(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Waspadai Perubahan Iklim, Undana Gelar Konferensi Internasional

Guna mewaspadai adanya dampak dari perubahan iklim di dunia, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar konferensi internasional dan master class. Forum yang  bertemakan “Plant Biosecurity and Biodiversity In Dryland Areas In a Time of Climate Change” (keamanan dan keanekaragaman hayati tanaman di wilayah lahan kering saat perubahan iklim) itu digelar di Hotel Swiss Bellin Kristal, Senin (18/11/2019).

Rektor Undana, Prof.Ir.Fredrik L.Benu, M.Si.,Ph.D saat membuka forum tersebut mengungkapkan rasa terima kasihnya terhadap para pembicara utama yang hadir pada saat itu, yakni Prof. Enny Sudarmonowati, Prof. Andre Drenth, Dr. Arnaud Costa, Eng Lucio Marcel Gomes dan Prof. Barry Pogson. Ia mnyebut, Undana dengan beberapa universitas di dua negara; Australia dan Timor Leste memiliki kegiatan rountable meeting, yang telah dilaksanakan 4 tahun silam.

Dalam pertemuan itu, ungkap Prof. Fred, masing-masing universitas telah menetapkan pusat keunggulan atau Centre of Excellence (CoE). Undana sendiri telah memilih lahan kering kepulauan sebagai CoE. Ditetapkan CoE karena kondisi NTT yang pada umumnya merupakan daerah kepulauan dengan lahan kering. Ia berharap CoE bisa berkontribusi bagi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim di lahan kering kepulauan. Seminar internasional tersebut diharapkan mampu menghasilkan pemikiran dan solusi alternative guna mengasi masalah lahan kering kepulauan.

Pengajar di Australian Natonal Universiti dan CRC Center for Excellence Australia, Prof. Barry Pogson dalam paparannya menegaskan kembali bahwa saat ini plante bumi sedang mengalami perubahan iklim yang sangat parah. “Perubahan perubahan iklim menghasilkan lebih dari sekedar perubahan suhu yang mengubah panjang waktu musim dan intensitas bulan,” ujarnya dalam Bahasa Inggris.

Rektor, Prof. Fred Benu, para Wakil Rektor, Dekan dan Ketua Lembaga saat foto bersama dengan para pembicara.

Ada begitu banyak bahaya perubahan iklim bagi manusia, diantaranya perubahan cuaca, perubahan perkembangan tananaman, pertumbuhan tanaman, dan perubahan keanekaragaman hayati. Perubahan-perubahan itu, menurutnya, akan lebih berpengaruh pada hasil panen. Dan itu memiliki efek buruk yang banyak terhadap beragam tanaman. Selain itu, perubahan keanekaragaman hayati juga dapat memunculkan penyakit baru terhadap hewan maupun tumbuhan.

Menurut dia, untuk tanaman kopi, pada tahun 2100 nanti, lebih dari 50 persen lahan yang digunakan untuk menanam kopi tidak akan lagi subur. Karena itu, perlu keberlanjutan lahan dan hasil pertanian yang lebih baik.

Prof. Enny Sudarmonowati dari LIPI dalam penjelasannya menyebut  biosekuriti penting untuk mencegah berkurangnya populasi spesies lokal akibat hama, penyakit, atau spesies asing invasif dari luar wilayahnya. Menurut dia, saat ini regulasi biosekuriti, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan belum memuat biosekuriti, akibatnya tidak ada lembaga khusus biosekuriti, beberapa lembaga karantina yang menerapkannya belum terintegrasi satu sama lain. Hal itu masih menunggu keputusan dari pemerintah.

Enny meminta perlu memasukkan klausul ataupun pasal tentang biosekuriti dalam Undang-Undang nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan yang direvisi. Ia berharap, ada badan yang fokus pada biosekuriti dan karantina dalam riset serta penanganan risiko untuk menghindari hilangnya spesies endemik ikan dan tumbuhan asli Indonesia. Selain itu, pengawasan tidak lagi bersifat karantina, tetapi dapat dilakukan sebelum barang tiba atau dilakukan di negara asal.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu mengaku, masalah biosekuriti belum mendapat perhatian serius di Indonesia. Dalam UU Nomor 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan belum secara spesifik menyebutkan kata biosekuriti. Padahal, negara lain sudah sangat perhatian terhadap biosekuriti dan ada Undang-Undangnya. Untuk itu, Enny menyambut baik revisi UU Nomor 16 Tahun 1992 yang akan memasukkan aturan terkait biosekuriti. Enny berharap pemerintah segera memiliki sistem terkait biosekuriti dan keamanan hayati untuk tanaman, hewan, manusia di Indonesia.

Sementara, Rektor Undana dalam paparannya menyebut, sudah lama masyarakat NTT telah hidup di daerah lahan kering kepulauan. Ia menilai, saat ini masyarakat NTT terus beradaptasi dengan perubahan iklim yang saat ini sedang terjadi. Salah satu sistim yang dilakukan sejak dahulu, dan diyakini mampu bertahan adalah dengan menaman semua jenis tanaman dalam satu buah lubang tanam.

Peserta seminar saat mangikuti pemaparan materi.

“Jadi dalam lubang tanam itu ada jagung, ubi, labu kacang dan lainnya, sehingga jika ada satu jenis tanaman mati, maka yang lainnya bisa digunakan,” ujarnya. Ia juga menyebut cara hidup masyarakat di NTT, khsususnya di Papela, Kabupaten Rote Ndao dalam menghadapi perubahan iklim maupun tragedi kilang minyak Montara yang bocor dan merusak laut mereka. Maka, sejak itu mereka melakukan pencarian ikan dan hasil laut lainnya hingga di perbatasan Negara Australia. Ia menyebut, hal itu bahkan masih berlangsung hingga kini. Isu-isu ini, kata dia, agar bisa didiskusikan dalam forum tersebut. Selain itu, adanya upaya Pemprov NTT menutup TNK Komodo dalam jangka waktu 1-2 tahun, dan menjadikan TNK sebagai wisata premium. Lalu, hal itu mempengaruhi kehidupan masyarakat lokal dalam mempertahankan kehidupan. Karena itu, masalah-masalah itu perlu dibahasa dalam forum itu.

Dalam paparan penutup Alumni Curtin University berprestasi itu menyebut, beberapa hal penting diantaranya adalah: Pertama, keanekaragaman hayati di lahan kering kepulauan Indonesia adalah unik dan memiliki peran penting bagi mata pencaharian masyarakat lokal yang sangat tergantung pada pertanian. Kedua, perubahan iklim yang mempengaruhi lahan kering terutama melalui perubahan pola curah hujan dan degradasi lahan akan berdampak buruk pada keanekaragaman hayati, biosekuriti dan mata pencaharian. Ketiga, Undana telah mendirikan laboratorium lahan kering kepulauan untuk mempromosikan orientasi ilmiah utama. Dan keempat, Undana butuh dukungan dari lembaga ilmiah di seluruh dunia untuk meningkatkan perannya dengan mengembangkan kolaborasi dalam pengajaran, penelitian dan pengabdian bagi masyarakat.

Hadir pada kesempatan itu, Wakil Rektor (Warek) Bidang Akademik, Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc, Warek Bidang Kerjasama dan Alumni, Ir. I Wayan Mudita,M.Sc.,Ph.D, para dosen dan mahasiswa Fakultas Pertanian, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Fakultas Peternakan dan Fakultas Kesehatan Masyarakat. [rfl/ds]

Comments are closed.