetnya. “Kalau perisetnya tidak menghasilkan hasil riset yang baik, maka provinsi atau negara itu mengalami sebuah kendala dalam pembangunan,” tandasnya.

Gubernur mengemukakan, NTT adalah provinsi yang kaya. Namun, beberapa bidang, seperti pertanian, perikanan, kelautan, peternakan, belum dikelola secara maksimal. “Misalnya, budidaya ikan kerapu, kita masih lemah. Kita juga masih mengeluarkan uang senila Rp 1 triliun untuk membeli pakan ternak dari luar,” terang Gubernur Victor.

Dari aspek pertanian, ia meminta, para periset atau peneliti melakukan penelitian tentang pohon gewang. “Pohon gewang itu harus diteliti, karena kadar gulanya rendah. Oleh karena itu, jika ingin sebuah negara atau provinsi maju, maka para peneliti harus dipekerjakan dan hasil penelitiannya harus dirasakan masyarakat,” cetus Gubernur NTT.  

“Para periset harus berkembang luar biasa, dan hasil risetnya bisa digunakan dan bermanfaat bagi pembangunan di daerah,” sambungnya.

Ia menegaskan, hasil riset tidak boleh disimpan di kampus atau perpustakaan. “Indonesia masih kalah dengan periset di negara lain. Dunia kampus dan para periset harus berubah. Melakukan riset di daerah sekitar, baik itu pertanian, peternakan, dan perikanan,” cetusnya.

Ia juga menegaskan, pembangunan di NTT harus berdasarkan hasil riset. Meski kemudian, ia juga mengakui, jika saat ini banyak orang pintar membaca dan mengingat, tetapi sulit melakukan apa yang dibaca dan diingat.

“Kendala saat ini di NTT adalah banyak orang yang pintar membaca dan mengingat. Namun, tidak mampu melakukan apa yang dibaca dan diingat, apalagi berkontribusi bagi masyarakat, ” pungkasnya.

Ketua PPI, Ir. Syahrir Ika, MM mengapresiasi pelantikan PPI NTT dihadiri Gubernur NTT, Rektor Undana, Unimor, UKAW, beserta undangan lainnya.  Ia mengatakan, pengurus PPI harus bisa menjaga profesionalisme sebagai periset, berpegang pada pedoman etika agar mampu menghasilkan karya nyata, yang bisa memberi manfaat bagi masyarakat, sekaligus akan mendapat pengakuan dan kepercayaan dari masyarakat. Ia juga menyebut, tugas PPI adalah menjaga etika, dan mampu mengadvokasi sejumlah permasalahan yang dialami periset.

“Tugas kita yaitu untuk mengadvokasi hasil riset yang tersandung kasus hukum. Tugas organisasi PPI adalah sebagai wadah dari para periset, apabila ada keluhan, kritik, ataupun usulan terkait transisi reorganisasi pasca terbentuknya BRIN, tugas baru kita ke depan adalah melaksanakan fungsi diklat yang saat ini sudah tidak ada di BRIN,” terangnya.

Pihaknya juga memohon Gubernur NTT, agar melibatkan para periset dalam perencanaan pembangunan. Sehingga perencanaan yang dihasilkan berbasis pada riset.
“Oleh karena itu, PPI harus siap menjalin sinergi antara lembaga penelitian, menjadi wadah tunggal bagi peneliti Aparatur Sipil Negara (ASN) dan peneliti non-ASN, meningkatkan integritas, etika dan perilaku peneliti, memberikan kontribusi dalam menyejajarkan kemampuan Ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya nasional dengan tingkat kemapanan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya di tingkat global,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua PPI, Evert Y. Hosang, Ph. D dalam sambutannya usai dilantik, mengaku, siap mendukung program pemerintah dengan berkontribusi bagi kemaslahatan masyarakat NTT. NTT, jelas Evert, memiliki sejumlah potensi, baik pariwisata, pertanian, perikanan, kelautan, peternakan dan lainnya, yang bisa dikembangkan bagi pembangunan NTT.

“Untuk itu, PPI NTT akan melakukan riset untuk membantu pemerintah dalam melakukan pembangunan. Kami yang sudah dikukuhkan sebagai pengurus PPI bertekad untuk berkontribusi bagi pembangunan di NTT khususnya memperbaiki kualitas hidup masyarakat NTT melalui riset,” urainya,

Lebih lanjut, Evert mengatakan, jumlah periset di NTT saat ini sangat banyak termasuk 10 peneliti di Bappelitbangda NTT.

“Jika para peneliti dari pemerintah ini bergabung dengan para dosen yang ada di seluruh perguruan tinggi di NTT, maka menjadi sebuah potensi yang sangat besar untuk berkolaborasi dalam membangun NTT. Kalau kita jumlahkan maka di NTT ini lebih dari seribu peneliti,” jelasnya.

Leih lanjut, jelas Evert, kini 20 peneliti dari NTT sudah bergabung dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) termasuk Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). “Kami para peneliti BRIN ini bekerja di salah satu kantor LAPAN yang ada di Noelbaki,” pungkasnya.(rfl)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Koleksi
Tags

Your browser doesn't support the HTML5 CANVAS tag.

Translate »