logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

logo

(0380) 881580

info@undana.ac.id

Jl. Adisucipto, Penfui

Kupang, NTT 85001

07:30 - 16:00

Senin s.d Jumat

Universitas Nusa Cendana

Undana Gelar Bedah Dua Buku Sekaligus Karya Dua Profesor

Dua buku karya dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) merupakan terbitan dari Penerbit Prenandamedia Group dibedah di ruang sidang lantai tiga kantor rektorat Undana Penfui, Jumat, (6/9/2019). Acara bedah buku tersebut masih dalam suasana Dies Natalis ke-57 Undana, yang dipandu oleh Dr. Hamsah Wulakada, M.Si. Buku pertama berjudul “Metodologi Penelitian Kuantitatif”, karya Prof.Ir. Fredrik L. Benu, M.Si, Ph.D dan Kakaknya (alm) Prof. Agus S. Benu,MS. Dua Guru Besar kakak-beradik ini merupakan dosen di Fakultas Pertanian (Faperta), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undana. Buku tersebut dibedah oleh mantan Wakil Rektor I, Dr. David B.W.Pandie,MS Lalu buku kedua, berjudul “Prasangka, Konflik dan Komunikasi Antarbudaya”, tulisan Prof. Dr.Aloysius Liliweri,MS, yang juga dosen senior/Guru Besar Ilmu Komunikasi FISP Undana. dibedah oleh Pdt. Dra. Lintje Bunda Pellu, Ph.D. Kegiatan bedah buku tersebut dihadiri tim Penerbit Prenanda Media Grup, Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr.drh.Maxs.U.E. Sanam,M.Sc, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Siprianus Suban Garak, M.Sc, para Dekan, dan beberapa akademisi Undana, dan sejumlah mahasiswa.

Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si, Ph. D dalam sambutannya mengatakan, kegiatan bedah buku tersebut salah satunya bertujuan untuk mendorong para dosen agar dapat menulis buku, selain menulis jurnal ilmiah. Ia mencontohkan, kesuksesan Prof. Alo Liliweri dalam menulis banyak buku harus menjadi pendorong bagi dosen lainnya di Undana agar menulis buku.

Untuk memulai menulis buku, ungkap dia, dosen harus melanjutkan bahan ajar agar dijadikan sebagai buku. Ia yakin, para dosen Undana memiliki bahan ajar, sehingga itu layak untuk dibukukan. Dirinya juga menyampaikan terima kasih kepada Penerbit Prenanda Grup yang telah menerima naskah bahan ajarnya dan berhasil dibukukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, sekitar satu bulan.

Dr.David Pandie ketika membedah buku “ Metodologi Penelitian Kuantitatif” mengungkapkan kebanggaannya terhadap dua kakak beradik – Prof. Fred L. Benu dan Prof. Agus S. Benu yang telah menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam sebuah buku. Menurutnya, dua penulis buku tersebut, meskipun berbeda latar belakang keilmuan, tetapi berhasil menulis buku. Hal itu, baginya, merupakan hal langka yang jarang ditemui di NTT, bahkan di Indonesia.

Meski berlatar belakang peneliti pada metode kualitatif, David Pandie menyebut, buku itu telah ditulis oleh kedua penulis dengan sangat baik. Isi buku dimulai dengan metode perolehan kebenaran, antara lain, metode otoritas, rasionalisme, intuisi dan ilmiah. Kemudian diikuti dengan anatomi masalah, konsep variabel, indeks dan skala. Ia juga menyebutkan, kedua penulis berhasil menyajikan gaya penulisannya masing-masing sehingga membuat penulis bisa menikmati cara mengajar kedua penulis lewat buku tersebut.

Ia juga menyatakan, buku tersebut tidak menjelaskan contoh-contoh soal secara detail, karena hal itulah yang membedahkan dengan buku metodologi penelitian kuantitatif lainnya. Sebab, ia menyebut, kedua penulis tak ingin menjelaskan contoh-contoh dalam menyelesaikan soal di dalam buku, karena hal itu dapat dilakukan oleh pelajar, bahkan di tingkat SD. Ia menyebut, buku tersebut akan dinikmati oleh mahasiwa S-2 bahkan S-3, karena kedua penulis berupaya berasumsi bahwa para mahasiswa atau dosen yang menjadikan buku ini sebagai buku pegangan, sedapat mungkin telah melewati pengetahuan dasar statistik (deskriptif) dengan baik, sehingga akan lebih mudah memahami statistik inferensial dasar sebagaimana diuraikan dalam buku itu.
Karena itu, ia juga menyarankan agar para mahasiswa atau dosen dianjurkan agar membaca beberapa buku metode/metodologi penelitian lain untuk saling melengkapi. Ia juga menyambut buku tersebut, dan mendorong agar para dosen di Undana pun terus menulis pada masa datang.

Pdt. Lintje Pellu dalam pandangannya menyebut tema besar buku “Prasangka, Konflik dan Komunikasi Antarbudaya” adalah mengenai multikulturalisme, pluralisme, etnisitas, konflik dan komunikasi antarbudaya. Hal itu, kata dia, dikemas secara sistematis, dan bernas dengan kerangka teoritis yang kuat dan data lapangan yang relevan dan signifikan dengan berbagai ilustrasi metafora yang tepat. “Keterkaitan denga sub-sub tema ikutan yang dikembangkan menjadikan kajian ini semakin lengkap, berkualitas, komperehensif dan kompleks,” ungkap Dosen UKAW Kupang itu.

Ia menyebut, substansi dan bobot ide dalam tautan konsep utama dikemas dengan rapih, sistematis, dan kaya dengan konsep teoritik yang kuat, bahasa deskripsi yang komunikatiff sehingga mudah dicernah oleh pembaca yang haus dan dahaga terhadap sebuah oase pengetahuan. Menurutnya, kemampuan Prof. Alo sangat mumpuni dan dalam kapasitas sebagai guru besar, menyajikan konsep-konsep teoritis dan abstrak dalam kreatifitas keilmuan yang begitu bertanggungjawab dan membuka jendela pengetahuan bagi para mahasiswa dan pembaca lainnya.

Meski demikian, ia menyarankan agar sebelum menjelaskan tentang nasionalisme etnik pada halaman 59 dan seterusnya diawali dengan konsep etnisitas dan nasionalisme. Sebab, Indonesia adalah contoh yang unik dari identitas etnik dan kelompok etnik dari sebuah masyarakat yang pluralis. Ia juga menyebut, meskipun belum ada data yang sistematis dan memadai mengenai konflik yang terjadi di NTT, tetapi beberapa data ahsil penelitian dan data-data pendampingan masyarakat oleh LSM lebih dari cukup untuk menjelaskan seperti apa potret konflik yang ada di NTT. Dalam konteks pluralitas di Indonesia, maka menurutnya, dialog adalah salah satu wahana untuk mencapai kerukunan untuk saling memahami untuk membangun kemitraan dengan sesama warga bangsa.

Menurutnya, konteks di Indonesia merujuk pada sebuah entitas, nasionalitas dan religuitas yang seharusnya tidak ekslusif, yang hendaknya mau menerima setiap warga dengan berbagai latar belakang etknik, agama dan budaya tanpa harus dimulai dari memahami kondisi historik dan kultural dari pendirian Indonesia sebagai NKRI. Untuk diketahui buku Metodologi Penelitian Kuantitatif (Ekonomi, Sosiologi, Komunikasi, Administrasi, Pertanian dan lainnya) merupakan buku cetakan pertama yang diterbitkan di Prenanda Media Grup. Sementara Buku “Prasangka, Konflik dan Komunikasi Antarbudaya” merupakan buku cetakan kedua di penerbit yang sama. Buku tersebut digadang-gadang sebagai “kitabnya” buku Komunikasi, sehingga semua mahasiswa dan dosen dari berbagai universitas di Indonesia diharapkan dapat membaca buku itu. Usai acara bedah buku, dilanjutkan dengan penandatangan MoU antara Undana dengan Penerbit Prenanda Media Group [rfl/ds]

Comments are closed.