logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

08:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

Universitas Riset Dalam Bidang Lahan Kering Kepulauan

Tiga Dokter Baru Undana Dilantik

Tiga orang dokter baru Universitas Nusa Cendana (Undana), Kamis, 25 Januari 2018, dilantik dan diambil sumpahnya oleh Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Undana, dr.Bobby Koamesah,MMR.,MMPK. Mereka adalah dr. Azario D. Beeh, S.Ked, dr. Lidia N. Hudi, S.Ked dan dr. Satria Julianta Hadjo Baru, S.Ked. Pelantikan dan pengambilan sumpah dilakukan di Aula Lantai dua FK Undana  masing-masing didampingi Rohaniawan Kristen Protestan dan Kristen Katolik.

Rektor Undana, Prof. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph. D dalam sambutannya mengaku, untuk menjadi dokter bukan hal yang mudah. Namun, butuh waktu yang panjang dan biaya yang tak sedikit. Meski FK merupaka fakultas baru di Undana yang sudah menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran selama 10 tahun, namun sudah berkontribusi besar bagi kemajuan Undana. “Ketika dalam Forum Majelis Rektor Indonesia, teman-teman tanya, apakah Undana ada FK? Dengan menjawab ada saja, itu menjadi kebanggaan tersendiri,”kata Benu.

Prof. Fred Benu menuturkan, sejak Undana didirikan, ada amanat dari para pendiri, salah satunya Dekan FK yang pertama, dr.Heru Tjahyono meminta dirinya selaku rektor Undana  agar FK Undana harus diperhatikan, karena itu kini pihaknya tengah berupaya untuk memberi perhatian kepada FK, terutama dalam hal anggaran. “Karena sudah 3 tahun terakhir Pemerintah Pusat  tidak mengalokasikan anggaran dari rupiah murni (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/APBN) kepada semua Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia,” ungkapnya.

Benu merasa bersyukur karena tahun lalu, Pempus telah menggangarkan Rp 10 miliar. “Anggaran tersebut telah digunakan untuk pembangunan Rumah Sakit Undana dan klinik,” ujarnya. Dengan komitmen tinggi dalam pelayanan, meskipun APBN sudah dihentikan, Rektor masih berharap adanya dana hibah dari Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten/Kota, begitupun dengan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Undana. Tahun 2017 lalu, Undana mendapat hibah sebesar Rp 15 miliar. Sementara PNBP Undana sebesar Rp105 miliar dan ditargetkan tahun ini naik menjadi Rp 150 miliar. PNBP sebesar itu akan digunakan untuk kebutuhan pembangunan maupun pembayaran gaji pegawai negeri sipil yang ada di Undana.

Menariknya, Rektor, Prof. Fred mengaku, untuk memajukan FK, bantuan dari Jerman sebesar Rp 1,2 triliun akan diberikan kepada FK. “Ini untuk pembangunan gedung rumah sakit pendidikan Undana, juga mendorong peringkat Undana dari 82 secara nasional menjadi 76 sesuai dengan permintaan Menristekdikti,” jelasnya. Pada kesempatan tersebut, dia juga berpesan kepada dokter baru yang dilantik  agar bekerja dan melayani demi kemanusiaan karena semua arti pelayanan tersebut ditujukan kepada Tuhan.

Dekan FK dr. Bobby Koamesah dalam sambutannya mengatakan, pendidikan kedokteran harus melalui dua tahap, yakni tahap pertama adalah mendapat gelar akademik Sarjana Kedokteran selama empat atau lima tahun dan kedua menjalani pendidikan profesi selama dua tahun di Rumah Sakit. Setelah lulus, maka akan mengikuti ujian kompetensi mahasiswa program profesi dokter. Ia mengatakan, dengan penambahan tiga orang dokter ini, maka FK Undana telah menghasilkan 165 dokter. “Sebelumnya ada 10 orang yang ikut ujian kompetensi, namun yang lulus 3 orang, karena memang untuk menjadi dokter tidak mudah. Bulan depan ada 28 yang akan ikut ujian, kita harapkan mereka akan lulus juga,” ujarnya. Ia mengatakan, menempuh pendidikan dokter penuh dengan berbagai dinamika, apalagi yang sangat memberatkan itu adalah dengan biaya yang sangat mahal.

Biaya bagi mahasiswa FK Undana, menurutnya masih wajar, namun mahasiswa di universitas lain lebih mahal. “Ini luar biasa bagi keluarga yang belum beruntung secara ekonomi. Semua ini demi pengabdian kepada NTT dan bangsa,” ujarnya. Ia berpesan kepada tiga dokter terlantik agar mensyukuri peristiwa pengambilan sumpah dan pelantikan dokter. “Profesi sesungguhnya bukan tujuan, tetapi apa yang dilakukan dari profesi itu yang tujuannya. Profesi hanya langkah awal, kiprah yang sesungguhnya adalah pengabdian,” tandasnya.

Karena itu, ia mengajak dokter yang baru dilantik agar mengabdi dengan sungguh-sunggu. “Dengan demikian bukan angkat harkat dan nama baik diri sendiri dan keluarga saja, tetapi nama baik almamater Undana juga turut diantkat,” kata Koamesah. Ia mengatakan, profesi dokter sangat mulia, jika dilakukan dengan sugguh-sungguh, maka ada kepuasaan dan kebahagiaan. Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan terima kasih kepada orangtua dokter baru yang dengan berani telah mempercayakan Undana sebagai tempat menuntut ilmu bagi para dokter terlantik. Kebaranian itu sangat kami hargai,”katanya.

Perwakilan orangtua dokter terlantik, Amus S. Korinus Beeh, SP dalam sambutannya menyampaikan pesan kepada dokter terlantik agar menjadi dokter yang visioner. “Artinya mengabdikan seluruh kepasitas untuk pelayanan kepada Tuhan dan kemanusiaan,” sebutnya. Untuk menjalankan hal itu, jelas Amus, dokter terlantik harus melakukan lima misi, yaitu: Pertama, melayani dengan tulus atas masalah-masalah kemanusiaan. Kedua, layani (pasien) berdasarkan kebenaran dan ketulusan. Ketiga, melayani dengan kasih. Keempat, pelayanan mesti dipersembahkan bagi Tuhan. Kelima, menata dan mengelola kemanusiaan secara profesional.

Karena itu ia  berpesan agar dokter terlantik tidak berhenti belajar karena masalah dalam dunia pengabdian bisa menjadi bahan masukan bagi Almamater FK Undana. Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan terima kasih kepada Rektor Undana beserta jajaran, pimpinan FK Undana dan semua dosen maupun pegawai yang terlibat dalam keberhasilan tiga dokter tersebut. [rfl/ovan/ds]

2 Responses to “Tiga Dokter Baru Undana Dilantik”

Leave a Reply to admin

Click here to cancel reply.

Your email address will not be published. Required fields are marked *