(0380) 881580

info@undana.ac.id

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Undana Lepas 967 Wisudawan

  • Auditorium dan Rumah Sakit Pendidikan Undana Turut Diresmikan

Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali melaksanakan Wisuda Periode Pertama Februari Tahun 2021. Wisuda yang digelar hybrid – online dan onsite tersebut, Undana melepas sebanyak 967 wisudawan. Hadir pada kesempatan itu, Gubernur NTT, Victor B. Laiskodat, Ketua DPRD NTT, Ir. Emilia Nomleni, perwakilan pimpinan TNI dan Polri, pimpinan dan Anggota Senat Akademik Undana, Ketua DWP Undana, Ir.Grace Benu-Ale, Rohaniawan serta perwakilan para Orang tua/Wali.

Pada wisuda ke-123 tersebut, Undana sekaligus mencatatkan sejarah dengan meresmikan gedung Auditorium baru sekaligus Rumah Sakit Umum (RSU) Undana. Peresmian Auditorium dan RSU Undana tersebut dilakukan Gubernur NTT, Dr. Victor B. Laiskodat bersama Ketua DPRD NTT, Ir. Emilia Nomleni dan Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik L. Banu,M.Si.,Ph.D

Gubernur NTT sekaligus Ketua Dewan Penyantun Undana, Dr.Victor B. Laiskodat mengaku bahagia dengan gedung Auditorium yang dibangun Undana. “Enak ada di gedung Auditorium baru, rasanya beda. Tentunya hati saya gembira betul, bukan karena gedung baru saja, tetapi ada fasilitas yang cukup mewah untuk menunjang pendidikan di Undana,” ujarnya dalam pidato pada acara Wisuda Doktor, Magister, Profesi dan Sarjana Periode Februari 2021, Jumat (26/2). Ia berharap, usai pandemic, Undana bisa menggelar acara wisuda dan acara-acara penting agar bisa mengundang banyak orang ke Undana.

Gubernur mengungkapkan, setiap orang memiliki ukuran kebahagiaan yang berbeda-beda. Menurutnya, wisuda Undana memberi pesan bahwa agen-agen perubahan NTT semakin bertambah. Menurutnya agen-agen tersebut akan mendorong Provinsi NTT menjadi provinsi yang maju. Karena itu, ia mengajak para wisudawan agar bersama pemerintah membangun NTT, sehingga akan menjadi catatan sejarah.

Dalam pidatonya, Gubernur menegaskan, tertarik dengan seorang tokoh hebat yang ia kagumi sebagai Tuhan. “Saya mengingat seorang tokoh hebat, Tuhan Yesus. Bukan hanya dari Roti saja manusia hidup. Tetapi dari firman yang keluar dari mulut Allah. Maksudnya, manusia hidup bukan untuk makan saja, papa Gubernur.

Menurutnya, kebutuhan terbesar manusia adalah bagaimana membangun diri, kemudian membangun orang lain, termasuk membangun komunitas yg diinginkan. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Gubernur berharap Undana menjadi bagian dari rumusan ajaran Yesus dan menjadi bagian dari gerakan besar pembangunan NTT. “Undana sebagai lembaga pengajaran yang adalah bagian dari rumusan ajaran Yesus bahwa di sini akan keluar firman yang hidup, yang melatih orang untuk memiliki ilmu dan karakter yang baik. Karena output lembaga pendidikan yaitu berpengetahuan, berkelakuan baik dan berketerampilan baik,” ujarnya sambil menambahkan orang tidak makan satu minggu tidak mati, tidak minum tiga hari tidak mati. “Tapi tidak punya harapan satu menit saja mati. Kita di NTT mengabaikan bagaimana membangun harapan. Kita sering menonjolkan kekurangan kita kepada pihak luar sebagai Provinsi termiskin, lalu kita lupa menunjukkan bagaimana NTT itu indah dan hebat,” tambah Gubernur.

Ia menegaskan, saat ini para wisudawan telah menjawab harapan orangtua, namun masih banyak harapan yang harus diwujudkan setelah diwisuda. “Masih banyak harapan-harapan besar yang menunggu kita dan mampu kita wujudkan. Apakah dengan kita bicara? Tidak. Harapan harus dirumuskan dengan benar. Saya senang ada di sini, saya ingin kita menjadi bagian dari keluarga besar gerakan membangun harapan. menata masa depan NTT yang patut kita banggaka dalam segala aspek,” ujar mantan aggota DPR RI itu.

Menurutnya, salah satu ciri orang yang terus berpengharapan adalah orang yang tidak mengeluh. Sebagai contoh, papar Gubernur, saat dirinya memutuskan Kabupaten Sumba Tengah untuk area food estate, banyak masyarakat yang protes, karena daerah itu tidak memiliki air. Namun gubernur yakin tahun ini curah hujan akan tinggi. “Itu sebuah langkah karena harapan. Kabupten ini terkategori termiskin, lalu, apakah kita menerima nasip begitu saja?. Kita harus lakukan segala daya upaya, untuk mengatasi kemiskinan,” ungkapnya.

Gubernur mengajak wisudawan agar menggunakan kecerdasan, hati dan keberanian untuk membangun NTT. “Dalam system manajemen modern, kecerdasan, kepedulian dalam melayani dan mengambil resiko untuk berani menghadapi kondisi dan tantangan. Tidak ada orang penakut yang hebat. Salah satu syarat menjadi manusia adalah berani,” tandas Gubernur.

Di akhir pidatonya, gubernur menegaskan, NTT harus melahirkan orang cerdas dan peduli terhadap orang lain. “Jika pintar, tetapi tidak peduli, bisa jadi pencuri dan tamak. Harus peduli, pintar dan berani mengambil resiko atas nama kebenaran” tegasnya.

Menurutnya, jika di NTT terdapat 100 orang yang berani, maka orang akan memandang di mana NTT. “Saya harap di depan saya para wisudawan adalah mereka yang memiliki karakter, karena mereka terlahir bukan saja di lembaga pendidikan biasa, tetapi lembaga pendidikan yang mengadopsi pengajaran, bukan dari roti saja, tetapi karena firman yang keluar dari mulut Allah,” ungkap Gubernur.

Sementara itu, Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph.D dalam pidatonya mengungkapkan sejak berdiri hingga saat ini, Undana telah mewisuda 72.061 orang wisudawan terdiri dari 11. 298 orang bergelar Diploma, 57. 303 orang Sarjana, 791 akta IV dan III, 506 Profesi, 2.144 Magister dan 19 Doktor. “Hari ini 967 orang wisudawan akan mengikuti prosesi wisuda terdiri dari 1 orang Doktor, 60 Magister, 23 Profesi, 883 Sarjana, dan yang terbagi dalam 2 (dua) cluster masing-masing cluster online sebanya 921 wisudawan dan cluster onside sebanyak 48 wisudawan,” jelas Rektor dua periode itu.

Rektor, Prof. Fred Benu mengungkapkan, setelah kurang lebih setahun penuh, civitas academika Undana dibatasi ruang gerak oleh pandemi Covid-19. “Hari ini kembali kita melakukan acara wisuda pada periode pertama 2021 dengan jumlah wisudawan on-side yang sedikit lebih banyak dari empat periode sebelumnya. Walaupun kita masih melaksanakan acara wisuda secara hybrid antara on-side dan on-line, namun pada awal tahun 2021 ini, Undana berani menghadirkan jumlah wisudawan yang lebih banyak, karena kita melaksanakannya di ruang yang lebih besar – Auditorium Baru Undana dengan kapasitas lebih dari 4000 orang,” ujarnya. “Hari ini kita menghadirkan sekitar 120 orang atau kurang lebih 2.5 % dari kapasitas ruangan, tentunya dengan tetap menerapkan protocol kesehatan sebagaimana dikontrol oleh Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Undana,” tambah Rektor.

Ia mengungkapkan, dengan penuh rasa hormat kepada Gubernur selaku Ketua Dewan Penyantun, seluruh tamu undangan dan orangtua/wali, Undana menghadirkan perwakilan wisudawan terbaik dari setiap fakultas, wisudawan profesi dan pasca sarjana pada gedung baru Auditorium Undana bersama dengan seluruh wisudawan dan orangtua/wali yang mengikuti acara wisuda secara on-line, sekaligus menandai peresmian auditorium baru dan Rumah Sakit Umum Tipe C Undana, yang dilakukan oleh bapak Gubernur. Mewakili civitas akademika Undana akan meresmikan penggunaan ruang auditiroium Undana sekaligus peresmian RSU undana.

  • Pendidikan Dan Pemimpin Berkarakter Kebangsaan

Dalam pidato berjudul “Pendidikan Dan Pemimpin Berkarakter Kebangsaan”, Rektor memaparkan, pendidikan yang dijalankan saat ini seharusnya tidak hanya diarahkan untuk membetuk anak didik yang smart dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia pendidikan, kata Rektor, harus menyadari bahwa tanggungjawab pelayanan pendidikan harusnya, lebih diarahkan pada upaya pembentukan karakter anak didik.

“Anak didik kita mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi, harus memiliki karakter nilai-nilai yang bersifat universal demi keberhasilan pembangunan bangsa. Nilai-nilai universal dari dunia pendidikan harus mencakup: honesty, respect, excellence, compassion, services, hospitality, integrity, diversity dan learning for life,” jelas Rektor.

Rekor mengisahkan, dunia baru saja menyaksikan peristiwa memilukan di awal tahun 2021, dimana suatu negara yang sudah demikian majunya, baik secara ekonomi, politik, khususnya kehidupan demokrasi, meragakan suatu parodi “kedangkalan” nilai-nilai dasar pendidikan seperti yang ia sebutkan di atas. “Bagaimana mungkin negara sekaliber Amerika Serikat, yang menyebutkan diri sebagai pilar demokrasi dunia, di bawah kepemimpinan seorang Donald Trump sebagi presiden, mampu menggiring opini public para pendukungnya secara baseless, untuk meniadakan hasil pemilihan presiden yang dilakukan dengan prinsip dasar demokrasi,” ujarnya.

Menurut Prof. Fred Benu, “parodi” yang diragakan oleh Donald Trump dan para pendukungnya dengan menyerbu lambang pilar demokrasi capitol hall di Washington DC adalah kombinasi dari kedangkalan nilai-nilai dasar pendidikan yang berkarakter dari seorang pemimpin, ditunjang dengan kenyataan “technological disruption”. Kombinasi kenyataan ini membuahkan suatu tindakan yang melanggar nilai-nilai dasar demokrasi itu sendiri yaitu: “freedom, justice, law and order”. Dan Presiden Joe Biden dalam pidato Inauguration pelantikannya sebagai presiden Amerika yang ke-46 mengatakan “…. We’ll lead not merely by the example of power, but the power of example”.

“Saat ini kita tidak sedang dalam upaya untuk memberikan “judging” terhadap pelaksanaan pesta demokrasi pemilihan presiden di Amerika, apakah telah dilakukan dengan jujur, tanpa ada kecacatan. Tapi minimal kita boleh belajar bahwa jika seluruh instrument praktek demokrasi telah ditempuh untuk mencari keadikan baik melalui, Komite Pemilihan, Sidang Peradilan negara bagian, Sidang Mahkamah Agung, sampai pada keputusan persidangan House of Representative, maka seharusnya seorang pemimpin dapat menunjukkan karakter nilai yang bersifat universal -sebagai buah dari suatu proses pendidikan- untuk menerima keputusan proses demokrasi dimaksud, terlepas dari benar atau salah,” paparnya.

“Dalam kehidupan nyata, kita tidak mungkin memperoleh keputusan dari suatu proses peradilan yang benar-benar adil dan memuaskan semua pihak. Tapi itulah proses legal yang telah dilalui dengan prinsip-prinsip dasar freedom and justice, law and order,” tambah Rektor.

Nilai universal yang ia sebutkan tidak dengan sendirinya melekat pada diri seorang pemimpin. Tapi nilai itu harus ditumbuh-kembangkan dalam suatu proses pendidikan sejak dini, jika dunia pendidikan ingin memanen hasil dari proses pendidikan itu sendiri, yaitu lahirnya pemimpin-pemimpin yang memiliki karakter bagi kepentingan pembangunan peradaban suatu bangsa. “Sebaliknya jika dunia pendidikan mengabaikan upaya membangun karakte r anak didik, dan hanya menggiring anak didik untuk menguasai teknologi yang demikian maju, maka percayalah, kita hanya akan menghasilkan robot-robot pintar yang tidak memiliki karakter nilai kemanusiaan,” tandasnya. “Selanjutnya robot-robot pintar ini dapat dimanfaatkan oleh praktek social politik yang mungkin hanya diarahkan bagi kepentingan kekuasaan. Sesungguhnya, secara tidak sadar, sistem pendidikan yang kita bangun sedang melakukan praktek “nurturing a monster”,” tambah Rektor.

Ia mengungkapkan, pemimpin dapat mem-produces atau boleh dikatakan “dapat menentukan” ke arah mana komunitas yang dipimpinnya berkembang. Seorang pemimpin dapat membentuk karakter komunitas yang dipimpinnya apakah berkarakter “humanism” ataukah malah “anti-humanism”.

Novel karya Mary Shelley pada tahun 1818 ini, sengaja diangkat Rektor pada pidatonya untuk mengingatkan bahwa dunia pendidikan dapat saja mengandalkan kecanggihan penguasaan teknologi kepada anak didik, tapi jika tidak ada upaya serius secara terus menerus, untuk membentuk karakter manusia dengan nilai-nilai universalnya, maka sesungguhnya kita sedang menciptakan suatu “Monster Frankenstein”.

“Saya percaya bahwa sejak menempuh pendidikan di kampus ini, saudara-saudari memiliki harapan besar agar mampu menyelesaikan studi secara baik dan berada pada momen bahagia ini – “Wisuda”. Tentunya momen wisuda hari ini adalah bagian dari serangkaian kebahagiaan yang akan mewarnai mosaik kehidupanmu. Sebagai bagian dari the ultimate happiness, kebahagiaan saudara/saudari tidak berakhir hari ini – di sini, karena sebentar lagi saudara-saudari akan menghadapi pergumulan lainnya lagi, soal konsekuensi dari diraihnya gelar Doktor, Magister, Profesi, Sarjana dan Diploma,” jelas Rektor.

“Saya ingat pandangan Dalai Lama (Pemimpn Spiritual Tibet) dalam bukunya “The real Happiness”, bahwa tujuan utama hidup kita adalah untuk menemukan kebahagiaan. Beliau mengatakan bahwa kebahagian bersifat relatif dan tergantung bagaimana kita menyikapinya,” tandasnya. [rfl/ds].

Comments are closed.
Translate »