logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Strategi Hadapi Emerging dan Re-emerging Infection Diseases

  • BEM FKH Undana Gelar Seminar Nasional

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) (Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar seminar nasional himpunan program studi (Himpro) ke-V. Kegiatan itu dilaksanakan di Swiss-Belinn Kristal Hotel, Rabu (25/9), dengan topik ”Strategi Menghadapi Emerging dan Re-emerging Infection Diseases di Indonesia.

Plt. Dekan FKH, Dr.drh.Maxs U.E.Sanam, M.Sc dalam sambutannya saat membuka acara tersebut, mengapresiasi seminar yang diinisiasi BEM FKH Undana itu. Ia juga menyambut baik kehadiran para narasumber maupun peserta seminar.

Selain materi yang diberikan para narasumber, mahasiswa harus melakukan presentase oral dengan baik. Ia juga menyentil adanya demonstrasi oleh beberapa mahasiswa. “Sudah beberapa hari ini mahasiswa demo RUU KPK dan RKUHP. kita doakan semua demo berada di rel yang benar sehingga tidak merugikan mahasiswa dan bangsa” ujarnya.

Ia mengatakan, cara mengatasi adanya  emerging dan re-emerging infection diseases, adalah dengan melibatkan multidisiplin ilmu. “Jadi konsep one health itu maksudnya adalah bukan pendekatan mono disiplin, tetapi multidisiplin. Jadi semua bidang baik sosial, sosiolog, budaya dan lainnya bisa terlibat dalam mengatasi adanya emerging dan re-emerging infection diseases,” ujarnya.

Ia juga mengkritisi adanya sejumlah paper dosen yang hanya sebatas berbicara konsep, tetapi dalam tataran implementasinya tidak ada. Misalnya soal zoonosis; rabies, yang menurutnya telah lama menelan korban. Untuk itu, ia meminta agar hasil penelitian dosen dan mahasiswa harus bisa menjadi rujukan masyarakat dalam menghadapi penyakit infeksi oleh hewan. Sebab, kata dia, penyakit hewan (zoononsis) timbul, salah satunya  karena adanya kontak dan interaksi antara manusia dan hewan, sehingga memudahkan penularan penyakit yang dialami manusia ke hewan.

Plt. Dekan FKH, Dr.drh.Maxs U.E.Sanam, M.Sc saat memukul gong tanda dimulainya seminar nasional disaksikan jajaran pimpinan FKH dan narasumber.

Ketua Panitia Seminar Nasional FKH, Maria A. Novia Woi dalam laporannya mengatakan emerging infection disease (EID) merupakan penyakit yang timbul akibat patogen yang telah diketahui muncul pada suatu area geografis garu, atau patogen yang telah diketahui dan berkerabat dekat pada speseies yang tidak peka atau pathogen yang tidak diketahui sebelumnya terdeteksi pertama kali.

Sementara re-emergind infection diseases (REID) merupakan penyakit yang pernah muncul di masa lampau yang sudah mengalami penurunan tingkat kejadian, tetapi akhir-akhir ini menunjukan peningkatan insidensi, cakupan geografis atau cakupan inang. “EID dan REID lebih mengacu pada penyakit menular manusia pada hewan dengan tingkat kejadian yang meningkat dalam dua dekade terakhir atau akan menjadi ancaman peningkatan kejadian penyakit pada masa yang akan dating dan cakupan geografis yang meluas.

Ia menyatakan, salah satu faktor penyebab EID dan REID adalah gangguan ekosistem. “Gangnguan ini telah mengakibatkan perubahan komposisi ekosistem dan fungsinya. Perubahan komposisi dan fungsi ekosistem mengakibatkan perubahan keseimbangan alam khususunya predator, serta pathogen sektornya,” ujarnya.

Sementara dampak kerugian EID dan REID antara lain gangguan kesehatan bagi masyarakat (kematian), pembatasan eksport ternak dan produknya, penurunan produktifitas ternak dan manusia yang tertular, kerugian ekonomi seperti penurunan perdagangan, beban biaya pengobatan, penurunan wisatawan, serta mengganggu ketentraman manusia. Sehingga perlu tindakan pengendalian dan pemberantasan EID dan REID.

Beberapa pemateri dalam seminar nasional tersebut yakni Dr.drh. I Ketut Diarmita,MP (Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan KEMENTAN RI), drh.Sri Mukartini, M.App.Sc (Kepala Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikat Obat Hewan RI), Dr.drh.Widagdo Sri Nugroho, M. (Sekjen PB PDHI/ Dosen KM Veteriner dan Epidemologi FKH UGM). Pada siang hari, kegiatan tersebut juga  ditutup dengan gala dinner untuk mahasiswa delegasi FKH se-Indonesia. [rfl/ovan]

 

Comments are closed.