logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

08:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

Universitas Riset Dalam Bidang Lahan Kering Kepulauan

Undana-Tim Kemenristekditi Segera Selesaikan Masalah PDPT

  • Tak Perbarui Data, 204 Dosen Undana Tercatat Masih S1

Alumni Universitas Nusa Cendana (Undana) angkatan 2002 hingga kini boleh merasa legah, menyusul adanya upaya penyelesaian masalah data alumni serta mahasiswa Undana di Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT), Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Karena itu, pihak Biro Adm.Akademik Kemahasiswaan Perencanaan dan Sistem Informasi (BAAKPSI) Undana menghadirkan dua orang narasumber dari Kemenristekdikti guna menyampaikan materi dalam  Whorkshop dan Asistensi Pelaporan PDPT di Ruang Teater Lantai Tiga Rektorat, Undana Penfui, Rabu (31/1).

Dalam workshop tersebut tim dari Kemenristekdikti yang diwakili David Aulia Akbar Adhieputra (Kasubdit Pengelolaan PDPT Kemenristekdikti) dan  Franova Herdiyanto (Kasubbid Pengelolaan dan Publikasi PDPT Kemenristekdikti) menyebut data tahun 2002 hingga sekarang, bisa kembali diperoleh pihak Undana, jika pada saat pelaporan, dilakukan berdasarkan prosedur yang berlaku. David Aulia dalam paparanya, mengungkapkan masalah Undana pun dialami beberapa universitas di Indonesia. Ia mengatakan, masalah PDPT Undana sebenarnya butuh kedisiplinan dan  komitmen dari pimpinan dalam membangun tatakelola data berdasarkan landasan hukum, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan sistem atau aplikasi dan mempersiapkan SDM untuk mengoperasikan aplikasi yang telah dibuat dalam sistem.

Dikatakan, PDPT bukan hanya soal data mahasiswa saja, tetapi bagaimana mengintegrasikan data dengan data dari Dinas Kependudukandan dan Catatan Sipil (Dukcapil). Hal ini, katanya, untuk mengurangi penyelewengan data mahasiswa. “Disana kita bisa deteksi riwayat mahasiswa termasuk riwayat kriminalnya dan Dukcapil telah berjanji untuk membantu dalam memetakan data,” paparnya. Dikatakan, tak hanya data mahasiswa, tetapi data dosen juga perlu diintegrasikan dengan data PDPT, karena untuk kepentingan kenaikan pangkat, jabatan, golongan dan lain sebagainya. Ironisnya, ia menyebut, dosen sering meminta datanya diperbharui (up date), tetapi dosen tersebut tidak memasukan data aktivitas terbarunya kepada para operator.

David Aulia mengatakan, Kemenristekdikti telah mengeluarkan surat edaran dalam rangka penyusunan data mahasiswa maupun dosen di PDPT. Namun, katanya, persepsi setiap universitas bisa berbeda-beda, sehingga eksekusi di tingkat bawah juga tidak berjalan dengan baik. Untuk itu, ia meminta kepada para operator unit kerja masing-masing di lingkungan Undana agar melihat alur penyusunan data, dimana salah satunya adalah satu server PDPT bisa diketahui oleh internal kampus. Ia menilai sistem akademik (Siakad) yang dibangun Undana perlu diintegrasikan dengan PDPT. Adapun beberapa data yang ada di PDPT, yaitu data mahasiswa regular, non regular, jumlah mahassiswa, mahasiswa transfer, mahasiswa dengan status drop out (DO/dikeluarkan), jumlah lulusan, persasi mahasiswa dan lainnya, begitupun dengan data-data dosen.

Terkait dengan masalah jenjang di tingkat fakultas, yaitu jurusan dan prodi, dimana salah satunya akan dihilangkan, jelas David, pihaknya akan menyampaikan di tingkat pusat bulan Februari nanti soal status manajemen sumberdayanya. “Kita belum bisa tentukan sdm-nya karena fakultanya banyak, kalau di sekolah tinggi atau akademi kesehatan itu menggunakan sdm, tetapi kalau universitas hitungannya beda lagi,” tuturnya. Menyoal data mahasiswa dari tahun 2002 hingga sekarang, banyak yang tidak ada, kata dia, pelaporan masa lalu yang kurang baik sehingga data-data mahasiswa dan dosen tidak valid.

Franova Herdiyanto dalam paparannya tentang kondisi data mahasiswa dan dosen Undana di PDPT, menyebut, ada 14 ribu mahasiswa yang tercatat di PDPT dari 28 ribu lebih mahasiswa Undana. Artinya, ada sekitar 14 ribu lebih mahasiswa belum terdaftar di PDPT. Sementara ada 885 dosen tetap. Secara keseluruhan, kata dia, ada sekitar 897 dosen, termasuk yang ber-IDN, NIDK, NIP. Ironisnya, meski pihak Undana mengklam tidak memiliki dosen S1. Namun, yang tercatat di PDPT, ada sekitar 204 dosen yang masih S1, termasuk salah satu Professor di Undana, kata dia, tercatat di PDPT sebagai dosen S1. Pada hal tidak ada dosen S1 di Undana. Menurutnya, masalah itu muncul karena data-data yang ada kurang diperbaharui oleh  dosen yang bersangkutan. Karena itu, ia berharap ke depan tidak terjadi seperti itu. Dengan demikian, baik data dosen maupun mahasiswa bisa tercatat secara jelas di Siakad maupun di PDPT.

Untuk lulusan tahun sebelumnya hingga 2001, tidak perlu datang dan mencari data kemahasiswaannya di PDPT, karena Kemenritekdikti hanya mencatat data kemahasiswaan dari tahun 2002 hingga sekarang. Jika yang bersangkutan memerlukan data untuk kepentingan kenaikan pangkat, mendapat tunjangan dan lainnya bisa langsung menghubungi kampus untuk mengetahui keabsahannya, tidak seharusnya data tertera di PDPT. “Jadi kehadiran kami di Undana ini untuk membantu dan menyelesaikan masalah PDPT secara khusus supaya bisa tuntas dalam beberapa bulan kedepan. Tentu kami berharap bahwa dua bulan kedepan dengan bantuan  para IT Undana bisa berkolaborasi dengan kami dan juga kerjasama para operator ditingkat unit untuk menyelesaikan masalah PD Dikti,” katanya.

Sebelumnya, Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph.D saat membuka kegiatan tersebut mengatakan, masalah PDPT yang kini dialami Undana, juga dialami PT lain. Khusus di Undana, masalah PDPT muncul menyusul adanya pemindahan pelayanan ke sistem online atau paperless. Ia mengatakan, koordinasi dari tingkat bawah dengan tingkat rektorat belum berjalan dengan baik terkait dengan Siakad yang dibangun Undana. Ia mengaku, data kemahasiswaan Undana memang belum rampung, ada sekitar lima ribu mahasiswa yang belum tercatat di PDPT. Karena itu, ia meminta agar semua pihak bisa mendorong mahasiswa maupun alumni agar melengkapi data dan memasukan data sesuai petunjuk para operator.

Rektor, Prof. Fred Benu mengatakan, terdapat beberapa persoalan yang sangat kompleks, salah satunya adalah, ada mahasiswa yang saat mendaftar nama di program studi lain, tetapi berdasarkan kesepakatan dengan dosen atau pimpinan di tingkat fakultas, mahasiswa tersebut kuliah di program studi lain. Hal itu menurutnya, memunculkan masalah. Ia juga menyoroti pelayanan jaringan wifi di Undana yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 3 miliar per tahun. Karena itu, Rektor, Prof. Fred meminta PT. Telkomsel agar bekerja dengan baik agar pelayanan jaringan wifi bisa tersedia di Undana. Pasalnya, hal itu pun merupakan salah satu komponen penilaian Kemenristekdikti guna peningkatan status akreditasi Undana dari B ke A.  [rfl/ds]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *