(0380) 881580

info@undana.ac.id

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Undana Lepas 738 Wisudawan Secara Daring

  • Rektor Sebut Pandemi Covid-19 Sebagai Blessing in Disguise

Universitas Nusa Cendana (Undana) untuk ketiga kalinya (kembali) melaksanakan wisuda secara daring (online/virtual). Hal tersebut menyusul masih terjadinya pandemic covid-19 di Indonesia, bahkan dunia. Kedati demikian, terjadinya pandemi tersebut juga memunculkan semacam blessing in disguise (berkat tersembunyi).

“Malah bagi Undana situasi pandemic ini terjadi semacam “blessing in disguise”.  Karena semua insan akademik Undana dipaksa untuk belajar keras dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, guna dapat memberikan pelayanan akademik baik pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat,” papar Rektor Uundana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si ketika menyampaikan pidato pada wisuda Doktor, Magister, Profesi dan Sarjana Periode IV, Kamis (10/12/2020) di Aula Lama Undana.

Rektor menyebut, pada wisuda ke-115 saat ini, Undana telah mewisuda 71.094 orang wisudawan Diploma, Sarjana, Profesi, Magister dan Doktor. “Hari ini 738 orang wisudawan teridiri dari 3 orang Doktor, 33 Magister, 28 Profesi, 674 Sarjana,” ungkapnya.

Prof.Fred Benu mengungkapkan, selama masa pendemi tahun 2020 ini Undana hanya menghasilkan lulusan sebanyak 2.656 Orang dari empat periode wisuda yang dilakukan. Jumlah ini sedikit menurun dibanding jumlah lulusan pada tahun-tahun sebelum pandemic. Kendati demikian, Rektor dua periode itu mengajak mahasiswa yang mengikuti wisuda agar kembali ke tengah masyarakat guna menjadi motor penggerak dalam setiap gerak pembangunan dan secara dinamis mampu menyesuaikan diri dengan perubahan.

Terkait dengan wisuda yang masih dilaksanakan secara daring, Rektor menyebut, hal tersebut dilakukan guna menghindar dari tekanan karena pandemic covid-19. Namun, tambah Rektor dua periode itu, tidak berarti  manusia menyerah terhadap tekanan dimaksud.

Sebagai manusia yang dikaruniai kearifan oleh Tuhan, manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan situasi pandemi. Menurutnya, suka tidak suka situasi ini telah “menggiring” manusia untuk menyesuaikan diri dalam segala bentuk pelayanan. “Bapak Gubernur NTT sering mengatakan bahwa manusia yang menyerah terhadap tekanan tanpa adanya upaya keras untuk keluar dari tekanan, termasuk tekanan karena pandemic ini, adalah manusia yang tidak mempunyai harapan masa depan – manusia yang tidak berguna bagi pembangunan peradaban,” ungkapnya.

“Pada awal 2019 saya pernah memberikan pidato bahwa dunia saat ini menghadapi apa yang disebut sebagai “Digital Dictatorship”. Pada satu sisi perkembangan teknologi digitasi menawarkan begitu banyak kemudahan dan kemajuan karena kekuatan “algoritma” nya, tapi pada sisi yang lain perkembangan digitasi dimaksud juga membuat manusia semakin tertawan oleh teknologi dimaksud,” tambah Guru Besar Ekonomi Pertanian itu.

Rektor mencatat bahwa pandemic telah menggiring semua pihak, khususnya insan akademik Undana semakin menguasai teknologi digital, seiring dengan upaya Undana untuk menyediakan layanan tersistem dalam jaringan. “Baik itu layanan akademik (SIAKAD), layanan sistem perencanaan, layanan sistem keuangan (SIMKEU), layanan sistem pendapatan, layanan pendidikan/pengajaran (E-Learning system), layanan sistem penggajian remunerasi berdasarkan capaian kinerja (SIREMUN), layanan tata persuratan (Slack- infokom Undana), dsb,” jelas Guru Besar Faperta itu.

Terhadap perkembangan system informasi yang sudah dikembangkan oleh Undana saat ini, ungkap rektor, semuanya dilakukan guna mendorong adanya pelayanan yang lebih efektif, efisien, transparan dan akuntabel.

“Terlepas dari system yang sudah dibangun masih belum sempurna, Saya mencatat pula bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang ada saat ini, belumlah sebanding dengan peningkatan kinerja layanan secara signifikan,” ujarnya.

Sebagai contoh, Undana sudah memiliki SIAKAD yang terjadwal secara ketat, tapi masih banyak mahasiswa yang terlambat registrasi, tidak mecatat kredit mata kuliah dalam system, tidak memantau hasil studi dalam system, dan sebagainya. Demikian juga sebagian dosen tidak memantau perkembangan studi mahasiswa perwalian dalam system, terlambat memasukan nilai akhir, dan sebagainya. “Sistem E-learning juga masih menghadapi kendala antara lain, masih banyak dosen yang belum memahami secara baik bagaimana menggunakan sistem ini walaupun sudah dilakukan proses sosialisasi berulang dan berjenjang,” paparnya.

Pihaknya mengaku, sasih saja ada dosen yang meminta untuk kuliah tatap muka bahkan itu dilakukan di rumah pada situasi pandemic. “Sistem perencanaan juga tidak lepas dari kendala, karena masih ada saja entitas pengguna anggaran yang menyusun dokumen perencanaan tidak berbasis system, tidak paham melakukan cash-cadding terhadap indicator yang sudah dibangun, entitas pengguna anggaran juga tidak taat terhadap indikator kinerja yang sudah ditetapkan dalam dokumen dan sebagainya,” papar Prof. Fred.

Hemat Rektor, sebaik apapun perbaikan sistem layanan melalui teknologi informasi yang dibangun, tapi jika sumberdaya manusia pengguna masih memiliki mind-set yang tidak siap untuk melakukan perubahan, maka system dimaksud menjadi tidak bermakna apa-apa.

“Jadi ada semacam kesenjangan antara kesadaran berpikir untuk berubah mengikuti tuntutan perkembangan teknologi, dengan realitas perilaku manusia pengguna teknologi,” ungkapnya.

Disamping kemajuan dan kendala yang tersebutkan di atas, ia juga mengajak insan Undana untuk selalu menghindari diri dari perangkap “digital dictatorship” sebagaimana yang diungkapkannya sebelumnya. “Selain fasilitas layanan administrasi perencanaan dan keuangan yang dikembangakan saat ini di Undana, kita perlu pahami bahwa secanggih apapun sistem layanan pendidikan dan pengajaran yang telah dikembangkan melalui E-learning, tidak dapat menggantikan fungsi layanan on-side tatap muka untuk menggagas aspek koqnitif dan afektif bahkan psikomotorik peserta didik,” paparnya.

“Kecanggihan mesin pintar ini tidak mungkin menggantikan value dari human to human relationship karena dimensi psycho-social tidak mungkin diemban secara purna oleh layanan e-learning system,” tambah Rektor.

Dengan pemahaman seperti itu, Rektor mengungkapkan, Mas Menteri pendidikan dan Kebudayaan mewacanakan untuk kembali mengijinkan pelayanan pendidikan dan pengajaran secara on-side tatap muka dimulai dari tingkat sekolah dasar dan menengah pada semester genap awal 2021, untuk pada waktunya diikuti oleh pendidikan tinggi. Karena itu, Undana pun sudah harus mempersiapkan diri terhadap kebijakan kemendikbud tersebut dengan suatu tata layanan baru sesuai kehidupan “new normal” di dalam kampus.

Rektor katakan,  Undana melaui Gugus Tugas penanganan Covid-19 telah siap melakukan pelayanan sesuai standard protocol kesehatan, jika sewaktu-waktu diminta oleh Mas Menteri melakukan kuliah on-site tatap muka. Undana akan taat asas terhadap layanan pendidikan sesuai norma dan tolok ukur serta pedoman pelaksanaan akademik yang telah ditetapkan. “Perkuliahan secara on-line berjalan cukup baik, penelitian para dosen juga dapat dilakukan dengan tetap harus memenuhi tuntutan publikasi pada journal nasional maupun internasional, pengabdian masyarakat juga berjalan sebagaimana mestinya sesuai protocol penanganan Covid-19,” ungkap Rektor Fred Benu.

Ia menambahkan, semuanya harus tercatat secara baik di dalam system, untuk kemudian akan dievaluasi capaian kinerja setiap unsur tridarma dimaksud, melalui system remunerasi (SIREMUN). “Saya berharap setiap insan akademis baik tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan tetap taat azas terhadap ketentuan yang sudah ditetapkan sekalipun kita semua berada dalam situasi sulit saat ini,” imbuhnya.

Rektor memaparkan, saat ini Mas Menteri Nadiem telah menetapkan kebijakan tentang delapan indikator kinerja yang baru bagi perguruan tinggi. Salah satu tantangan terberat saat ini adalah tuntutan pemenuhan indikator kinerja untuk Program      Merdeka Belajar.

Dikatakannya, setiap mahasiswa dituntut untuk tidak hanya belajar tatap muka di dalam ruang kelas, tetapi mahasiswa juga harus dapat melaksanakan program praktek pembelajaran di luar kampus, baik di dunia swasta, pemerintahan, maupun langsung dengan masyarakat. “Praktek pembelajaran di luar program studi ini harus dapat diakui sebagai kredit mata kuliah yang syah,” sebutnya.

Sebagai upaya mengantisipasi pemenuhan tuntutan indikator kinerja dimaksud, maka saat ini Undana telah menandatangani Nota Kesepakatan dengan pemerintah provinsi NTT untuk bekerjasama mendukung berbagai program strategis di tengah masyarakat. “Dimana para mahasiswa akan terlibat secara langsung dengan indikator penilaian utama terletak pada tingkat keberhasilan pelaksanaan program dimaksud,”katanya.

Ia mengemukakan, sejumlah fakultas saat ini telah menjajaki kerja sama secara teknis dengan OPD terkait, baik menyangkut kurikulum, jumlah peserta, lama waktu, metode pelaksanaan, dan lain sebagainya. Implementasi program ini diharapkan dapat dilaksanakan pada semester genap pada awal tahun 2021. “Saya percaya dengan bekerja sama antara semua unsur baik tenaga pendidik, tenaga kependidikan, mahasiswa, pemerintah, swasta, maupun masyarakat, maka seberat apa pun tantangan yang akan hadapi di tahun yang baru nanti, kita akan mampu mengatasinya,” ujar rektor, optimistis.

Di akhir sambutannya, Rektor menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerjasama dengan baik dalam pelayanan pendidikan di Kampus Undana tercinta sepanjang tahun 2020. “Kami juga mohon maaf kepada para wisudawan dan orang tua/wali, jika sekiranya  selama dalam proses pendidikan di Undana ada kebijakan dan pelayanan yang kurang memuaskan, karena segala   keterbatasan   dan   kekhilafan    kami,” pungkasnya. [rfl/ds]

Comments are closed.
Translate »